Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

 Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe.


Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll. Hal ini membuat saya tidak mudah bosan dalam membacanya. Saya pun bisa menikmati setiap judulnya tanpa terburu-buru.

Nasihat-nasihat yang ditulis Geulbaewoo menurut saya juga cukup realistis. Penulis seakan ingin menekankan bahwa tidak apa-apa untuk gagal, tidak apa-apa untuk lelah dan istirahat dulu, tidak apa bila memang belum menemukan hal yang disukai, semua itu menjadi saksi bahwa kita telah berusaha. Asal kita tidak kapok buat coba lagi.

Dari banyak hal yang dibahas oleh penulis, hal yang yang paling saya ingat adalah tentang pentingnya menemukan dan menjalani sesuatu yang disukai tidak peduli dengan pendapat orang lain asal itu pilihan yang membawa kebaikan. Penulis pernah menjadi atlet taekwondo kemudian berhenti, pernah juga menjalani bisnis pakaian yang berujung berhenti pula, dan akhirnya ia memilih hal yang disukainya yaitu menjadi penulis. Orang-orang menyebutnya kurang tekun, tetapi Geulbaewoo mengabaikannya karena itu sesuatu yang disukainya.

Saya jadi ingat pengalaman hidup seorang teman. Setelah lulus SMA dia diterima di kampus dengan program beasiswa sampai lulus, dia juga diterima di kampus lain dengan jurusan yang disukainya tetapi dengan biaya pribadi. Awalnya dia memilih masuk ke kampus program beasiswa, tetapi setelah menjalani beberapa hari karena merasa kurang cocok dengan jurusannya akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari program tersebut dan melanjutkan studi di kampus dengan jurusan yang disukainya.

Orang-orang banyak yang menyayangkan pilihannya. Selain gratis, program beasiswa itu digadang memberikan menawarkan pekerjaan setalah lulus. Oang-orang juga beranggapan jurusan dari program beasiswa tersebut lebih cocok baginya sesuai gender daripada jurusan yang disukainya. Tetapi dia tetap yakin atas pilihannya. Mungkin karena seuai dengan minatnya, meskupun tidak selalu mudah, teman saya menjalani masa kuliahnya dengan lebih bahagia. Waktu berjalan dan dia pun menemukan jalan kariernya sendiri.

"Cobalah untuk melakukan banyak hal baru agar kau bisa tahu hal seperti apa yang kau sukai.
Setiap kali kau mencobanya, kau bisa fokus padanya tanpa memikirkan hal lain. Jika kau memilikinya atau sudah menemukannya, maka harga dirimu akan meningkat.
Jika ada sesuatu yang sangat kau sukai dalam hidupmu, kau akan menyukai hari-harimu. Ketika kau menyukai hari-harimu, kau juga akan menyukai hidupmu." (Hlm. 202)

Oh ya, Geulbaewoo juga mengatakan bahwa uang bukan kestabilan yang sebenarnya.

"Kemampuan menjaga kestabilan mental dalam kehidupan yang tak stabil ini, mungkin merupakan stabilitas yang sebenarnya. (Hlm. 236)

Namun, pendapat tentang pentingnya menjalani hal yang disukai bukan bertujuan untuk memojokkan orang lain yang lebih memilih bertahan pada sesuatu meskipun tidak menyukainnya ya, setiap orang punya alasan masing-masing tentang pilihan hidupnya.

#RCO10
#OneDayOnePost
#ReadingChallengeODOP10
#AntiBookShaming
#BacaBukuLegal

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela