Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Kisah Asmara dalam Novel Selamat Tinggal

 Berbicara tentang kisah cinta seakan tidak menemui tanda titik, tak ada habis-habisnya. Hampir semua novel Tere Liye (kecuali novel anak) selalu dibumbui kisah cinta di dalamnya, termasuk yang berjudul Selamat Tinggal.



Novel terbitan tahun 2020 ini memiliki tokoh utama bernama Sintong Tinggal, lelaki muda dari Sumatera yang tinggal di perantauan untuk menyelesaikan masa kuliahnya di jurusan sastra. Sambil kuliah Sintong bekerja menjadi penjaga di toko buku pamannya. Meskipun bernama Berkah, toko ini menjual buku-buku bajakan. Dalam novel ini, isu pembajakan memang menjadi fokus utama penulis. Pembaca akan disuguhi betapa kejamnya dampak dari pembajakan tersebut, sesuatu yang sering diabaikan dengan dalih ingin harga yang lebih murah.

Kisah cinta Sintong dalam novel ini menurut saya cukup menarik dan menggelitik. Meskipun tidak pernah mengalaminya sama persis, saya banyak belajar tentang dunia asmara dari Sintong. Diawali dengan hubungannya dengan Mawar Terang Bulan, seorang gadis yang disukainya selama tiga tahun di bangku SMA yang secara khusus datang mengantar Sintong saat ia hendak merantau. Bahkan Mawar Terang Bulan memberinya sesetoples kue kering yang menjadi teman perjalanan Sintong. Perlakuan khusus Mawar Terang Bulan membuat Sintong melayang, tak berhenti di situ mereka pun saling berbalas surat selama dua tahun. Amboi benar.

Meskipun berakhir tragis karena pada akhirya Mawar lebih memilih menikah dengan pariban-nya, seorang tentara dengan pangkat letnan dua, kelakuan Sintong saat jatuh cinta cukup mewakili anak muda pada umumnya. Sintong menyimpan stoples bekas kue pemberian Mawar Terang Bulan seolah menjadi barang paling berharga yang ia miliki, begitulah orang saat jatuh cinta, apa saja jadi berharga jika berasal dari pujaan hatinya. Ketika hendak menemui Mawar Terang Bulan, Sintong pun berdandan kelimis sampai-sampai inangnya mengiranya tukang kredit. Siapa yang tak ingin tampil sempurna di hadapan orang yang dicintainya. Menariknya lagi, kehadiran Mawar Terang Bulan ternyata tidak hanya sebagai masa lalu Sintong, ia dihadirkan kembali dengan konflik yang dialaminya sehingga menjadi menambah warna cerita novel Selamat Tinggal.

Ketika hampir kena drop out karena sudah hampir enam atau tujuh tahun tidak juga lulus, Sintong dipertemukan dengan dua orang gadis bernama Jess dan Bunga. Pertemuan mereka berawal saat Jess dan Bunga mampir ke toko buk yang dijaga Sintong. Meskipun ceplas-ceplos dalam berbicara, Jess menjadi seseorang yang cukup menarik bagi Sintong. Pemuda ini pun berusaha untuk mendekati Jess, meskipun itu artinya ia juga harus berhadapan dengan Bunga, sahabat Jess yang cukup menjengkelkan bagi Sintong pada awalnya.

Kehadiran Jess dan Bunga membawa perubahan yang cukup drastis bagi Sintong. Ia jadi lebih semangat menyelesaikan masa studinya, selain ini Sintong pun kembali menulis. Simpati yang diperoleh dari Jess seolah menjadi bonus bagi Sintong. Jatuh cinta memang sering menjadi sesuatu tak kasat mata yang tiba-tiba menjadi api penyulut bagi sesorang untuk memperbaiki hidupnya. Kisah cinta Sintong dalam novel ini memang tidak selalu berjalan mulus, tetapi suskes menambah gairah pembaca untuk menamatkannya.

"Bukan perasaan yang keliru, itu selalu benar. Tapi waktunya, datang diwaktu yang keliru. Tempatnya tumbuh di tempat yang salah, Tidak akan mekar tunasnya, Apalagi berbunga. Tidak."


#RCO10

#OneDayOnePost 

#ReadingChallengeODOP10

#AntiBookShaming

#BacaBukuLegal

Komentar

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela