Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Review Buku Rokat Tase'

Seseorang pernah bilang bahwa satu buku bisa mengundang buku lainnya. Bagi saya, satu cerpen pun mampu mengundang cerpen lainnya. Hal ini terbukti ketika saya membaca karya penulis perempuan yang mana salah satu tulisa5nnya pernah menjadi cerpen terbaik Kompas 2017, Muna Masyari. Rokat Tase' merupakan buku kedua karya Muna yang saya tamatkan setelah jatuh cinta dengan Martabat Kematian.




Buku ini berisi 20 cerita pendek yang kental akan unsur lokalitas dan mayoritas mengambil sudut pandang tokoh perempuan. Melalui cerita-ceritanya, penulis berusaha mengenalkan beragam budaya masyarakat Madura kepada pembaca. Dari buku ini saya mengenal tari duplang, mitos pantai Jumiyang, ragam batik Madura, apa itu nyeor pote, dsb.

Masyarakat biasanya memiliki perbedaan cara pandang dalam suatu tradisi, hal ini diangkat penulis sebagai bumbu konflik dalam ceritanya. Misalnya saja Rokat Tase', sebuah tradisi selamatan laut dengan berbagai macam sesajian. Gejolak batin dialami oleh tokoh utama yang berada di antara pertentangan suaminya yang agamais dan ayahnya yang menjunjung tradisi.

Kemudian dalam cerpen Warisan Leluhur, penulis mengisahkan tentang beda pendapat tentang tradisi karapan sapi. Yang saya kagumi dari Muna adalah pemilihan ending cerita yang terbuka, tidak memihak dalam satu kubu. Semua dibuat masuk akal dengan alasannya masing-masing. Pembaca seakan diberikan ruang untuk merenungkan hal tersebut.

Kepekaan Muna bukan hanya tentang budaya, melainkan juga isu sosial meresahkan yang tengah terjadi. Salah satunya ada dalam cerpen Gesekan Biola, sebuah cerita yang mengangkat isu kekerasan seorang murid kepada gurunya.

Hal lain yang saya sukai dari tulisan Muna adalah pemilihan diksinya yang apik, amat sayang jika tidak dinikmati setiap kalimatnya. Melalui karya Muna saya tersadar, belajar tentang budaya dan isu perempuan melalui cerita ternyata semenyenangkan ini. 

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela