Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Anomali, Memoar Seorang Penyintas Bipolar

Perlu waktu lama bagi saya menemukan buku bertema kesehatan mental untuk tantangan RCO level terakhir. Dengan dalih ingin baca novel yang tidak berat-berat amat, saya perlu ubek-ubek perpustakaan digital berhari-hari. Akhirnya buku Anomali muncul, bukan novel sih, tetapi buku nonfiksi yang dikemas dengan gaya memoar menggunakan sudut pandang orang pertama ini cukup menambah wawasan baru dan ringan untuk dinikmati.



“Pertarunganku adalah menemukan alasan untuk hidup setiap hari.”

Kalimat di atas muncul di halaman pertama dan langsung membuat saya bersemangat mengikuti kisahnya. Anomali, buku ini bercerita tentang perjalanan Elnov (penulis) dalam usahanya bertarung dengan kondisi bipolar yang dialaminya. Bipolar disorder atau gangguan bipolar dikenal juga sebagai gangguan mood.

Penderitanya atau orang dengan bipolar (ODB) merasakan mood swing atau perubahan suasana hati yang mengganggu aktivitas dan bisa mendatangkan masalah apabila tidak mendapatkan penanganan. Pada umumnya, seseorang merasakan sedih atau senang karena suatu sebab. Namun, bagi ODB perubahan mood tersebut merupakan efek adanya kelainan pada otak, yaitu ketidakseimbangan neurotransmitter, suatu zat di otak yang mengatur suasana hati. Mood swing ini dirasakan begitu sering dan tidak jelas penyebabnya. Tidak jelasnya karena seringnya rasa sedih atau senang itu tidak seharusnya membuat seseorang menjadi menangis atau bertindak tidak terkontrol. Efeknya ODB terkesan “lebay”.

Ada tiga tipe gangguan bipolar. Tipe 1 apabila ODB mengalami setidaknya satu kali episode mania di dalam dan beberapa kali episode depresi. Ketika mania, ODB akan merasa mood-nya meningkat menjadi lebih bersemangat, hiperaktif, dan senang berbicara. Jika diperhatikan lagi, suasana hati yang seperti ini akan membuat ODB menjadi mudah tersinggung, banyak ide yang berubah-ubah, mudah terdistraksi, bahkan ada juga yang mengalami gejala psikotik seperti halusinasi dan paranoid. Hingga tidak sedikit yang perlu perawatan jangka panjang, baik di rumah sakit atau berobat jalan. Biasanya bipolar tipe 1 ini akan mengalami siklus yang seperti ini terus-menerus sepanjang hidupnya.

Tipe 2, gejalanya lebih ringan dibandingkan tipe 1. Bedanya tingkatan manianya lebih rendah. Untuk tipe 2 disebut episode hipomania, bukan mania. Saat hipomania, mood yang dirasakan adalah peningkatan energi yang membuat ODB merasa dirinya menarik, produktif, dan bisa mencapai kesuksesan. Hipomania mungkin baik bagi seseorang, namun dapat menimbulkan efek yang tidak nyaman apabila kebablasan. Hipomania biasanya tidak diikuti gejala psikotik, namun tetap memerlukan treatment.

Tipe 3 adalah siklotmia. Gejala yang dialami penderitanya pada saat episode mania dan depresi hampir sama, namun tidak seburuk yang ada pada tipe 1 dan 2.

Dalam buku ini, Elnov mengatakan didiagnosa bipolar dengan tipe 2. Diagnosa ini pun tidak muncul serta merta. Perlu beberapa kali ia berkonsultasi baik dengan psikolog maupun psikiater. Awal mulanya, Elnov dikatakn mengalami depresi. Gejala yang dialaminya pun kadang seakan sembuh setelah menjalani treatment, tetapi setelah beberapa bulan muncul kembali.

Selain gangguan psikis yang dialami penulis, hal yang menurut saya cukup “parah” adalah Elnov sampai mengalami gangguan psikosomatik. Awal mulanya Elnov menyebutkan pergulatan pikirannya mulai mewujud dalam gejala fisik.

    “Suatu hari yang kelam pada 2013, kedua kakiku dingin, dadaku sesak, perutku mual, dan aku tidak mau bertemu siapa pun. Kamar yang aku tempati mendadak begitu sempit. Gelap.” (Halaman 2)

Di masa kuliah sebelumnya Elnov juga kerap sakit-sakitan. Berkali-kali ia demam yang diawali dengan rasa menggigil disertai perut kembung hingga dilarikan ke rumah sakit. Hal mencolok lainnya yaitu penulis mengalami linu di punggung atas sebelah kiri yang kemudian diketahui namanya Fibromyalgia. Penyakit ini erat kaitannya dengan psikosomatik.

    “Rasanya seperti ada besi dingin di punggungku, yang tidak bisa diobati dengan menempelkan koyok ataupun pijat. Aku bahkan pernah ke dokter saraf untuk mengobatinya, namun tidak membuahkan hasil. Aku hanya diberi obat oles penghilang rasa sakit. Aku juga pernah difoto rontgen. Hasilnya tidak tampak keanehan apu pun di punggungku. Dokter lalu mengatakan mungkin hanya salah posisi tidur.” (Halaman 109)

Beberapa sumber mengatakan bipolar disebabkan oleh multifaktor, yaitu faktor genetis, pola asuh, dan lingkungan. Elnov mengalami pola asuh dari orang tua angkatnya dalam bentuk posesif dan overprotective. Sebenarnya hal tersebut adalah wujud rasa sayang, tetapi memberikan dampak pada anak tidak memiliki ruang untuk dirinya sendiri. Tak ada tempat untuknya bertumbuh dan mengalami proses pendewasaan. Elnov juga mengalami trauma masa lalu, tentang kebenaran perihal orang tua kandungnya yang ia terima ketika masih remaja. Trauma ini bahkan memunculkan perasaan dibohongi yang disimpan lama. Ditambah lagi ketika masih sekolah Elnov sering menerima komentar yang kurang menyenangkan dari teman-temannya yang bersumber dari perbedaan agama di keluarganya. Namun, menurut psikiater yang menangani Elnov gangguan kejiwaan pasti ada unsur biologisnya.

Bagaimana usaha Elnov untuk sembuh dari bipolar?

Seperti yang sudah saya katakan di awal gejala yang dialami Elnov seakan sembuh namun kambuh lagi. Tahun 2013 Elnov memberanikan diri untuk bertemu dengan psikolog, sebenarnya ia sudah mendapatkan rujukan sejak lama namun perlu kekuatan yang lebih untuk melakukannya. Ketika gejala muncul kembali, penulis juga menemui psikiater atas rekomendasi teman mamanya. Ada banyak psikolog dan psikiater yang disebutkan oleh penulis di buku ini. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Elnov mencari jalur medis dalam usaha penyembuhannya. Sikap keterbukaan Elnov atas apa yang dialaminya terhadap keluarga maupun teman dekatnya juga cukup diacungi jempol. Seseorang kadang malas jujur atas gangguan kejiwaan yang dialami karena anggapan remeh atas permasalahan tersebut atau malah risiko stigma negatif yang dialami setelahnya.

    “Terkadang orang menganggap remeh untuk mengakhiri hidup. Padahal, orang yang berpikir mengakhiri hidup adalah orang yang membutuhkan bantuan.” (Halaman 60)

Kepiawaian Elnov dalam menulis cukup membantu. Menurut psikiaternya, ketekunan dan keberanian untuk menuliskannya adalah sesuatu yang jarang terjadi. Tak semua orang bipolar bisa menuliskannya. Begitu banyak keuntungan yang bisa didapatkan oleh seorang bipolar dengan kemampuan menulis. Sebab menulis memungkinkan ODB menciptakan jarak dengan kondisi bipolarnya. Membuatnya bisa melihat dirinya sendiri secara jernih. Naik turunnya, mood swing-nya, depresi sekaligus kebahagiaannya. Baik orang yang mengalami bipolar ataupun orang sekitarnya juga menerima manfaat dari tulisan Elnov. Sedikit banyak orang-orang jadi mengerti bagaimana rasanya mengalami kondisi psikologis yang tidak mudah dijalani.

Dalam buku ini tidak disebutkan Elnov benar-benar sembuh dari bipolar, namun ia terus berusaha untuk bisa mengendalikannya. Elnov juga mengikuti program meditasi yang mengajarinya mencapai mindfulness, here and now.

    “Meditasi ini memang belum bisa membuatku berpisah dari bipolar. Tapi paling tidak meditasi ini telah membuatku berani menghadapi kehidupan. Yang meski tidak sempurna nirwana, aku memutuskan untuk berani menghadapi semuanya.” (Halaman 153) 

#RCO9

#OneDayOnePost

#ReadingChallengeODOP9

Komentar

  1. Membaca ini saya jadi ingat kisah seorang artis. Seseorang yang mengidap bipolar memang butuh dipahami.

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela