Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Tradisi

 

Tradisi

 

Kau tak tertulis dalam pasal perundang-undangan

Kau bahkan tak ditemukan dalam kitab Tuhan

Namun, keberadaanmu lekat dalam ingatan

Entah mulut siapa yang pertama kali mengikrarkan

 

Kau diagungkan

Tak peduli jumlah rupiah yang dikeluarkan

Tak peduli rantai persaudaraan lerai berantakan

Tak peduli nasib keturunan yang dikorbankan

 

Kau adalah hukum paling menakutkan

Melanggarmu adalah kedunguan

Sekali muka tercoreng arang

Seumur hidup jadi buah bibir orang-orang

 

Keberadaanmu sebenarnya membawa kebaikan

Kau adalah simbol-simbol pengingat aturan kehidupan

Menjaga manusia dalam keteraturan

Menjadi warna-warni prosesi sakral yang tak terlupakan

 

Hanya saja manusia kadang lucu

Mereka mengistimewakan perayaanmu

Mencampakkan nurani atas nama menjagamu

Melupakan makna-makna keberadaanmu

 

Narogong, 17 Maret 2021

 

Puisi ini terinspirasi dari sebuah novel berjudul Damar Kambang, berikut identitas bukunya:

Judul    : Damar Kambang

Penulis : Muna Masyari

Tebal   : 200 Halaman

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Blurb:

Damar Kambang menyingkap tirai kusam tradisi pernikahan Madura, di mana harkat dan martabat dijunjung tinggi melebihi segalanya. Cebbhing, gadis 14 tahun dari Desa Karang Penang, menjadi tumbal tradisi pernikahan itu. Ia terjebak dalam pergulatan hidup yang disebabkan oleh keputusan-keputusan sepihak orang tuanya. Diri Cebbhing kemudian tak ubahnya seperti medan karapan sapi, tempat berbagai kekuatan magis saling bertarung dan berbenturan.


#RCO9

#OneDayOnePost

#ReadingChallengeODOP9

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela