Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Menjelajahi Keaslian Suku Sasak di Wisata Desa Sade

 

Kata jenuh sepertinya sudah dialami semua orang menghadapi pandemi ini. Protokol kesehatan yang yang harus dipatuhi, aktivitas yang serba dilakukan di rumah, komunikasi yang jarak jauh serba online, membuat saya ingin sekali travelling menikmati alam. Tak ada rotan akar pun jadi, belum boleh jalan-jalan baca buku tentang perjalanan pun jadi.

Buku yang saya baca berjudul Baby Backpacker. Buku ini berisi tentang tips perjalanan bersama buah hati yang masih bayi, mulai dari kebutuhan yang perlu dibawa, transportasi yang dipilih, penginapan, dll. Penulis menceritakan pengalaman pribadinya jalan-jalan dengan baby di berbagai tempat, mulai dari wisata laut hingga gunung. Satu destinasi yang cukup menarik bagi saya dan ingin untuk dikunjungi yaitu Lombok, tepatnya wisata Desa Sade.


Wisata Desa Sade merupakan salah satu dusun yang ada di Desa Rambitan, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Kelebihan dari tempat ini yaitu terkenal masih mempertahankan adat suku Sasak. Meski terletak di pinggir jalan raya yang mulus, tetapi penduduknya masih berpegang teguh untuk menjaga keaslian adat suku Sasak. Selain itu tempat ini dekat dari bandara, jadi tidak lelah di perjalanan untuk menuju ke sana. Hal itu membuat saya tertarik mengulas tempat ini. Syukur-syukur jadi doa semoga bisa mengunjunginya, Aamiin. 

Jika suatu hari hanya boleh mengajak satu orang untuk ke sana saya ingin mengajak suami tentunya, tetapi karena belum punya ya ganti orang dulu deh. Saya ingin mengajak sahabat saya yang sudah membersamai hampir 10 tahun. Namanya Andriani, kalau penasaran dengan orangnya baca ulasan sampai bawah ya hehe.

medcom.id

Desa Sade terletak kurang lebih 8 km dari Bandara Internasional Lombok Praya. Kalau dari arah bandara menuju Pantai Kuta, kita akan melewati tempat ini. Pantai Kuta yang dimaksud bukan yang berada di Bali ya, tetapi di Lombok. Berbeda dengan yang ada di Bali, pantai ini benar-benar sepi. Pasirnya memang kasar, tetapi memiliki pemandangan laut yang cukup cantik. Setelah dari wisata Sade boleh lah mampir ke pantai ini untuk menenangkan diri.

Di desa ini terdapat sekitar 150 rumah dengan penduduk sekitar 700 orang. Di desa ini kita akan melihat jajaran rumah khas suku Sasak, serta lumbung padi yang juga menjadi simbol budaya Lombok. Bangunan di Desa ini memiliki karakteristik yang khas arsitektur suku Sasak. Dinding dibuat dari anyaman bambu, tiang terbuat dari kayu, dilengkapi atap yang dibuat dari alang-alang kering. Lantai rumah suku Sasak terbuat dari kotoran kerbau. Konon kotoran kerbau yang dicampur dengan tanah liat dan abu jerami dapat membuat lantai menjadi keras. Ilmu ini didapat secara turun-temurun dari nenek moyang suku Sasak, cukup unik bukan?

reqnews.com


Pekerjaan utama masyarakat Sasak di Desa Sade adalah bertani dan menenun. Saat berkunjung, kita bisa melihat alat-alat tenun terpajang di bale rumah mereka. Bila kita ingin belajar menenun, dengan ramah perempuan-perempuan Sasak akan mengajarkan. Selain mengajarkan cara menenun, mereka juga akan memberitahu teknik pewarnaan secara alami. Salah satu motif tenun paling rumit adalah motif lumbung padi. Tidak semua penenun bisa membuat motif ini. Selain itu dibutuhkan ritual tertentu untuk membuatnya.

wisatadilombok.com

Selain disuguhi beraneka ragam tenunan kita juga bisa menyaksikan beberapa atraksi budaya, mulai dari permainan alat musik tradisional gendang Baleq, tari Cupak Gerantang, dan tari Presean. Di sana kita juga bisa melihat beberapa penduduk yang setiap hari masih menggunakan pakaian adat suku Sasak. Ditambah lagi, penduduk masih menggunakan peralatan tradisional untuk peralatan sehari-hari seperti pemintal kapas, alat tenun, alat pertanian, dan alat-alat keseharian lainnya. Hal ini tentu cukup mewakili suasana zaman dulu di desa tersebut. 
devacation.id

Jauh-jauh ke Lombok tidak ada salahnya sekalian wisata kuliner dong. Kuliner yang bisa dicoba di Sade adalah Ares, menu ini dipastikan selalu ada dalam setiap acara adat. Menurut penduduk lokal Desa Sade, dulunya Ares adalah santapan khusus keluarga kerajaan sebagai sayur pendamping daging sapi. Makanan tersebut disantap memakai tangan, disebut memiliki cita rasa gurih dan pedas. Sementara untuk santap ringan, ada Poteng Jaje Tujak yang terdiri dari dua sajian, yakni poteng atau tape yang dibuat dari ketan putih, dan jaje tujak yang diolah dari campuran ketan putih, ketan hitam, dan kelapa. Pembuatan poteng membutuhkan waktu sampai tiga hari, dan berkesan rasa cenderung manis. 

Sudah cukup ah ulasan tentang wisata Desa Sade, nanti makin kepengen hehe. Salam hangat dari kami yang semoga bisa ke sana suatu hari nanti.

Duit segini bisa buat ke Lombok gak ya? wkwk


Referensi:

·          Rahmania, Annisa. 2017. Baby Backpacker. Jakarta: Penerbit Bhuana Ilmu Populer.

·         Wisata Desa Sade Lombok Tengah Yang Unik: https://www.lomboktourplus.com/wisata-desa-sade-lombok-tengah/

·   Kenikmatan Wisata Kuliner Khas Suku Sasak, Lombok: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20201206105922-275-578547/kenikmatan-wisata-kuliner-khas-suku-sasak-lombok


#RCO9

#OneDayOnePost

#ReadingChallengeODOP9



Komentar

  1. Membaca artikel ini jadi pengen menjelajah Indonesia....semoga suatu saat bisa mengunjungi suku Sasak.

    BalasHapus
  2. Saya pernah ke Lombok tapi belum pernah ke wisata desa Sade. Waktu terakhir ke Flores, sempat melihat juga ada paket tour dari Bali lewat laut yang mampir di Desa ini. Cuman karena agak ngeri perjalananan lewat laut di bulan Desember, jadinya lewat udara. Jadi nggak mampir deh.
    Pas lihat cerita ini jadi mupeng

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela