Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Kelukur



Malam semakin larut, namun keriuhan seakan malas untuk surut. Malah semakin menjadi-jadi, apalagi saat penari-penari gandrung itu mulai melenggok menunjukkan kepiawaiannya. Beledu hitam dan omprok keemasan tampak pas di tubuh mereka. Entakan selendang merah menambah gairah laki-laki yang ikut berjoget bersama. Satu dua bahkan tampak mengeluarkan lembar-lembar uang untuk menyawer.

Di atas pelaminan tampak sepasang pengantin baru tersenyum sumringah menyalami tamunya satu persatu. Sesekali mata mereka tampak berkaca-kaca setelah mendengar bisikan doa-doa. Perasaan bahagia mengalahkan rasa lelah atas serangkaian adat selama prosesi pernikahan. Meja-meja tak dibiarkan kosong, teh-teh panas dan beraneka camilan segera diisi ulang ketika mulai menipis. Di bawah tarub yang dihias sedemikian megah, warga di sebuah desa Kabupaten Banyuwangi tengah berpesta.

Sementara itu di kursi belakang, seorang lelaki dengan jambang tipis duduk bermenung. Segelas teh panas di depannya dibiarkan dingin. Saat tamu lain mengajaknya bicara ia hanya menjawab secukupnya. Keramaian yang tengah terjadi seolah hanya angin lalu yang tidak terdengar di kedua telinganya.

Dengan tampang yang seperti itu, mungkin warga akan mengira Santoso tengah bermuram durja karena dialah perjaka tua terakhir yang belum juga menemukan pasangan hidupnya. Sebelumnya, Nurdin, mempelai laki-laki yang saat ini berdiri gagah di pelaminan adalah sahabat senasibnya. Namun  tidak lagi setelah akad dikrarkan maghrib tadi.

Wajahnya yang lumayan tampan dan pekerjaan tetap dengan gaji tinggi setiap bulannya cukup menjadi modal baginya meluluhkan hati wanita. Tak terhitung berapa puluh wanita yang mencoba mendekatinya, namun mereka selalu berakhir kecewa. Tak ada satupun yang menarik bagi Santoso.

Ibunya yang kian sepuh pun tak lagi berharap banyak. Berkali-kali ia mencoba menjodohkannya dengan gadis-gadis anak kenalannya. Tak jarang perempuan dengan rambut yang dipenuhi uban itu harus menanggung malu karena Santoso sering menghilang di saat hari pertemuan. Mungkin anaknya ingin hidup seorang diri selamanya.  Kecuali, mungkin jika  bersama satu-satunya gadis yang ia cintai.

Larasati namanya, seorang gadis anak dari teman seperguruan bapaknya. Dulu orang-orang kampung sangat menyegani bapak mereka. Ucapan terimakasih serta seplastik gula merah sering mereka dapatkan. Tak jarang, tengah malam pintu rumah digedor orang yang membutuhkan pertolongan.

Saat itu lumayan banyak laki-laki yang mempunyai keahlian seperti bapak Santoso, termasuk bapak Laras. Tentu saja setiap orang punya kelebihan di bidang tertentu yang menjadi ciri khasnya. Jika bapak Santoso piawai menjadi pawang hujan, bapak Laras punya keahlian suwuk untuk orang-orang sakit. Seringkali anak-anak yang tak berhenti menangis karena sawan bisa kembali tenang setelah minum segelas air putih yang telah dirapalkan doa-doa sebelumnya.

Santoso sangat bangga dengan keahlian yang dimiliki bapaknya. Tentu untuk bisa memilikinya perlu melakukan pendidikan yang panjang serta pantangan-pantangan yang tidak bisa dilakoni semua orang. Tapi itu dulu, rasa bangga berubah menjadi benci saat kejadian di tahun 1998. Orang-orang dengan julukan ninja tiba-tiba menyulut kerusuhan. Tanpa alasan yang jelas, dukun-dukun ditangkap paksa dari rumah. Anak-anak mereka sontak menjadi yatim dalam semalam. Pembunuhan yang keji menjelma luka tak termaafkan di lubuk hati orang-orang yang ditinggalkan. Termasuk Laras, bapak gadis itu menjadi salah satu korban.

Trauma tentu saja membayangi kehidupan Laras. Tapi gadis itu seolah tak ingin kalah karena takdir. Dengan tertatih ia dan ibunya kembali melanjutkan hidup. Uang belasungkawa digunakannya untuk modal berjualan kue. Setiap sore Laras berkeliling kampung menjajakannya. Gadis itu membuang jauh rasa malu, bahkan seulas senyum selalu ia hadirkan saat bertemu pembeli. Hal itu semakin memupuk benih-benih cinta Santoso muda.

“Sudahlah tak perlu bersedih begitu, kalau waktunya tiba jodohmu akan datang juga.” Seorang lelaki tiba-tiba menyeletuk membuyarkan lamunan Santoso.

“Lihat saja itu Nurdin umurnya sama kan dengan kamu 35 tahun, baru juga ketemu calon istri tahun ini,” lanjutnya karena Santoso masih bergeming. Lelaki itu adalah salah satu temannya saat sekolah dasar. Santoso hanya tersenyum tipis.

“Tapi tentu saja tetap wajib usaha, apalagi kamu laki-laki. Kalau memang cinta ya perjuangkan. Aku pamit pulang dulu ya, anakku sudah ngantuk.”

Santoso kembali mematung. Ia sebenarnya tidak kalut karena Nurdin menikah. Melainkan karena kabar yang baru saja diterimanya tadi pagi. Laras yang sudah menikah sepuluh tahun lalu itu telah bercerai dengan suaminya. Apakah ini waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya? Tapi rasa bersalah masih menghantui pikirannya. Membuatnya takut mendekati gadis itu sejak dulu. Hingga akhirnya dipinang lelaki lain. Apakah Laras akan memaafkannya jika ia mengakui perbuatannya?

Siang itu, di jalan ia bertemu Laras yang menjinjing tas hitam. Tanpa diketahui oleh gadis itu ia membuntuti. Santoso anak bandel waktu itu, selalu ingin menjahili teman-temannya. Gadis itu sesekali menoleh ke belakang, mungkin ia merasa diikuti. Santoso tertawa cekikikan di balik semak-semak. Membayangkan Laras yang was-was. 

Gadis itu berhenti di sebuah rumah yang tampak sudah lama tak dihuni di desa tetangga. Ia mengetuk pintu hati-hati. Terlihat seorang lelaki yang dikenalnya sebagai Bapak Laras keluar. Setelah menyerahkan rantang makanan yang dikeluarkan dari tas, Laras segera berlalu.

Jika saja bisa memutar waktu, Santoso tidak ingin berkeliaran malam itu. Ibunya sudah mewanti-wanti untuk sembunyi di kamar karena kondisi desa tidak aman. Ninja berkeliaran. Namuun bukan Santoso namanya jika patuh, ia tetap bermain di luar meski taka ada satu pun teman yang mau menemaninya bermain.

Tiba-tiba ia digadang segerombolan orang-orang dengan penutup wajah serba hitam. Orang-orang itu menyebutkan beberapa nama dan menanyakan alamat rumah mereka. Santoso membisu, ada nama bapaknya disebutkan. Ia semakin gemetar saat tubuhnya dicengkeram dan diancam macam-macam. Tak ada yang dikenalinya nama-nama itu, kecuali nama bapaknya dan nama seseorang. Merasa ketakutan ia memberitahu rumah kosong di kampung sebelah. Sebuah kalimat yang amat ia sesali hingga detik ini.

Tugas RCO 6 Tingkat 4

Note    : Cerita ini hanya fiktif belaka, diangkat berdasarkan latar sejarah pembantaian terhadap orang-orang yang diduga melakukan praktik ilmu hitam yang terjadi di Banyuwangi pada tahun 1998.

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela