Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela




Tidak banyak novel Asma Nadia yang menggunakan anak kecil sebagai tokoh utamanya. Hal ini membuat buku Rumah Tanpa Jendela menjadi spesial di antara novel-novel beliau lainnya. Rara, gadis berumur 9 tahun dengan rambut panjang yang memerah di bagian ujungnya karena sering terjerang matahari, manjadi tokoh utama dalam novel setebal 215 halaman ini.

Rara adalah seorang gadis yang suka berimajinasi. Ia sering menutup mata kemudian memasuki dunia indah di dalam kepalanya. Di dunia barunya Rara tak mencium bau busuk atau melihat tumpukan-tumpukan sampah di kuburan seperti yang terjadi di dunia nyata. Ibunya yang mengajari memulai perjalanan mimpi tersebut. Kebiasaan ini bahkan ia lakukan ketika di sekolah. Hanya saja pintu dunia imajinasinya akan tertutup jika gadis kecil itu sedang bersedih.

Rara tergagap. Tidak menyadari kenapa dia bisa tiba-tiba berdiri dengan kedua tangan terbentang. Sementara teman-teman lain duduk manis memerhatikan Bu Alia, guru mereka yang cantik, menerangkan sesuatu. (Hlm. 8) 

Gadis kecil yang tinggal di perkampungan kumuh ini memiliki keinginan yang unik bila dibandingkan teman-teman sebayanya. Ia ingin memiliki jendela, sesuatu yang mungkin mudah dimiliki oleh orang berada tetapi tidak untuk keluarganya. Rumahnya terbuat dari triplek dang satu pintu, berhimpitan dengan rumah-rumah lainnya. Selain itu, untuk membuat jendela tentu membutuhkan banyak biaya yang cukup berat bagi orangtuanya.

Meskipun hidup miskin Rara adalah gadis yang periang. Ia bersahabat dengan banyak teman. Ia tidak pemilih dalam berteman. Bahkan ia memperlakukan Aldo, salah seorang teamannya yang autis, dengan baik. Didikan ibunya yang telaten menjadikannya gadis yang baik.

Rara dan Aldo dalam film Rumah Tanpa Jendela

Rara juga pandai bersyukur. Ia bersyukur dilahirkan dari orangtua yang tidak kasar seperti orangtua teman-temannya.

Yang dia tahu, meski Bapak dan Ibu selalu terlihat mengerjakan sesuatu, mereka cukup sayang padanya. Tidak ada kumpulan peristiwa kekerasan tercatat di memori. Bapak dan Ibu tidak pernah memukul. Ketika lebih besar, Rara baru mensyukuri hal ini. Di antara teman-teman, mungkin tidak banyak yang seberuntung Rara. (Hlm. 13) 

Sama seperti anak kecil pada umumnya Rara juga kadang malas melakukan perintah ibunya untuk shalat, mengaji, ataupun mandi. Jika sudah malas ia melakukan hal-hal tersebut dengan cepat-cepat hanya supaya biasa menjawab ‘ya’ saat bunya bertanya.

Rara sangat sayang ibunya. Saat ibunya tengah hamil dan nyidam makan rendang, meskipun tidak ducapkan secara langsung Rara berusaha keras untuk bisa memenuhi. Ia menjadi ojek payung saat hujan, setelah uangnya terkumpul segara dibelikan rendang.

Sebuah kantong plastik hitam di tangan terasa hangat dan berbau sedap. Nasi rendang buat ibu dan adik. Akhirnya terbeli. (Hlm. 38) 

Rara gadi penurut, ia selalu mengingat nasihat ibunya. Bahkan ia pun patuh terhadap nasihat gurunya, Bu Alia.

Rara mengangguk. Mungkin karena itu doa-doanya belum dikabulkan, batin gadis itu. Dia bertekad mengingat-ingat lagi pesan Bu Alia.(Hlm. 147) 

Dari keseluruhan cerita, sifat Rara yang peling menonjol adalah ia gadis yang tabah. Berkali-kali ia diuji, mulai dari ibunya yang meninggal saat ia berusia delapan tahun, rumahnya yang kebakaran, dan lainnya. Ia tetap berusaha tegar.

Matanya berkaca-kaca. Butiran air yang mau tumpah ia tahan sekuat tenaga. Gadis kecil dengan bola mata bulat itu menggigit bibir keras-keras. Berharap dengan begitu genangan air yang siap menderas akan berhenti. Dia harus kuat, percuma menangis. Dia harus kuat. Lebih baik berdoa. Ibu dulu sering mengulang-ulang nasihat ini padanya. (Hlm. 4)

#RCO6
#Tugas2level2 

Komentar

  1. Novel dan film Rumah tanpa Jendela memang sangat inspiratif terutama untuk anak-anak seusia Rara dan Mbak Pebri menggambarkan sosok Rara dengan detail

    BalasHapus
  2. Referensi bacaan buku mbak asma nadia ya mbak ya kalai ga salah

    BalasHapus
  3. Aku belum pernah baca buku ini. Jadi mau baca juga..

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik