Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Seputar Buku Reclaim Your Heart (Bukan Review)



Buku Reclaim Your Heart ditulis oleh Yasmin Mogahed, seorang warga Amerika kelahiran Mesir. Yasmin menerima gelar BS dalam Psikologi dan Magister Jurnalisme dan Komunikasi Massa dari University of Wisconsin-Madison. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Yasmin mengajar studi Islam dan menjadi youth coordinator. Yasmin juga bekerja sebagai writing instructor di Cardinal Stritch University dan seorang kolomnis Islam section pada InFocus News. 
Buku ini diterjemahkan oleh Nadya Andwiani dan diterbitkan di Noura Books PT Mizan Publika. Ketika diminta untuk membuat tulisan tentang persamaan dan perbedaan tradisi darimana buku ini berasal dengan Indonesia, maka saya memilih untuk mengulas Amerika, karena disebutkan bahwa Yasmin adalah warga negara tersebut.
Persamaan tentang kedua negara ini yaitu sama-sama menganut asas demokrasi, saling menjunjung hak asasi manusia (HAM), serta kebebasan beragama dan rasa saling toleransi yang tinggi. Sedangkankan untuk perbedaannya tentu ada banyak. Beberapa hal yang membedakan kebiasan orang-orang Indonesia dan Amerika yaitu dalam hal belajar orang Amerika lebih memilih praktik sedangkan di Indonesia lebih cenderung ke teori. Hubungan seks di Amerika tentu lebih bebas daripada di Indonesia. Orang Amerika cenderung pakai tangan kiri saat makan sedangkan orang Indonesia pakai tangan kanan. Yang lebih menonjol, orang Amerika lebih memilih gandum atau roti sebagai makanan pokok sedangkan orang Indonesia pasti nasi selalu dicari.
Melalui buku Reclaim Your Heart saya menemukan beberapa nilai-nilai ataupun kebiasaan yang cenderung berbeda dengan mayoritas kebiasaan orang Indonesia. Namun hal ini tentu tidak bisa digeneralisasi, karena tentang pola pikir tentu saja berbeda setiap orang tidak tergantung di mana ia tinggal.
Perihal rasa hormat istri pada suami. Orang Indonesia karena saking hormatnya pada suami, biasanya istri bersikap nerimo atas perilaku suaminya. Hingga kekerasan dalam rumah tangga dianggap hal tabu jika dikomunikasikan ke orang lain. Dalam buku ini, penulis memiliki prinsip lain, bagaimanapun konsep hormat-menghormati bukan berarti membenarkan kekerasan. Bukan kesabaran namanya jika menerima pelecehan terhadap diri sendiri atau keluarga.
Tentang pengertian baik dan buruk. Umumnya orang menganggap kesuksesan seperti meraih kekayaan, jabatan, ststus sosial, adalah baik. Sedangkan kegagalan adalah hal buruk. Namun dalam buku ini penulis memiliki definisi lain, yang dimaksud baik adalah saat segala sesuatu bisa mendekatkan manusia pada Tuhannya. Sedangkan yang dimaksud buruk adalah saat segala sesuatu termasuk kesuksesan semakin menjauhkan manusia dari Tuhannya.
Mengenai pertolongan. Orang-orang biasanya meminta bantuan pada diri sendiri, keluarga, orang sekitar saat kesusahan. Lalu melatakka Tuhan sebagai tujuan terakhir setelah semua pintu tertutup. Padahal menurut penulis tidak begitu, baiknya Tuhan selalu menjadi tujuan utama. Allah sangat dekat dengan kita bahkan lebih dekat dari urat nadi. Bisa jadi Allah menutup semua pintu pertolongan dari orang lain karena di balik pintu ada turunan yang membuat kita terjatuh. Sungguh Allah mengetahui apa-apa yang baik untuk hambanya.
Untuk cara penulisan buku ini cenderung sama dengan cara penulisan buku nonfiksi karya penulis Indonesia. Digunakan metode bab per bab yang mengusung ide pokok berbeda tetapi saling berkesinambungan antar lainnya. Hanya saja dalam beberapa tulisan ditambahkan cerita yang bisa membuat pembaca lebih mudah memahami maksud yang ingin disampaikan. Hal ini sepertinya patut ditiru oleh penulis Indonesia. Secara keseluruhan buku ini mengajak pembaca untuk kembali kepada Allah, hanya Dialah sebaik-baiknya pelindung dan tak akan memberikan kecewa kepada orang-orang yang mencintai-Nya.

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela