Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Ulasan Buku Sawitri dan Tujuh Pohon Kehidupan




Judul                     : Sawitri dan Tujuh Pohon Kehidupan
Pengarang           : Mashdar Zainal
Tahun terbit       : Cetakan 1, Maret 2018
Tebal                     : 290 halaman

“Daun-daun yang terlepas dari tangkai adalah adalah keniscayaan, seperti nyawa yang terlepas dari kandung badan, seperti juga anak-anak yang terlepas dari dekapan orangtuanya ketika mereka beranjak dewasa. Setiap orang akan melewati tahap itu. Semua hanya tentang waktu.” (Hlm. 153)

Buku ini bercerita tentang kehidupan keluarga sepasang suami istri bernama Syajari dan Sawitri. Mereka memiliki kebiasaan menanam sebatang pohon untuk setiap kelahiran anak-anaknya. Karena memiliki tujuh anak maka ada tujuh pohon yang berbaris rapi di halaman mereka. Setiap pohon dinamai sesuai dengan nama putra-putrinya. Ditambah sepasang pohon alpukat yang menjadi simbol perkawinan keduanya.
Pohon pertama adalah pohon Sumaiyah, sebuah pohon mangga yang berbuah manis dan harum. Sumaiyah gadis bertubuh pendek, dengan suara yang sangat pelan. Namun dia memiliki kelebihan sangat cekatan. Sumaiyah tidak bisa melihat sesuatu yang kotor. Bagianya bila ada sampah yang berserakan maka itu adalah sebuah dosa. Meski rajin dan sangat bertanggungjawab sebagai anak sulung, nasib baik tidak selalu memihaknya. Begitulah, nasib buruk bisa menimpa siapa saja bahkan kepada orang baik.
Pohon kedua bernama Sumitrah, sebuah pohon flamboyan. Pohon itu berbunga pertama kali tepat saat usia Sumitrah tujuhbelas tahun. Berbeda dengan kakaknya, dia dianugerahi dengan paras yang sangat cantik. Sayangnya setelah lulus sekolah sebuah tragedi mengantarnya menuju dunia jenaka yang penuh teka-teki.
Subandi adalah anak lelaki pertama dalam keluarga itu. Dia diwakili oleh sebuah pohon asam. Subandi sangat malas merawat pohonnya. Bagi keluarga itu, menghadapi anak laki-laki ini butuh kesabaran yang lebih. Saat dewasa Subandi seperti menerima karma atas perilakunya di masa muda.
Pohon keempat bernama Sularsih, sebuah pohon sawo. Nasib baik berpihak pada Sularsih. Setelah lulus kuliah dia menikah dengan seorang bela negara. Gadis itu dikaruniai dua orang anak yang cukup menggemaskan.
Pohon kelima bernama Sukaisih, sebuah pohon salam. Seperti sifat pohon tersebut yang selalu menebar kebaikan lewat daun-daunnya gadis itu tumbuh dengan perangai yang mirip. Setelah menikah ia mengadopsi sepuluh orang anak.
Pohon keenam bernama Sunardi, sebuah pohon jamblang. Meskipun lelaki Sunardi sangat rajin merawat pohonnya. Dia dikaruniai kecerdasan yang luar biasa hingga membuatnya mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri.
Pohon terakhir bernama Sundari, sebuah pohon ketapang. Sebagai anak bontot Sundari sempat merasa kesepian ditinggal kakak-kakaknya. Dia adalah seorah gadis yang cukup cerewet yang pandai menulis. Sundari sering berbalas surat dengan kakaknya, Sunardi.
Kisah duka maupun bahagia terangkum dalam novel ini. Ada banyak hikmah kehidupan yang bisa dipetik di dalamnya. Apalagi tentang keluarga, orangtua, dan anak-anak. Mashdar Zainal cukup pandai mengolah diksi hingga membuat pembaca betah berlama-lama menikmatinya. Hanya saja ada beberapa kesalahan ketik, tapi hal itu tidak mengganggu bila diabaikan.

#RCO6

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela