Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Ulasan Novel I am Sarahza: Memupuk Harapan dalam Kesabaran

Judul : I am Sarahza
Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra Penerbit : Republika Penerbit Catakan/tahun terbit: Cetakan II, Juni 2018 Tebal : 370 halaman


   Novel ini mengisahkan tentang perjuangan sepasang suami istri, Hanum dan Rangga, untuk memiliki keturunan. Hanum seorang mahasiswa yang ingin segera lulus dari jurusan kuliah yang tidak disukainya yaitu Fakultas Kedokteran Gigi, sedangkan Rangga adalah seorang anggota band yang sedang melanjutkan S2 di UGM. Keduanya bertemu dalam masa kampanye jelang pilpres 2014. Setelah lima bulan perkenalan akhirnya mereka menikah. 
  Di tahun kedua pernikahan Hanum sedang menikmati masa kejayaannya sebagai presenter TV, cita-cita yang dimilikinya sejak kecil. Sementara itu Rangga mendapatkan panggilan beasiswa di Vienna. Awalnya Hanum memilih untuk tetap tinggal di Indonesia karena tidak rela melepaskan kariernya begitu saja, berkat nasihat kedua orangtuanya ia pun bersedia menyusul sang suami. 
  “Num, sekarang dengarkan kata Bapakmu. Bumi Allah itu luas, berkarya bisa di mana saja. Jadi perempuan pembahagia suami itu lebih konkret daripada apa pun yang kamu kejar sekarang ini ...” (Hlm. 63) 
   Setahun tinggal bersama di Austria, Hanum dan Rangga berharap bisa memiliki momongan, namun datang bulan selalu menghampiri. Akhirnya mereka mengikuti program inseminasi di Klinik Harapan Buah Hati, Wina. Mereka mencobanya dua kali tapi berakhir gagal. Selesai program doktoral, Rangga mendapatkan tawaran mengajar di kampus Johannes Keppler University di Linz. Selain tawaran gaji yang tinggi, ada alasan lain yaitu di Linz terdapat Pusat klinik fertilitas terbaik di Eropa. Di sana pasangan tersebut mencoba program inseminasi yang ketiga. Semua proses berjalan dengan sempurna, seharusnya terjadi pembuahan dan penempelan, tapi pada akhirnya takdir Tuhan selalu jadi jawabannya. 
   Dengan segala ilmu yang dikuasainya, hukum kimia, fisika, biologi, hingga mereka-reka, manusia hanya bisa berusaha. Sejauh apa pun kaki manusia melangkah, tidak mungkin melampaui ketetapan dan takdir Allah. (Hlm. 99)
   Tiga kali gagal inseminasi membuat Hanum terpuruk, dukungan suami membuatnya kembali bangkit, menulis menjadi tempat pelariannya. Setelah empat tahun tingal di Eropa, mereka pulang ke Jogja, Rangga mendapatkan panggilan mengajar di UGM. Bakat terpendam yang dimiliki Hanum serta suami yang ikut andil dalam riset maupun proses penjualan membuat novel pertamanya, 99 Cahaya di langit Eropa laris terjual. Di tengah kebahagiaan, orang tua Hanum mengingatkan agar tidak terbuai dengan keberhasilan tersebut dan lupa dengan keinginan untuk memiliki anak, mereka pun mencoba program bayi tabung. 
   Hanum berharap banyak pada hasil bayi tabungnya, hal itu membuatnya tidak bisa menerima kenyataan bahwa kegagalan lagi-lagi menghampirinya. Ia mengurung diri di kamar, tidak ingin diganggu oleh siapa saja bahkan suaminya sendiri. Kunjungan kedua orang tuanya menjadi obat dari kegundahannya saat itu. Di tengah kesedihan, Rangga mendapatkan tawaran novel mereka akan difilmkan. Hanum menyetujuinya, dengan tujuan menggunakan film sebagai media dakwah. 
   Film perdananya terhitung sukses, mereka meraup bonus yang besar. Sebagian dari keuntungan yang didapatkan digunakan untuk program bayi tabung sebanyak dua kali. Dalam program yang ketiga, setelah 12 hari penantian, Hanum mendapatkan kabar bahwa kadar HCG yang ia miliki 150, itu artinya dirinya hamil. Rasa syukur yang begitu besar ia haturkan, bahkan ia memberikan sejumlah uang pada para pelayan di restoran yang tengah disinggahi. Beragam perlengkapan bayi pun telah dibeli untuk menyambut buah hati. Bapaknya, Amien Rais, setelah mengetahui kabar bahagia itu melaksanakan nazarnya untuk berjalan kaki sejauh 15 kilometer. Namun saat hari pemeriksaan, dokter tidak menemukan detak jantung. Embrionya kosong, tidak ada inti di dalamnya, Blighted Ovum. 
   Setelah lima kali gagal program bayi tabung, Rangga menyarankan untuk kembali melakukan program inseminasi, dengan alasan metode ini lebih santai. Bukannya memberikan kabar baik, inseminasi keempat ini membawa petaka bagi Hanum. Terjadi kehamilan di luar rahim yang mebuat ia harus kehilangan salah satu saluran tuba miliknya. Kenyataan yang begitu pahit membuat Hanum menderita depresi, ia mulai kehilangan nafsu makan dan susah tidur, kecemasan menghantuinya setiap hari. Sosok Bapak dan suami menjadi pelipur lara. Pengorbanan seorang Ibu manjadi perantara terwujudnya sebuah harapan yang diperjuangkan dalam 11 tahun penantian. 
   Buku ini kaya akan hikmah yang patut untuk direnungkan. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang bagaimana sebaiknya sikap manusia dalam menerima ketetapan Tuhan, bagaimana seorang suami menjadi pemimpin sekaligus pasangan yang setia serta tidak menyalahkan wanita saat keturunan tidak juga menghampiri, bagaimana peran penting orang tua bagi anak-anaknya meskipun mereka sudah berumah tangga, bukti-bukti dari kekuatan sedekah, dan masih banyak lainnya. Hal terpenting yang perlu digarisbawahi yaitu ada banyak pejuang di luar sana, kita semua adalah Sarahza. 
   Penggunaan sudut pandang pertama dalam tiga tokoh yaitu Hanum, Rangga, dan Sarahza, membuat pembaca bisa semakin mendalami isi hati maupun pikiran setiap karakter. Bahasa yang digunakan pun tidak berbelit, bahkan istilah-istilah medis dijelaskan dengan apik sehingga mudah dimengerti. Novel ini juga menjadi perekat bagi beberapa novel yang telah diterbitkan oleh penulis sebelumnya. Melalui buku bersampul biru ini, pembaca akan memahami bahwa ada kerja keras dan air mata di balik kesuksesan sebuah karya. 
   Keberuntungan akan selalu berpihak pada mereka yang memelihara kesabaran. Kebahagiaan akan selalu tergoda mendatangi mereka yang bersyukur. (Hlm.348)


Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela