Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Tentang Menulis: Buku Kepenulisan yang Tidak Menyuruh Pembaca untuk Menjadi Penulis



Judul               : Tentang Menulis
Penulis             : Bernard Batubara
Penerbit           : Tanda Baca
Tahun Terbit   : Juli 2019, Cetakan Pertama
Tebal               : 76 Halaman
Genre              : Nonfiksi



 “Saya ingin menjadi penulis. Itu jelas karena pertanyaan tersebut sudah muncul di kepala saya sejak usia belia. Namun, pertanyaan yang lebih penting untuk diajukan ke diri sendiri adalah: ingin menjadi penulis yang seperti apakah saya?”


Tiga kalimat di atas dijadikan sebagai blurb yang tertulis di sampul belakang buku. Berbeda dari buku kepenulisan lain yang menjejal kalimat persuasif bahwa menulis itu mudah, menulis adalah pekerjaan yang sangat penting di dunia bahkan di kehidupan selanjutnya, menulis bisa menyembuhkan jiwa dari gundah gulana, menulis bisa menjadi salah satu jalan untuk kaya raya, atau kalimat pamungkas lain yaitu menulis akan menjadikanmu abadi. Ada benarnya memang, tetapi sebagai pembaca tentu sesuatu yang unik menjadi daya tarik tersendiri untuk menikmati.
Sesuai judulnya, buku ini berisi tentang menulis. Lebih tepatnya tentang ilmu kepenulisan yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis, Bernard Batubara. Ada 11 tulisan di dalamnya, beberapa adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sejuta umat yang diajukan untuk Bara dalam perjalanan karir menulisnya.
Bagian pertama dibuka dengan tentang kapan kita bisa menyebut seseorang sebagai penulis. Bara menjelaskan bahwa jawabannya sangat mungkin beragam, karena kriteria untuk menganggap seseorang sebagai ‘penulis’ juga beragam. Misalnya ada orang yang menulis, tapi hanya menerbitkan satu buku sehingga tidak layak disebut penulis. Ada yang menulis banyak buku, tapi bukunya dianggap kurang berkualitas sehingga dia juga tidak pantas disebut penulis. Mungkin malah ada orang yang belum menulis buku sama sekali tapi sudah pantas disebut penulis karena tulisannya sering muncul di media massa atau media sosial, dan cukup berpengaruh. Intinya, tiap orang berhak mendefinisikan arti penulis menurutnya sendiri, baik secara praktis maupun filosofis.
Selanjutnya tentang ide, rasanya hampir di setiap buku ataupun kelas kepenulisan pembahasan tentang ide tidak pernah absen. Sebuah cerita mewujud dari gagasan. Darimana asalnya gagasan? Dari berpikir. Dalam konteks menulis cerita berpikir merupakan kegiatan krusial. Namun penulis yang sudah menerbitkan 15 buku ini menyatakan bahwa sayang sekali, tidak seperti kelas menulis kreatif, kelas berpikir jarang, malah kayaknya belum pernah ada. Saya jadi teringat dengan tulisan Eka Kurniawan tentang Apa yang Harus Diajarkan di Kelas Menulis? Karena kelas berpikir jarang, Bara menyarankan untuk banyak menyadari hal- hal, berefleksi, merenung, menghubungkan keping-keping informasi menjadi pengetahuan dan mengembangkan pengetahuan menjadi wacana yang mewujud jadi gagasan. Tentu saja kita perlu berlatih secara otodidak.
Dikenal sebagai penulis fiksi terutama novel Bara sering ditanya perlunya riset dalam proses menulis. Menurut penulis kelahiran Pontianak ini, menulis fiksi bahkan bila itu pengalaman pribadi tidak membuat kita otomatis mengetahui segala hal yang dibutuhkan untuk menulis cerita. Menulis fiksi tidak hanya tentang mengarang. Kita menulis fiksi karena ingin mengalami apa yang belum pernah kita alami. Sekaligus membuat pembaca membayangkan bagaimana rasanya pembaca menjadi orang lain. Oleh karena itu riset penting untuk dilakukan. Namun perlu diketahui bahwa riset itu tidak selalu tentang penelitian yang melibatkan buku tebal, arsip sejarah , serangkaian wawancara tanpa akhir seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan. Jadi riset itu memang perlu tapi jangan sampai beban riset tersebut membuat kita terbebani berlebihan atau malah menjadikannya alasan untuk menunda proses menulis.
“Menulis haruslah menyenangkan. Jika tidak, ada cara lain yang lebih baik untuk menyiksa diri.” (Hlm.30)

            Hal lain yang tidak kalah menarik dalam buku ini yaitu pembahasan tentang platform menulis dan personal branding. Di sini Bara menyarankan beberapa platform yang dirasa cukup ideal untuk menulis sekaligus untuk ‘narsis’. Sebelumnya saya berpikir bahwa yang tulisan akan menemukan pembacanya sendiri, seolah-olah setelah menulis yang bisa dilakukan hanya pasrah, untung rugi itu urusan nanti, sok ikhlas dengan apapun yang terjadi. Tapi dalam buku ini Bara menyebutkan bahwa ternyata menjadikan buku itu ‘laris’ adalah hal yang penting. Buku yang laris tidak cuma mendatangkan uang lebih banyak ke penerbit dan penulisnya, tetapi juga berarti gagasan penulis bisa sampai ke banyak kepala. Bukankah ini impian setiap penulis? Bukankah penulis selalu percaya  bahwa dia punya sesuatu yang penting untuk disampaikan ke masyarakat, gagasan yang selayaknya virus, menjangkiti pikiran pembacanya? Artinya jika semakin laris ada kemungkinan lebih banyak yang terpengaruh bukan?

            Kenapa mau menjadi penulis? Bagian tersebut adalah bagian yang membuat saya pribadi banyak merenung. Bara bahkan menuliskan tentang reflesksi personalnya tentang alasan dan tujuannya dalam menulis. Alasan yang dikemukakan cukup unik, bahkan saya pribadi bingung bila diminta untuk memberikan alternatif kegiatan lain selain menulis. Lebih dari sekadar ‘untuk bermanfaat’ karena sejatinnya masih banyak pekerjaan lain yang juga bisa menjadikan diri ini bermanfaat.
            “Ketika saya tahu bahwa punya buku laris dan dikenal banyak orang tidak membuat saya bahagia, saya sadar keduanya bukan raison d’etre saya menulis.” (Hlm. 72)


Jujur, saya belum pernah membaca novel Bernard Batubara. Saya membeli dan membaca buku ini atas dasar percaya. Beruntung, tidak ada penyesesalan sama sekali atas berkurangnya rupiah dan waktu setelah selesai menamatkannya. Saya tidak mati kebosanan karena teori-teori kepenulisan yang dengan seenaknya sendiri menyuruh saya untuk menulis. Sayangnya buku ini cukup tipis, apalagi ukurannya hanya 12 x 18 cm. Memang pembahasan di dalamnya sudah beragam, tetapi rasanya akan menyenangkan bila halaman yang bisa dibaca lebih banyak lagi.
“Menulis tidak selesai sekali jalan. Masih ada tahap menulis ulang yang bisa terjadi berkali-kali tanpa kita tahu pasti kapan berakhirnya. Tetapi yang jelas kita tidak bisa menulis ulang, tidak bisa memperbaiki sesuatu yang jelek, jika tidak ada yang bisa diperbaiki. Naskah yang baik tentu saja adalah naskah yang ditulis dengan bagus, tapi sebaik-baiknya naskah adalah naskah yang ada. Jadi jangan kebanyakan mikir, mulai saja dulu. Tulis saja dulu.” (Hlm. 31)

Komentar

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela