Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

The Happy Prince and Other Tales

Judul           : The Happy Prince and Other Tales
Penulis        : Oscar Wilde
Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal           : 136 halaman



The Happy Prince mengisahkan tentang sebuah patung seorang pangeran yang sangat indah. Dua batu safir berkilauan sebagai matanya, tubuhnya ditutupi helaian dedaunan yang terbuat dari emas dengan hiasan batu-batu permata dan sebuah batu rubi bersinar di pangkal pedangnya. Orang-orang menyebutnya Pangeran Bahagia. The Happy Prince never dreams of crying for anything.

Pada suatu malam datang seekor burung layang-layang yang singgah untuk beristirahat, ia sebenarnya hendak menyusul teman-temannya ke Mesir. Saat merebahkan kepala, tiba-tiba setetes air jatuh di tubuhnya. Awalnya ia mengira itu hujan, cuaca di Eropa Utara memang buruk pikirnya. Namun saat tetesan ketiga burung layang-layang mendongakkan kepala, ternyata patung Pangeran Bahagia sedang menangis.

Saat ditanya penyebabnya, patung itu menjawab bahwa semasa hidupnya pangeran tidak mengenal air mata. Ia tinggal di Istana Sans Souci, saat siang hari bermain dengan teman-temannya dan malam hari diadakan pesta tari di aula istana. Di sepanjang taman dinding tinggi berdiri kokoh, ia tidak pernah bertanya apa yang ada di baliknya. Kehidupan yang sangat sempurna membuatnya selalu bahagia hingga penasehat kerajaan memanggilnya Pangeran Bahagia. Namun ketika ia sudah meninggal dan dijadikan sebagai patung yang ditempatkan pada tempat yang sangat tinggi, pangeran baru melihat penderitaan di kotanya, ia tak bisa menahan kesedihannya. Though my hearts is made of lead yet I cannot chose but weep.

Awalnya pangeran meminta tolong kepada burung layang-layang untuk memberikan batu rubi di pangkal pedangnya kepada seorang wanita penjahit yang kurus letih, anaknya sedang terbaring sakit. Burung itu pun menuruti. Pada malam selanjutnya seharusnya burung layang-layang hendak berangkat ke Mesir tetapi Pangeran meminta untuk tinggal semalam lagi, ia menyuruh burung layang-layang memberikan sebuah batu safir kepada seorang pemuda yang tidak bisa menyelesaikan naskah teaternya karena kedinginan dan tidak sanggup membeli kayu bakar maupun makanan. Malam berikutnya pangeran memaksa burung laying-layang memberikan sisa batu safir di sebelah matanya untuk gadis penjual korek api yang seluruh korek apinya jatuh ke parit dan basah, ayahnya pasti memukulinya dan marah. 
"It is curious," he remarked, "But I feel quite warm now, although it is so cold."  
"That is because you have done a good action," said the Prince. 
Kini pangeran telah buta, karena itu burung layang-layang mengurungkan niatnya untuk ke Mesir. Ia memutuskan menetap dan menemani pangeran. Atas perintah pengeran burung layang-layang terbang ke kota kemudian menceritakan apa yang dilihatnya kepada pangeran. Permintaan pangeran pun bertambah, ia meminta burung layang-layang mencabuti helai demi helai daun emas yang menutupi tubuhnya untuk diberikan kepada orang – orang miskin. Hingga kemudian patung pangeran bahagia tampak lusuh, little better than a beggar.

Selain kisah The Happy Prince masih ada enam cerita pendek lainnya dalam buku ini. The Nightangle and The Rose bercerita tentang pengorbanan burung bul-bul betina yang rela mati demi seorang lelaki muda yang sedang mencari mawar merah untuk diberikan kepada gadis yang ia cintai. The Selfish Giant mengisahkan keegoisan raksasa yang membuat musim dingin tidak pergi dari tamannya. The Devoted Friend menggambarkan sikap seorang lelaki yang begitu lihai memanfaatkan temannya yang sangat setia. The Remarkable Rocket berkisah tentang roket sombong yang akhirnya terkena imbasnya sendiri. The Sphink Without A Secret bercerita tentang seorang lelaki yang jatuh cinta pada wanita misterius. Terakhir, The Birthday of The Infanta mengisahkan tentang kemalangan seorang cebol buruk rupa yang sering ditertawakan padahal hatinya baik.

Semua cerita memiliki banyak pesan moral yang dikemas dengan suasana menyayat hati. Sikap-sikap yang diperankan oleh para tokoh seakan menggambarkan seluruh realita yang ada di kehidupan sehari-hari. Menurut saya dongeng-dongeng ini tidak cukup hanya dibaca untuk anak-anak tetapi juga orang-orang dewasa yang sebenarnya lebih butuh untuk diwaraskan.

Jika dalam dongeng ini Pangeran Bahagia yang sudah mati diberi kesempatan untuk memberikan hartanya lewat burung layang-layang, lalu bagaimana nasib kita nanti? Semoga hati kita selalu tergerak untuk berbagi sebelum ajal menghampiri. 


"Bring me the two most precious things in the city," said God to one of His Angels , and the Angel brought Him the leaden heart and the dead bird. 
"You have rightly choosen," said God, "for in my garden of Paradise this little bird shall sing for evermore, and in my city of gold the Happy Prince shall praise me.



#tantangan3
#level4
#onedayonepost
#ReadingChallengeOdop

Komentar

  1. Pernah baca cerita yang pangeran deh, tp yg lain belum. Jadi penasaran.

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela