Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Dinginnya Romansa Daerah Salju

Alasan saya memilih buku berjudul Daerah Salju karya Yasunari Kawabata sebagai bacaan buku peraih Nobel sastra pada tantangan terakhir ini adalah karena jumlah halamannya yang tidak begitu tebal (terlalu jujur). Kadang jumlah halaman saja tidak menjamin cepat atau lambatnya proses membaca, sebelumnya saya mencoba menikmati kumpulan cerpen Alice Munro (peraih Nobel sastra 2013) yang berjudul Dear Life. Satu hari hanya berhasil menyelesaikan satu judul (28 halaman) dan itu harus diulang-ulang agar paham karena gaya terjemahannya menurut saya perlu perjuangan lebih untuk dimengerti. Nah saat membaca sekilas Daerah Salju, pikiran saya mengkonfirmasi sepertinya sanggup menamatkannya jadinya saya pilih deh.



Selanjutnya yaitu karena banyak istilah Jepang di cerita ini, boleh lah sedikit-sedikit belajar bahasa Jepang. Meskipun harus bolak-balik ke halaman belakang untuk melihat terjemahan setiap katanya, tapi cukup worth it kok.

Daerah Salju mengisahkan tentang hubungan antara seorang laki-laki Tokyo yang bernama Shimamura dengan seorang wanita, Komako, di daerah salju. Di buku disebutkan daerah ini berada di bagian utara Pulau Honshu yang terletak di tepi Laut Jepang yang dalam musim dingin tertutup salju karena berlainan dengan di pantai Laut Pasifik yang hangat, pantai itu selalu diterjang angin dingin dari daratan Asia.

Tokoh lain dalam cerita adalah Yoko, gadis yang berada satu kereta bersama Shimamura, ia memiliki mata yang begitu indah. Shimamura mencuri pandang ke wajah Yoko melalui kaca jendela yang. Saat itu Yoko bersama seorang lelaki yang sedang sakit, ia bernama Yukio.

Awalnya saya sedikit jengkel karena Shimamura sudah mempunyai istri, dan Komako juga mengetahuinya. Agar bisa menikmati kisah cinta mereka saya mencoba untuk melupakan fakta tersebut saat membaca hehe.

Konflik dalam dalam cerita Daerah Salju tidak begitu muluk-muluk, masalah perasaan, tetapi berhasil memberikan kesan tersendiri. Wajar bila buku ini dikatakan sebagai roman psikologi cinta yang tak berkesudahan, memantulkan gerak-gerik kejiwaan yang peka.

Namun ada banyak ketidakjelasan dalam cerita ini. Pertama tidak jelas apakah istri Shimamura mengetahui hubungan gelap suaminya. Kedua tidak jelas apakah sebenarnya Yukio memang benar tunangan Komako, karena ada dialog yang menyatakan gadis itu membantah hal tersebut. Tetapi jika tidak lalu apa alasan ia mau bekerja sebagai Geisha demi kesembuhan Yukio? Ketiga apakah Shimamura benar-benar mencintai Komako? Lalu mengapa ia kagum dengan Yoko? Ketidak jelasan selanjutnya yaitu akhir dari hubungan Shimamura dan Komako, apakah hubungan gelap mereka terus berlanjut atau kandas di tengah jalan. Hubungan keduanya begitu semu dan dingin seperti latar ceritanya. Namun sepertinya ketidak jelasan ini yang membuat kisah ini semakin menarik dan membekas bagi pembaca.

Yasunari Kawabata sangat piawai dalam bernarasi, ia begitu detail dalam menggambarkan latar maupun suasana kejadian. Sebegitu detailnya sampai dinginnya daerah salju terasa begitu nyata bahkan saya pun terbayang serangga yang berada pada ruangannya. Selain itu ia menyuguhkan berbagai keindahan kebudayaan dan dan mitologi Jepang. Tidak diragukan lagi penulis kelahiran 1889 ini memang pantas meraih hadiah Nobel untuk kesusastraan pada tahun 1968.

#tantangan2
#level5
#ReadingChallengeODOP

#OneDayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela