Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Cerdas Memilah Pengalaman Orang lain

Anyeonghaseo ...
Rasanya sudah lama sekali tidak menulis bebas di blog, kok ada kangen-kangennya gitu ya hehe. Baiklah izinkan saya curhat ceria ya, semoga bisa diambil hikmahnya bersama.

Pernah tidak sih mendengar ucapan, “Ngapain sih sekolah tinggi-tinggi toh ujung-ujungnya di rumah juga?” (apalagi bagi perempuan). Atau kalimat yang seperti ini, “Tuh si A Cuma sekolah sampai SD (pendidikan rendah) juga bisa kaya (sukses), ngapain susah-susah kuliah.” Kalau kalimat-kalimat itu belum mendarat di telinga Anda, selamat Anda beruntung. Karena efeknya bisa bikin ngedumel sebel gimana gitu (kalo saya pribadi sih gitu). Apalagi kalau sudah ada contoh konkritnya, misalnya ada tetangga yang mengalami nasib seperti itu. Duh makin menggebu-gebu deh semangat orang jahil mencuci otak kita (kok terdengar kejam ya).

Memang sih setiap orang bebas berpendapat dan cara berpikir pun berbeda-beda. Tergantung alasan pribadi masing-masing. Misalnya saja mungkin ada yang berpikir mending uang buat biaya kuliahnya dipakai untuk wirausaha daripada kuliah susah-susah tapi salah jurusan pula, lulus bingung mau ke mana (ini pendapat seseorang yang tidak perlu saya sebutkan namanya). Nah untuk tim yang menjunjung sekolah tinggi alasannya pun macam-macam, ada yang bilang untuk melaksanakan kewajiban menuntut ilmu, demi kebaikan karier di masa depan, menambah wawasan, menambah pengalaman, merubah pola pikir, atau mungkin ada yang beralasan untuk mencari jodoh (eh kalo ini bonus kali ya).

Khusus bagi perempuan ada pendapat tambahan nih, ada yang bilang perempuan itu madrasah pertama bagi anaknya makanya harus banyak belajar. Atau perempuan berpendidikan tinggi bukan untuk mengungguli suami tapi untuk membangun generasi.

Balik lagi ke pembahasan awal, jadi dulu saya suka sebal kalau mendengar kalimat-kalimat yang membuat semangat untuk terus bersekolah turun drastis. Mungkin karena faktor saya orangnya baperan, kadang dalam hati saya cuma menanggapi sinis, “Ya suka-suka saya sih.” Saat itu saya belum bisa berpikir dari sudut pandang yang lain, kadang malah terkompori hasutan tersebut. Sampai akhirnya kemarin saya membaca tulisan tentang apa yang disampaikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan negara tercinta Indonesia, Susi Pudjiastuti, dalam acara talkshow Gen Milenial Bicara Pancasila pada tanggal 2 Maret 2019. Saya menemukan kalimat yang rupanaya mampu menjawab kekesalan hati saya.
“Sekolah saya tidak tinggi. Maka, saya menutup kekurangan dengan banyak membaca. Tirulah saya. Meniru yang banyak membaca, bukan sekolah yang tidak tinggi.”

instagram.com/tribun_jatim

Sekilas saya hanya menangkap pesan tentang pentingnya aktifitas membaca dari kalimat tersebut (ini penting banget, membaca buku atau tulisan berfaedah tapi ya bukan sekedar membaca status doi). Tapi setelah merenung, saya tertarik dangan bagian terakhir. Meniru yang banyak membaca, bukan sekolah yang tidak tinggi. Langsung dalam hati saya berteriak, “Hei harusnya dulu kamu menanggapi hasutan itu dengan kalimat semacam ini.”

Begini, jika ada kasus seseorang yang berpendidikan rendah bisa kaya (sukses) bukan berarti kita harus ikut-ikutan berpendidikan rendah, melainkan meniru bagaimana kunci dia bisa sukses. Mungkin dia bisa berhasil karena bekerja keras, fokus dalam passionnya, atau dengan tambahan dia rajin ibadahnya. Jika semua kunci itu diaplikasikan ditambah pendidikan lebih tinggi lagi tidak menutup kemungkinan dong kita bisa jadi manusia yang lebih bermanfaat lagi. Bukan lagi sukses untuk diri sendiri tapi juga orang lain.

Ada yang bilang pengalaman itu adalah guru terbaik. Tapi seperti yang kita ketahui, umur itu terbatas jadi rasanya tidak memungkinkan untuk merasakan semua kejadian atau persoalan hidup yang membuat diri kita jadi berpengalaman. Maka dari itu belajar dari pengalaman orang lain itu perlu. Nah, setiap manusia pasti punya cela, artinya kita tidak bisa meniru pengalaman orang lain secara mentah-mentah. Oleh karena itu kita harus cerdas memilah. Yuppp, ambil baiknya buang buruknya.



Demikian sharing dari saya, terima kasih sudah membaca. Ditunggu komentarnya :)

Komentar

  1. Wuuh quote nya bu susi buat aku sadar

    BalasHapus
  2. Baca-baca dulu, tulis-tulis kemudian... mantap kak artikelnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Kak Dym yang selalu memotivasi 🤗

      Hapus

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela