Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Biografi Singkat Oscar Wilde

Pada postingan sebelumnya saya telah membahas tentang buku berjudul The Happy Prince and Other Tales. Nah kali ini saya akan berceloteh sedikit tentang si penulis cerita tersebut. Dia bernama lengkap Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde.

noted.co.nz/culture/books/oscar-wilde

Novelis, dramawan, penyair, dan cerpenis ini lahir pada 16 Oktober 1854 di Westland Row, Dublin Republik Irlandia. Ayahnya, William Wilde,  adalah seorang dokter spesialis mata dan telinga yang ternama. Atas jasanya dalam penyusunan sensus statistik medis pada tahun 1841 hingga 1861 dia mendapatan gelar kebangsawan Sir. Hingga namanya menjadi Sir William Wilde.

Ibu Oscar Wilde bernama Jane Francesca Elgee, seorang penulis puisi terkenal dengan nama samaran “Speranza”. Dia juga linguis berbakat yang menguasai beberapa bahasa Eropa utama. Jane menerjemahkan novel horor gothic karya Wilhelm Meinhold yang berjudul Sidonia Sang Penyihir. Kegemaran Oscar dalam membaca karya terjemahan tersebut yang akhirnya mempengaruhi sisi gelap karya-karyanya.

Oscar Wilde menunjukkan bakatnya dalam dunia kesusasteraan sejak muda. Baik di Trinity College, Dublin, maupun di Universitas Oxford, Oscar menekuni studi klasik (Classics), yaitu studi sejarah dan filsafat Yunani dan Romawi baik di masa kuno maupun modern. Dia menjadi terkenal karena keterlibatannya dalam filsafat estetika, dibimbing oleh dua guru pribadinya, Walter Pater and John Ruskin. Meskipun berkali-kali menerima penghargaan akademik atas prestasi intelektual dan literernya, Oscar tidak meniti kariernya sebagai akademisi, melainkan menjadi penulis.

Setelah lulus dari universitas, Oscar pindah ke London masuk dalam lingkaran budaya dan sosial modis. Sebagai juru bicara estetika, dia mencoba kemampuannya pada berbagai kegiatan sastra seperti menerbitkan buku puisi, menguliahi "English Renaissance in Art" di Amerika Serikat dan Kanada , kemudian kembali ke London di mana ia bekerja sebagai seorang jurnalis. Buku kumpulan puisi pertama Oscar Wilde diterbitkan pada tahun 1881. Poems menerima penilaian yang beragam dari banyak kritikus, tetapi kritik dan pujian ini jelas membantu kelanjutan karier menulis Oscar.

Tanggal 29 Mei 1884, Oscar menikah dengan Constance Lloyd. Istrinya berumur empat tahun lebih muda dari Oscar dan merupakan putri mendiang pengacara yang meninggal dunia saat Constance berumur 16 tahun. Sebagai wanita terpelajar, Constance juga menguasai beberapa bahasa Eropa dan memiliki pemikiran mandiri, serta tidak takut untuk mengungkapkannya. Oscar dan Constance mempunyai dua anak, Cyrill lahir pada tahun 1885 dan Vyvyan pada tahun 1886.

Tahun 1887-1889 Oscar menerima pekerjaan sebagai penulis muda untuk majalah Woman's World (Dunia Wanita). Ia menerbitkan dua koleksi cerita anak, The Happy Prince and Other Tales (Pangeran Bahagia dan Cerita Lainnya) pada tahun 1888, dan The House of Pomegranates (Rumah Delima) pada tahun 1892.


Beberapa buku karya Oscar Wilde 

Pada pergantian tahun 1890, Oscar menyempurnakan ide-idenya tentang supremasi seni dalam serangkaian dialog dan esai, dan memasukkan tema kemunduran, sikap bermuka dua dan keindahan ke dalam novelnya, The Picture of Dorian Gray (1890). Kesempatan untuk membangun detail estetika, dan menggabungkannya dengan tema sosial yang lebih besar, menarik Oscar untuk menulis drama. Kemudian ia menulis Salome (1891) dalam bahasa Perancis di Paris, namun ditolak oleh sebuah licenei. Gentar, Oscar menghasilkan empat komedi masyarakat di awal 1890-an, yang membuatnya menjadi salah satu dramawan paling sukses di masa Victorian London.

Di puncak ketenaran dan kesuksesannya, dengan karya drama The Importance of Being Earnest (1895) yang  masih dimainkan di London, Oscar dituduh dan dimasukkan penjara selama dua tahun atas kasus keterlibatan pencemaran nama baik dan ketidaksenonohan. Di penjara ia menulis De profundis (ditulis pada tahun 1897 dan diterbitkan pada tahun 1905), sebuah surat panjang yang membahas perjalanan spiritualnya sebagai tahanan. Saat ia dibebaskan, Oscar menulis The Ballad of Reading Gaol, sebagai ungkapan penderitaan yang ia alami selama ia dipenjara. Oscar Wilde meninggal dunia di Paris pada 30 November 1900 saat berusia 46 tahun.

#level4
#tantangan2
#onedayonepost
#ReadingChallengeOdop

Sumber:
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Oscar_Wilde
  • https://www.merdeka.com/oscar-wilde/profil/
  • https://indoprogress.com/2013/07/estetika-dan-kritik-sosial-dalam-karya-karya-oscar-wilde-bagian-1/


Komentar

  1. belum pernah baca karya Oscar Wilde.. jadi penasaran..

    BalasHapus
  2. Pantesan namanya kayak familiar. Ternyata dia penulis dorian gray

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela