Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Mimpi

Semilir angin membuat ujung kemeja kotak-kotaknya berkibar. Memberikan sensasi dingin saat menerpa punggungnya yang basah karena keringat. Sesekali ia menyeka peluh di pelipis sebelum terjatuh. Tak henti-hentinya ia tertawa melihat tingkah bocah-bocah yang memiliki segudang akal untuk menobatkan kelompok mereka menjadi pemenang dalam bermacam kompetisi pagi ini. Meskipun hadiahnya hanya berupa kalung chiki, atau selempang wafer coklat yang harganya tak seberapa. Tapi sepertinya semangat untuk jadi juara yang ia sulut saat acara pembukaan tadi terpatri jelas oleh rombongan berkaos itu.

“Kartini, kamu istirahatlah sebentar dari tadi mondar-mandir seperti tak ada habisnya saja tenagamu ini,” seru seorang laki-laki bertubuh ceking yang biasa ia sapa Kak Bay.
“Tanggung Kak, toh setengah jam lagi game berakhir.”
“Justru itu, bukannya kamu harus mendongeng saat anak-anak berkumpul nanti?”
“Tapi ...”
“Sudahlah Kartini, siapkan saja alat peragamu, dan itu cuci mukamu sana, Ratu Dongeng harus cantik lah saat tampil nanti.”
“Emmm baiklah ...”

Kartini membuka kardus yang berisi boneka-boneka peraga miliknya. Ia menghitung jumlahnya, pas tidak ada yang tertinggal. Tangan kirinya merogoh kain kecil yang terselip di saku celana. Tak ada cermin, memang ia bukan tipe gadis yang kemana-mana membawa cermin. Sebagai gantinya ia menggunakan layar ponselnya. Ia mengusap wajah dengan sapu tangannya, malas mencari air untuk cuci muka.

Sebuah chat masuk mengusiknya, dari Stella sahabat saat SMA dulu. Sebenarnya lebih tepat dibilang kompetitor, gadis berhidung mancung itu mati-matian belajar untuk bisa berada di posisi ranking pertama. Tapi tetap saja, si cerdas Kartini tidak pernah mau beranjak dari tahtanya. Bukan tanpa kesulitan, tentunya ia juga terus belajar. Namun sepertinya kemenangan Stella benar-benar hadir di akhir semester, ia berhasil merebut beasiswa kuliah ke Jerman yang seharusnya dimiliki oleh Kartini. Kata ‘merebut’ sebenarnya kurang pantas, toh sebelumnya komite sekolah sudah menawari gadis keturunan Jawa itu terlebih dahulu. Kartini bukannya tak mau, bahkan sudah sejak lama ia memimpikan beasiswa itu. Tapi sepertinya cita-citanya untuk kuliah ke luar negeri harus ditunda dahulu, restu orang tua menjadi masalah nomor satu. Tapi kendala itu tidak bisa memupuskan harapannya. Mimpi-mimpi itu masih ada, dirapal jelas dalam doa-doa panjangnya.


Entah karena merasa berhutang budi atau apa, setiap kali pulang ke tanah air Stella selalu melempar pertanyaan itu kepadanya.

Seperti biasa .

Oke nanti tulis saja judul-judulnya, sampai jumpa ....

Permintaan Kartini sejak tiga tahun lalu tidak pernah berubah, buku selalu menjadi oleh-oleh terindah baginya. Kartini segera menutup ponselnya, ia tak ingin meratap. Bukankah dunia yang ia miliki saat ini tak kalah indah?

Dengan gesit ia mengangkat kardus itu dan peralatan lainnya menuju halaman utama. Sebentar lagi aksinya dimulai. Kartini menghentikan langkahnya ketika melihat seorang seperti kesulitan mencari sesuatu.

“Ada yang bisa aku bantu?”
“Emmm ... aku sedang cari bendera untuk dibagikan kepada anak-anak Kak,” jawabnya kikuk.
“Sebentar ... sepertinya aku tadi melihatnya.” Kartini mencoba mengingat-ingat tempat yang ia maksud. Beberapa saat kemudian ia menemukannya.
“Ini ...”
“Wah, terima kasih Kak.”
“Sama-sama, kamu Tika volunteer yang baru bergabung kemarin ya?”
“Emmm iya Kak ...”
“Kartini, panggil saja aku begitu.” 

Mereka menyempatkan diri untuk mengobrol. Kartini memang begitu, ia selalu mudah bergaul. Bahkan sebisa mungkin ia mengingat nama-nama orang yang baru dikenalnya sebagai upaya untuk memudahkan dalam perbincangannya.

Anak-anak sudah berkumpul, ada yang minum air di botol ada yang selonjoran. Meskipun beberapa saat yang lalu mereka saling berkompetisi, saat ini mereka seperti sahabat tak ada dendam yang membekas. Tawa mereka mulai riuh saat Kartini memulai aksinya. Mata-mata itu tampak takjub melihat keliahaiannya dalam bercerita. Wajahnya yang begitu ekspresif, permainan suara yang begitu memikat membuat penonton semakin terpana. Kebahagiaan tersendiri muncul dalam hati Kartini, ia ikut bahagia saat melihat anak-anak bahagia. Melalui dongeng ia mewujudkannya. Memang, mimpinya adalah memberikan kebahagiaan bagi anak-anak di dunia dengan cara melindungi dan memenuhi hak-haknya. Namun bila saat ini dunia tampak begitu besar, setidaknya dengan menjadi volunteer bagi anak-anak di sekitar kampusnya menjadi titik awal perjuangannya.

#onedayonepost
#ReadingChallengeOdop
#Tugaslevel2
#level2tantangan3

Komentar

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela