Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Kartini, Si Jaran Kore



R.A. Kartini lahir pada 28 Rabi’ul Akhir tahun Jawa 1808 (21 April 1879). Ia adalah keturunan ningrat Jawa. Ayahnya seorang Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan ibunya bernama M.A. Ngasirah. Ia memiliki ‘darah pesantren’ karena sang ibu merupakan putri dari Nyai Hajjah Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama Teluwakur, Jepara.
            Saat itu pemerintah kolonial mengharuskan seorang bupati untuk memperistri perempuan berlatar belakang bangsawan. Karena ibu kandung Kartini bukan bangsawan, maka ayahnya menikah lagi pada tahun 1875 dengan Raden Ayu Muryam yang masih keturunan raja-raja Madura. Istri kedua Sosroningrat ini kemudian menjadi garwa padmi (istri pertama) dan Ngasirah menjadi garwa ampil.
Kartini merupakan keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat menjadi bupati dalam usia 25 tahun. Ia adalah bupati pertama yang mendidik anak-anaknya, laki-laki maupun perempuan dengan pelajaran ala barat. Tjondronegoro tidak mempedulikan celaan dari bupati-bupati lain, bahkan beberapa tahun sebelum ia meninggal ia berkata, “Anak-anakku, jika tidak mendapat pelajaran, engkau tiada akan mendapat kesenangan, turunan kita akan mundur, ingatlah.”

            Semasa kanak-kanak, Kartini terkenal gesit, lincah, dan mudah bergaul. Kebiasaan ini ia gambarkan dalam sebuah surat kepada sahabat penanya, Estelle “Stella” Zeehandelaar yang ditulis pada 18 Agustus 1899.
“Saya dinamakan kuda kore, kuda liar, karena saya jarang berjalan, tetapi selalu meloncat-loncat dan berlari. Bagaimana saya dimaki-maki karena terlalu sering tertawa terbahak-bahak yang dikatakan tidak pantas, oleh sebab memperlihatkan gigi saya.”
                Kartini kecil sangat dekat dengan ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya, “Jadi apakah aku kelak?” Sosroningrat tak pernah menjawab, hanya menjawil pipi Kartini sambil tertawa. Yang menjawab adalah salah seorang kakaknya yang berkata, “Jadi apa gadis-gadis kelak? Jadi Raden Ayu tentu!” Kartini puas dengan jawaban ini, walaupun nantinya ia akan mengkaji dan merenungkan apakah yang dimaksud dengan Raden Ayu itu.
            Kekaguman Kartini terhadap ayahnya dituliskannya dalam surat untuk Stella Zeehandelar pada 25 Mei 1899.
            “Ia dapat begitu lembut, dan dengan lunaknya mengambil kepalaku pada kedua belah tangannya, begitu hangat dan mesranya tangannya merangkul daku, untuk melindungi aku daripada bencana yang datang menghampiri. Ada aku rasai cintaku yang tiada terbatas kepadanya dan aku menjadi bangga, menjadi berbahagia karenanya.”
            Tahun 1881 Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat diangkat menjadi Bupati Jepara. Kartini dan keluarganya pindah dari rumah keastistenwedaan, mereka berhak tinggal di rumah dinas Bupati Kabupaten Jepara. Sosroningrat memasukkan Kartini ke Sekolah Rendah Kelas Dua Belanda di Jepara atau lebih dikenal dengan 2e Klasse Holandsche School. Sebenarnya tindakan tersebut membuat Sosroningrat melanggar aturan adat di mana perempuan apalagi perempuan pribumi pada masa itu sama sekali tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan modern. Namun ia bersikeras meyakini bahwa anak perempuannya harus bisa menikmati pendidikan tanpa harus kehilangan kepribadian dan adat istiadat.
            Saat itu sistem pendidikan masih kental dengan melekatnya unsur diskriminasi. Dalam suratnya yang ditulis tahun 12 Januari 1900 Kartini menceritakan:
            “Orang-orang Belanda itu menertawakan dan mengejek kebodohan kami, tapi kami berusaha maju, kemudian mereka mengambil dan menantang terhadap kami. Aduhai! Betapa banyaknya duka cita dahulu semasa masih kanak-kanak d sekolah; para guru kami dan banyak di antara kawan-kawan sekolah kami mengambil sikap permusuhan terhadap kami. Tetapi, memang tidak semua guru dan murid membenci kami, banyak juga yang mengenal kami dan menyayangi kami, sama halnya terhadap murid-murid lain. Kebanyakan guru tidak rela memberikan angka tertinggi pada anak Jawa, sekalipun murid itu berhak menerimanya.”
            Pada awal 1892 setelah lulus dari ELS, Kartini diharuskan memulai masa pingitan. Ia harus mengasingkan diri dan dilarang keluar dari lingkungan rumahnya. Ia seolah-olah merasa dibelenggu dan dirantai oleh adat yang berlaku. Namun ia tetap tegar dan mencari akal supaya apa yang terjadi pada dirinya tidak membatasi tekadnya. Di dalam kurungan ia berhasil membaca buku-buku modern kiriman kakaknya, RM Panji Sosrokartono dari Belanda. Salah satu dari sekian banyak buku yang sangat digemari yaitu Minnebrieven karya Multatuli. Selain buku-buku perjuangan, Kartini juga gemar membaca buku-buku tentang perjalanan dan sastra klasik, seperti sastra Jawa dan Yunani. Banyaknya buku yang dibaca sedikit demi sedikit menambah wawasannya. Ia pun memperoleh inspirasi untuk meneguhkan prinsipnya tentang perjuangan kesetaraan perempuan yang selama ini terbelenggu oleh adat istiadat.
boeklog.info

       Saat berada dalam masa pingitan Kartini pun mulai mengenal dunia korespondensi. Ia mulai belajar menulis surat-surat dan artikel yang rupanya memikat perhatian kaum elit Belanda. Korespondesi Kartini berawal dari saat ia menyurati Marie Ovink, seorang feminis penulis buku remaja di Belanda dan kontributor untuk majalah mingguan perempuan muda Belanda, De Hollandsche Lelie. Tak hanya berlangganan, Kartini juga berkenalan dengan Johanna van Woude, pengasuh majalah tersebut. Melalui Johanna Kartini menuliskan iklan yang memuat permintaannya mencari sahabat pena. Iklan tersebut dijawab oleh Estelle Zeehandelaar atau lebih akrab disapa Stella Zeehandelaar. Surat pertama Kartini pada Stella bertanggal 25 Mei 1899. Berikut kutipan penggalan surat Kartini,
            “Panggil aku Kartini saja, itu namaku. Kami orang Jawa tidak punya nama keluarga. Kartini sekaligus nama keluarga dan nama kecilku.”
            Korespondensi antara Kartini dan Stella membahas berbagai topik, Kartini juga membahas tradisi perjodohan, poligami, tertindasnya nasib perempuan Jawa, kebijakan politik kolonial, hingga keinginannya bersekolah di Belanda. Perkenalan Kartini dengan Stella dan Marie Ovink membuka pergaulannya dengan kalangan pendukung politik etis serta feminis lainnya, seperti Abendanon dan istrinya, Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan masih banyak lainnya. Bahkan Christiaan Snouck Hurgronje, ahli Islam yang membantu Belanda menaklukkan Aceh, menyarankan Tuan dan Nyonya Abendanon untuk bertemu dengan Kartini.
            Tahun 1900 Abendanon dan istrinya bertandang ke rumah Bupati Jepara bertemu Kartini serta adik-adiknya. Inilah kesempatan Kartini menyampaikan gagasannya mengenai pendidikan bagi perempuan. Cerita yang disampaikan dengan gigih tersebut membuat Abendanon terenyuh. Dengan sepenuh hati mereka memberikan bimbingan kepada Kartini.

Di Pantai Bandengan, 24 Januari 1903 sekitar 7 kilometer ke arah utara Jepara, Jawa Tengah Kartini berbincang serius dengan Jacques Henrij Abendanon perihal rencana Kartini dan Rukmini yang ingin melanjutkan belajar ke Belanda. Kakak beradik itu mendapatkan beasiswa berkat bantuan Hendri Hubertus van Kol, anggota parlemen Belanda yang berpengaruh. Namun impian Kartini harus sirna, Abendanon berhasil meyakinkan Kartini bahwa pergi ke Belanda sama sekali tidak menguntungkan bahkan hanya akan merugikan cita-citanya. Abendanon beralasan, jika Kartini dan Rukmini pergi ke Belanda, mereka akan dilupakan masyarakat, padahal mereka ingin mengabdi kepada bumiputera. Selain itu kondisi ayah Kartini yang sudah sepuh dan sakit-sakitan membutuhkan perhatian putra-putrinya. Abendanon juga khawatir bila keduanya nanti akan dicap sebagai Noni Belanda sekembalinya ke Tanah Air, sehingga pribumi tidak akan mempercayakan anak-anak gadisnya belajar pada mereka. Sehingga kemungkinan sekolah yang diimpikan Kartini akan gagal. Dengan berat hati Kartini melepas beasiswa pendidikan ke Belanda bersama adiknya, Rukmini.
            Atas petunjuk Tuan dan Nyonya Abendanon, Kartini mengirim surat kepada pemerintah agar ia bisa mendapat beasiswa untuk belajar di Sekolah guru di Batavia. Sambil menunggu permohonannya dikabulkan Tuan Abendanon menganjurkan Kartini untuk mendirikan sekolah untuk gadis di daerahnya. Tahun 1903 Kartini berhasil mendirikan sekolah untuk perempuan di Jepara. Beranda di belakang rumah yang dulu ia dan adik-adiknya gunakan untuk mengaji disulap menjadi sebuah sekolah.
            Saat Kartini menunggu keputusan beasiswa dari Batavia tiba-tiba Bupati Sosroningrat menerima utusan Bupati Djojo Adiningrat dari Rembang yang membawa surat lamaran untuk Kartini. Kedua Bupati ini saling mengenal baik. Meski gembira karena akhirnya ada yang melamar anaknya, namun Sosroningrat dan istrinya tetap menyadari bagaimana pandangan Kartini mengenai perkawinan, terlebih lagi calon menantu mereka menduda sejak garwo padmi (istri pertama) wafat. Selain itu ia memiliki selir dengan tujuh anak. Kartini tertekan dan merenung mempertimbangkan masa depannya. Kartini tak berdaya menerima cobaan tersebut, ia lalu menyetujui saran ayahnya untuk menikah, dengan alasan di Rembang ia bisa meneruskan cita-citanya membuka sekolah didampingi suami yang berpendidikan tinggi dan punya kekuasaan.

            Namun Kartini menerima pinangan tersebut dengan syarat sang bupati menyetujui gagasan dan cita-citanya, ia juga meminta diperbolehkan membuka sekolah dan mengajar putra-putri pejabat Rembang seperti yang ia lakukan di Jepara. Syarat lain yang lebih radikal adalah saat upacara pernikahan Kartini tidak mau ada prosesi jalan jongkok, berlutut dan menyembah kaki mempelai pria. Terakhir ia akan berbicara Bahasa Jawa ngoko, bukan kromo inggil pada suaminya untuk menegaskan bahwa seorang istri haruslah sederajat. Semua syarat tersebut diterima oleh Djojoadiningrat. Meski telah menikah Kartini tetap melanjutkan usaha mengembangkan sekolah bagi perempuan yang diberi nama Sekolah Gadis. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru, Kartini bekerja dengan tekun, ulet dan penuh dengan kegembiraan.

            Pada tanggal 17 September 1904 Kartini menghembuskan napas terakhir. Empat malam sebelumnya Kartini melahirkan anak tunggalnya yang diberi nama R.M. Soesalit. Proses persalinan Kartini tidak berjalan lancar. Untuk mempercepat kelahiran, Revesteijn menggunakan alat bantu. Kartini berhasil melahirkan dengan selamat dan kondisi sehat namun operasi persalinan itu meninggalkan sedikit rasa tegang di perut Kartini. Pada hari keempat dokter kembali memeriksa perut Kartini, ketegangan yang dirasakan dianggap sebagai luka ketika melahirkan. Namun ternyata luka tersebut mematikan bagi Kartini.
            Meskipun telah wafat namun secara lambat laun cita-cita luhur Kartini bagi perempuan perlahan menjadi kenyataan. Sekolah-sekolah bagi kaum perempuan pun mulai bermunculan. Pada tahun 1904 misalnya, Dewi Sartika mendirikan Sakola Kautamaan Istri. R.A. Kardinah adik R.A. Kartini setelah menjadi istri Bupati Tegal mendirikan Sekolah Kepandaian Putri. Kemudian mulai tahun 1912 secara berturut-turut sekolah Kartini berdiri, mulai dari Semarang, Bogor, Jakarta, Madiun, Rembang, dan Malang.

Sumber:
·         Kartini Guru Emansipasi Perempuan Nusantara karya Ready Susanto
·         R. A. Kartini : Biografi Singkat 1879-1904 karya Imron Rosyadi

#onedayonepost 
#ReadingChallengeOdop 
#Tugaslevel2 
#level2tantangan2




Komentar

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela