Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Amerika Kalah Perang Gara-gara Indonesia


Dalam tantangan RCO (Reading Challenge ODOP) level 3 ini saya memilih membaca buku sejarah berjudul Gara-gara Indonesia karya Agung Pribadi. Menurut saya ini adalah buku yang mampu meningkatkan rasa bangga kita terhadap tanah air. Bagaimana tidak, ternyata banyak sekali kejadian di dunia ini yang disebabkan oleh negara Indonesia. Tidak hanya manusianya tetapi juga alamnya banyak mempengaruhi sejarah dunia.

Awalnya saya tidak banyak tahu bahwa salah satu sebab ditemukannya Amerika oleh Christopher Columbus adalah Indonesia, Amerika kalah perang di Vietnam karena Indonesia, Napoleon kalah perang karena Indonesia, Perancis kalah perang di Aljazair gara-gara Indonesia, dunia bebas malaria karena Indonesia, petronas menjadi perusahaan paling untung di Asia gara-gara Indonesia, Lakshmi Mittai masuk menjadi orang terkaya di dunia juga karena Indonesia dan masih banyak lagi fakta lainnya yang membuat saya semakin cinta dengan Indonesia. Karena sedang mencari-cari motivasi untuk tetap menulis, maka kisah yang saya pilih untuk ditulis kembali adalah tentang Amerika kalah perang di Vietnam karena buku karya orang Indonesia.

Amerika menjadi salah satu negara terkuat militernya di dunia sejak kemenangan Sekutu pada Perang Dunia II. Industri senjata Amerika sangat unggul, baik secara kualitas maupun kuantitas. Pentagon, Departemen pertahanan Amerika Serikat adalah institusi pemegang hak cipta terbanyak dunia. Kebanyakan penemuannya adalah bidang persenjataan bahkan internet pada awalnya dikembangkan untuk kepentingan militer Amerika. Bisa dibayangkan betapa kuatnya militer Amerika saat itu, rasanya mustahil jika kalah perang di Vietnam.

Ternyata, tentara Amerika kalah perang karena tidak mampu menghadapi serangan gerilyawan Vietcong. Mereka sangat menguasai media pertempuran di hutan-hutan dan teknik perang gerilya. Mungkin perang gerilya terdengar tidak asing di telinga kita, karena memang Indonesia juga pernah menerapkan teknik tersebut. Lalu apa hubungannya dengan buku?

Beberapa pemimpin gerilyawan Vietcong mengatakan bahwa mereka membaca buku “Pokok-pokok Perang Gerilya” karya Jendral A.H. Nasution dan menjadikannya pedoman mereka dalam menetapkan strategi. Nasution adalah salah seorang dar tiga Jendral Besar Bintang Lima di Indonesia. Vietcong tidak berpatokan pada Mao Tse Tung yang juga ahli perang gerilya karena kondisi alam dan masyarakatnya berbeda. Kondisi alam dan masyarakat yang paling mirip dengan Vietnam adalah Indonesia. Karena itu, apa yang tercantum dalam buku Jendral A.H Nasution bisa diterapkan dalam perang di Vietnam.  Hal ini disampaikan oleh Dr Salim Said dan Saleh A. Djamari, sejarahwan UI dalam beberapa seminar. Bahkan saat ini buku karya Jendral A.H. Nasution juga jadi bacaan referensi militer Amerika untuk menghadapi gerilya.

Memang perang dengan jutaan korban adalah bencana, tetapi fakta yang terjadi di Vietnam menunjukkan bahwa pemikiran seorang anak bangsa Indonesia bisa mempengaruhi peta dunia. Hal lain yang bisa diambil dari kejadian ini yaitu tentang kekuatan sebuah tulisan atau sebuah buku. Mungkin banyak orang yang memiliki pengalaman perang gerilya, tetapi akhirnya yang bisa menjadi referensi adalah yang menulis.


Jika diberi pertanyaan apakah pernah membaca sejarah yang sama namun ceritanya berbeda dari buku Gara-gara Indonesia? Memang ada sejarah yang sudah pernah saya baca atau dengar sebelumnya, namun tidak menemukan perbedaan. Lagi pula belum banyak buku sejarah yang saya baca jadi sepertinya masih sulit untuk membanding-bandingkan.  

#ReadingChallengeODOP
#Level3
#Tantangan2

Komentar

  1. Wah, info menarik. aku baru tau lho, jadi penasaran sama bukunya.
    Salam kenal, Kreta Amura

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela