Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Amerika Kalah Perang Gara-gara Indonesia

Gambar
Dalam tantangan RCO (Reading Challenge O DOP) level 3 ini saya memilih membaca buku sejarah berjudul Gara-gara Indonesia karya Agung Pribadi. Menurut saya ini adalah buku yang mampu meningkatkan rasa bangga kita terhadap tanah air. Bagaimana tidak, ternyata banyak sekali kejadian di dunia ini yang disebabkan oleh negara Indonesia. Tidak hanya manusianya tetapi juga alamnya banyak mempengaruhi sejarah dunia. Awalnya saya tidak banyak tahu bahwa salah satu sebab ditemukannya Amerika oleh Christopher Columbus adalah Indonesia, Amerika kalah perang di Vietnam karena Indonesia, Napoleon kalah perang karena Indonesia, Perancis kalah perang di Aljazair gara-gara Indonesia, dunia bebas malaria karena Indonesia, petronas menjadi perusahaan paling untung di Asia gara-gara Indonesia, Lakshmi Mittai masuk menjadi orang terkaya di dunia juga karena Indonesia dan masih banyak lagi fakta lainnya yang membuat saya semakin cinta dengan Indonesia. Karena sedang mencari-cari motivasi untuk tet

Mimpi

Semilir angin membuat ujung kemeja kotak-kotaknya berkibar. Memberikan sensasi dingin saat menerpa punggungnya yang basah karena keringat. Sesekali ia menyeka peluh di pelipis sebelum terjatuh. Tak henti-hentinya ia tertawa melihat tingkah bocah-bocah yang memiliki segudang akal untuk menobatkan kelompok mereka menjadi pemenang dalam bermacam kompetisi pagi ini. Meskipun hadiahnya hanya berupa kalung chiki , atau selempang wafer coklat yang harganya tak seberapa. Tapi sepertinya semangat untuk jadi juara yang ia sulut saat acara pembukaan tadi terpatri jelas oleh rombongan berkaos itu. “Kartini, kamu istirahatlah sebentar dari tadi mondar-mandir seperti tak ada habisnya saja tenagamu ini,” seru seorang laki-laki bertubuh ceking yang biasa ia sapa Kak Bay. “Tanggung Kak, toh setengah jam lagi game berakhir.” “Justru itu, bukannya kamu harus mendongeng saat anak-anak berkumpul nanti?” “Tapi ...” “Sudahlah Kartini, siapkan saja alat peragamu, dan itu cuci mukamu sana, Ratu Do

Kartini, Si Jaran Kore

Gambar
R.A. Kartini lahir pada 28 Rabi’ul Akhir tahun Jawa 1808 (21 April 1879). Ia adalah keturunan ningrat Jawa. Ayahnya seorang Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan ibunya bernama M.A. Ngasirah. Ia memiliki ‘darah pesantren’ karena sang ibu merupakan putri dari Nyai Hajjah Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama Teluwakur, Jepara.             Saat itu pemerintah kolonial mengharuskan seorang bupati untuk memperistri perempuan berlatar belakang bangsawan. Karena ibu kandung Kartini bukan bangsawan, maka ayahnya menikah lagi pada tahun 1875 dengan Raden Ayu Muryam yang masih keturunan raja-raja Madura. Istri kedua Sosroningrat ini kemudian menjadi garwa padmi (istri pertama) dan Ngasirah menjadi garwa ampil . Kartini merupakan keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat menjadi bupati dalam usia 25 tahun. Ia adalah bupati pertama yang mendidik anak-anaknya, laki-laki maupun perempuan dengan pelajaran ala barat

Resensi Buku Resign Malu Tak Resign Pilu

Gambar
Penulis             : Fazar Firmansyah Penerbit           : PT Elex Media Komputindo Tebal buku      : 200 halaman Jenis buku       : Nonfiksi, Self Improvement                        Dunia kerja merupakan kehidupan yang penuh warna. Ada saja lika-likunya. Kadang ketika kesejahteraan kita tidak terpenuhi, pekerjaan yang semakin menumpuk setiap hari, hingga teman kantor yang menyebalkan menjadi alasan-alasan tersendiri untuk mengundurkan diri. Namun sepertinya proses resign tidak semudah itu, perlu pertimbangan-pertimbangan jangan sampai salah langkah. Buku terbitan tahun 2018 ini mengajak kita untuk berfikir, benar tidak resign adalah keputusan yang tepat?             Buku ini berisi kumpulan tulisan yang terbagi dalam tiga bab yaitu tentang masa pencarian kerja, masa kantoran, dan pertimbangan antara resign dan bertahan. Dalam bab pertama banyak menjelaskan tentang mental-mental yang seharusnya dimiliki para pencari kerja. Ada beberapa sendirian tentang para mahasi

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela