Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Kali Pertama Bertemu



            Seorang teman saya pernah berkata bahwa kadang Allah menjawab pertanyaan atau doa kita melalui perantara manusia. Kala itu saya menanggapinya dengan gerutu, artinya setelah curhat ke Allah terus harus cerita lagi gitu sama orang lain untuk dimintai solusi? Meski lambat akhirnya saya menemukan jawabannya, tidak. Karena Dia mempunyai berjuta cara  untuk memberikan kejutan kepada jiwa-jiwa yang berusaha. Salah satu bukti nyatanya adalah pertemuan pertama di hari Minggu yang berawan itu.
            Mbak Hiday, begitu saya memanggilnya. Sudah lama nomornya tersimpan di antara ratusan kontak lainnya. Sudah lama pula saya ingin bersua. Hanya saja sederet kata tapi menjadi alasan untuk terus menunda. Hingga salah seorang anggota komunitas yang mempertemukan saya dengannya secara online berujar, “Hayo Mbak ke Mak Hiday, sebelum beliau sibuk.” Kalimat itu menghantui saya, benar juga sebelum beliau sibuk, sebelum hilang kesempatan mengapa tidak disegerakan. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertamu, di tengah kekhawatiran jangan-jangan nanti saya nyasar ke jalan buntu.
            Berkat peta yang secara detail sudah dijelaskan jauh-jauh hari oleh seorang adik kelas, saya pun sampai dengan selamat. Saya disambut oleh deretan buku yang tersusun rapi di samping rumah. Berdinding kain, beralas tikar yang digelar, dengan suasana terbuka yang menambah rasa nyaman untuk membaca, begitu saya menjelaskan tempat itu, Sanggar Caraka. Setelah bercengkrama lebih jauh saya baru mengerti, ini bukan sekedar tempat membaca, tetapi berbagai kegiatan literasi dicanangkan, beberapa sudah berjalan bahkan sedang diurus perijinannya melalui Kemenkumham. Harapannya bisa menjadi salah satu roda penggerak perekonomian masyarakat Tuban terutama.   

            Pertama kali tahu nama Hiday Nur itu saat agenda kelas online ODOP batch 6 pada tanggal 30 Agustus 2018. Ketika membaca profil yang disampaikan moderator kala itu saya girang, berasal dari Tuban, sama seperti tempat tinggal saya. Berharap besar agar suatu saat bisa belajar langsung. Sosok yang mengaku belajar menulis melalui komunitas Forum Lingkar Pena (FLP), One Day One Post (ODOP), Sahabat Pena Kita (SPK) dan Gong Traveling: Exploring Singapore ini membawakan materi Personal Branding. Menurutnya cara untuk membuat diri kita menarik, dan layak untuk mendapat sesuatu atas nilai yang kita miliki itu ada tiga tahap penting yaitu mengenali diri, mencitrakan diri, dan mengembangkan diri.
Pada kesempatan lainnya, nama Mbak Hiday muncul lagi dalam acara Bincang Penulis. Saat itu bintang tamunya Kak Umar Affiq dan wanita penulis artikel dan resensi pada majalah Al Uswah Tuban ini menjadi moderatornya. Setelah tertatih-tatih menyelesaikan semua misi ODOP batch 6, akhirnya saya diizinkan bergabung dalam grup besar ODOP di mana Mbak Hiday selaku penasihat ada di sana. Ah senangnya.
Ditemani oleh gorengan hangat, saya semakin tertarik untuk mengenal Mbak Hiday lebih dekat. Sejumlah buku solo serta belasan buku antologi fiksi dan nonfiksi sudah ditulisnya. Bahkan beberapa esai dan artikelnya menjadi modal untuk meraih beasiswa ke luar negeri seperti LPDP dan Life of Muslim in Germany. Seabrek prestasi lainnya pun mengikuti membuat saya semakin merasa jadi remeh-remeh rengginang tiada arti. Beruntung, ibu dua anak ini ramah sekali. Biasanya saya selalu kebingungan dalam mengambil topik pembicaraan dengan orang baru, tapi kali ini obrolan kami terasa ngalir begitu saja.
        “Kadang saya harus seperti nangis-nangis untuk mencari ilham untuk membuat tulisan, mungkin agar saya tidak sombong kali ya, karena mengerti bahwa menulis itu susah,” celetuknya membuat saya membatu. Ini jawabannya, teka-teki yang terus berputar di kepala akhir-akhir ini. Mbak Hiday mengatakannya begitu saja padahal saya tidak bertanya. Saat itu saya hampir putus asa atas usaha menulis yang tidak kunjung kelihatan hasilnya. Saya baru menyadari semuanya butuh proses butuh perjuangan. Andai sekali coba langsung luar biasa entah betapa sombongnya saya. Siang yang tidak begitu terik membawa energi baru untuk berusaha tiada jemu.
      Oh ya, hari itu tujuan utama pertemuan kami adalah belajar PEUBI kemudian dilanjutkan membaca cerpen. Mbak Hiday membacakan sebuah cerita. Katanya membaca dengan keras itu bisa mempermudah kepekaan kita terhadap diksi tulisan karena suara kita ditangkap langsung oleh telinga. Pelajaran-pelajaran lain pun saya peroleh tanpa kesan menggurui dari sosok yang tak bisa lepas dari buku, scholarship, dan traveling ini. Tentang pentingnya membaca bagi penulis karena di dalam buku tersimpan khazanah ilmu. Tentang pentingnya menambah pertemanan karena kita tidak tahu dari teman yang mana kesempatan didatangkan Tuhan. Tentang menjadi produktif yang sebenarnya bisa dilakukan siapa saja asal mau, dan masih banyak lainnya. Terima kasih Mbak Hiday telah menginspirasi. Semoga masih ada kesempatan bagi pertemuan-pertemuan di lain waktu ya Mbak. Semoga kebaikan selalu menyertai Mbak Hiday dan keluarga kecilnya yang sungguh harmonis.
         
Entah ini bisa disebut sketsa tentang Hiday Nur atau tidak. Pada akhirnya tulisan ini saya dedikasikan sebagai ucapan terima kasih atas pertemuan pertama yang cukup berkesan itu serta semoga bisa diikutsertakan dalam event Give Away Hiday Nur.

Backlink hidaynur.web.id


Komentar

  1. Aku terharu mbacanya. Gak nyangka ya, bahkan ucapan-ucapan kita telah direncanakan Tuhan. Tak ada yang kebetulan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar ya Mbak tidak ada yang kebetulan, terima kasih Mbak Hiday :)

      Hapus

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela