Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Teruntuk Kelas Fiksi ODOP 6

        Masuk kelas fiksi itu seperti hadiah tambahan setelah mendapatkan hadiah utama bisa belajar di program ODOP batch 6. Meskipun ada yang bilang keduanya satu kesatuan. Tapi saya masih merasa kelas ini adalah bonus yang berharga.
Bersyukur, sebuah kata yang mewakili berjuta kesan selama tergabung dalam kelas fiksi. Dari yang awalnya hanya tau cerpen tentang cinta-cintaan, sekarang terbuka wawasannya bahwa genre cerpen itu banyak sekali. Dari yang hanya tau prosa dan puisi jadi tau bahwa ada prosa liris, seperti perkawinan antar keduanya. Dari yang cuma sekedar baca cerpen, baca novel, menonton film sekarang jadi berpengalaman untuk mereviewnya. Intinya dari yang tahu menjadi tahu, dari yang belum bisa setidaknya sudah mencoba.
Macam-macam tantangan juga membuat saya semakin belajar dan menghargai karya orang. Sempat panik ketika disuruh menulis tulisan historial fiction, hingga detik-detik terakhir hampir tidak menemukan inspirasi. Setelah membaca ke sana ke mari dan mulai mencoba menulisnya rasanya senang sekali bisa menyelesaikan tantangan ini. Baru tahu juga ternyata menulis cerpen fantasi itu susah ya hiks.
Belajar bersama orang dengan minat sama membuat saya merasa bahagia bisa lebih dekat lagi antar sesama peserta. Setiap orang punya gaya tulisannya masing-masing. Kewajiban blog walking membuat saya sedikit demi sedikit mengenali dan tentunya belajar dari tulisan mereka. Menyenangkan juga kewajiban yang satu ini, meskipun kadang saya tidak bisa istiqomah melakukannya setiap hari, maaf ya.
Saat disuruh mengkritik program ini saya sedikit bingung. Tapi baiklah akan saya coba. Sebenarnya cukup bagus dalam kelas fiksi ini diperkenalkan bermacam-macam jenis tulisan fiksi. Tapi menurut saya ini membuat kurang fokus. Mungkin bisa dibuat perencanaan di awal, mau khusus belajar di tulisan jenis apa. Jadi belajarnya lebih mateng. Namun, ini juga bisa disiasati dengan keaktifan peserta dalam belajar sih. Soalnya misal hanya fokus di tulisan jenis cerpen, nanti bukan kelas fiksi lagi namanya tapi kelas cerpen hehe. Untuk saran, mungkin akan lebih menyenangkan bila didatangkan lebih banyak tamu dari awal kelas. 
Baiklah sekian curhatan saya seputar kelas fiksi ODOP batch 6 ini. Terima kasih Mbak Wiwid, Mas Wakhid, Mas Yoga, Mas Tian, Mbak Nisa dan semua team yang telah bersusah payah menjalankan kelas ini. Semoga kebaikan kalian dibalas dengan pahala yang berlipat dari Allah. Semoga semakin banyak lagi yang bisa merasakan kebahagiaan belajar dalam kelas fiksi. 

Komentar

  1. kita sama2 belajar kok, mbak. makasih juga sdh mau gabung. maaf jika kurang memuaskan.

    BalasHapus
  2. semangat menulis terus ya, Pebri
    Tulisanmu udah bagus loh
    lanjutkan

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela