Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik



       Sabtu minggu lalu kelas fiksi kedatatangan guru spesial yaitu Kak Achmad Ikhtiar atau lebih popular disapa Uncle Ik. Nah beliau membawakan materi tentang prosa liris. Duh, sebenarnya telat sekali ya menulis resumenya. Tapi tak apa lah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan hehe. Kalau kata Mbak Wiwid, merangkum materi itu itu mengikat ilmu lewat tulisan. Kita bisa kembali membacanya bahkan di masa 10 tahun yang akan datang. Ketika kita ragu dengan apa yang dia sampaikan, kita punya bukti untuk mendebatnya, hingga kita tidak hanya bilang “katanya”. Oke langsung saja saya mulai ceritanya ya.
    Dalam diskusi awal seorang peserta bertanya tentang mengapa di dunia ini harus ada prosa liris? Kenapa ya kira-kira? Semacam pertanyaan kenapa ada dia di antara kita berdua ya, eh… (maaf bercanda). Uncle Ik menuturkan bahwa karena prosa bikin jenuh dan puisi bikin pusing.
Oh begitu toh, memang apa bedanya antara prosa liris, prosa, dan puisi? Belum sempat ada pertanyaan seperti itu eh Uncle Ik sudah menjelaskan terlebih dahulu gaes, peka banget memang. Puisi cenderung kaku dan terikat pada aturan, sajak lebih bebas tapi tetap terikat pada rima tertentu. Prolis bisa dibilang sebuah pemberontak atau mix dari prosa dan puisi. Prolis punya gaya bercerita mirip dengan prosa tapi menggunakan diksi puisi. Itulah yang membuat prolis memiliki kekuatan lebih dibanding prosa, karena daya interpretasi nya lebih luas. Umumnya prolis ditulis berparagraf seperti prosa atau cerpen tapi tidak mengikuti plot cerpen, jadi boleh langsung lompat ke konflik atau malah tanpa konflik. Aturan dasar dari prolis yaitu harus berupa ungkapan perasaan.
Panjang juga ya, agar lebih mudah untuk menjelaskan akhirnya Uncle Ik  mengajak peserta diskusi untuk membedah salah satu karya prolis beliau.
BLUES MALARIA
Sitir Blues Untuk Bonnie...

Pandangan matamu masih nanar menjilati pojok demi pojok. Berharap ada berahi malam ini supaya perutmu  yang kosong bisa terisi. Sejauh mata memandang, hanya asap-asap kejenuhan yang terus dihembuskan dari mulut-mulut berbau whiskey.
Langkah kakimu gontai, dari balik perut yang rata, lambungmu perih menjerit-jerit karena belum terkena nasi sejak pagi.
Di tengah ruangan, penyanyi negro dengan gitar akustik bututnya masih terus bernyanyi-nyanyi. Dia tidak bernyanyi dengan suara, tapi dengan darah dan air mata. Kenang mengenang. Lagu perih tembang kampung halaman.
New Orleans… New  Orleans… Oh New Orleans yang jauh disebutnya berulang-ulang. Terkenang anak istrinya yang terbuang, mimpi-mimpi yang sudah tergadai sampai tandas dan borok di selangkangan yang tak kunjung sembuh.
Sumpah serapah membuncah dari mulut-mulut mabuk di pinggir panggung. Bising, hingar bingar, kumuh, jorok, tak beradab, bar-bar. Kamu terjebak dalam neraka yang tak berkesudahan.
Pandangan matamu mulai buram…
Duduklah sini dekat pedianganku. Angin santer yang meniupkan malaria terlalu liar untukmu duduk-duduk di luar. Anyaman rambutmu kusut masai tapi keningmu terang benderang. Duduklah sini sayang.
Hari sudah kasip begini… siapa lagi yang akan datang?
Duduk sini dan genggamlah cangkir kenangan yang akan aku sodorkan. Di dalamnya meliuk-liuk nafas sejarah yang panjang, jangan kamu lupakan. Genggam erat-erat biar tubuhmu hangat.
Akan aku ceritakan sebuah kisah.
Seribu dua ratus empat puluh enam tahun yang lalu, ada seorang lelaki yang termakan sumpah. Janji untuk kembali setelah bertualang lelah. Seorang perawan yang terlalu setia, selalu menunggu kapal terakhir merapat di dermaga. Sambil duduk di ayunan memainkan boneka. Apa mau dikata, kelasi-kelasi mabuk yang datang tak pernah membawa kabar berita. Perawan tetap setia, walau merana.
Duduklah sini sayang, puaskan laparmu, makan dari pingganku. Teguklah anggur-anggur kenangan yang kusajikan. Supaya lupamu hilang, supaya deritamu sirna.
Nanti, pada kokok ayam pertama kita pergi. Tinggalkan negeri tak berperadaban ini. Saat matahari nanar membakar ladang-ladang gandum, kita sudah akan sampai di negeri entah berantah yang hanya kita berdua tahu.
Pada saatnya nanti pasti akan kukatakan:
“Tatap mataku dalam-dalam. Kenanglah, aku lelaki yang seribu dua ratus empat puluh tahun lalu pernah ucap janji…
….padamu.”

Ide penulisan prolis ini Uncle Ik dapatkan ketika membaca Blues Untuk Bonnie sambil mendengarkan lagu Abraham Laboriel yang berjudul Guidum. Tentang kerinduan seorang budak pada kampung halaman. Kemudian lahir ide untuk memasukkan tokoh Pelacur, penyanyi kuiit hitam yang kena sifilis dan cerita tentang tanah harapan. Jadilah prolis dengan judul Blues Malaria.
Uncle Ik mengatakan bahwa diksi adalah bagian paling penting dalam membuat prolis. Fungsinya untuk memperkuat kesan. Beliau lebih memilih kata kasip ketimbang sore karena maknanya lebih kuat atau pinggan dibanding piring. Pemilihan diksi yang dimasudkan di sini bukan untuk membuat penasaran, tapi punya makna kuat. Sebagaimana prosa yang harus kuat dalam deskripsi ruang, prosa liris juga demikian. Enaknya prosa liris lebih bebas, jika kita diminta mendeskripsikan sesuatu kita bisa bikin seemosioal mungkin.
Nah selanjutnya diskusi berlangsung dalam sesi tanya jawab singkat, berikut pertanyaan sarta jawabnnya:
Pertanyaan: “Dalam kelas lain, salah satu sifat prosa liris adalah bersifat romantis, maksud romantis ini gimana ya, Uncle?”
Jawaban:  “Betul, tapi siapa yang bisa kasih tolok ukur sebuah keromantisan. Romantis bersifat private, semua orang punya definisi romantis sendiri.”

Pertanyaan:  “Menurut Uncle, bagimana perkembangan prosa liris? Pangsa peminat, penyuka fanatiknya, atau barangkali nilai jual di dunia perbukuannya?”
Jawaban: “Kurang bagus, masyarakat Indonesia masih suka sastra paperback, makanya wattpad laku.”

Pertanyaan: “Kalau di luar?”
Jawaban: “Lebih berprospek, taste seni masyarakat nya udah terlatih.”

Pertanyaan: “Diksi bisa mengalihkan rasa ya? atau ceritanya justru gagal?”
Jawaban: “Diksi penguat nilai rasa dan Rendra berhasil membuat hal itu di Nyanyian Angsa, brutal tapi indah.”

Pertanyaan: “Kenapa Uncle suka nulis prosa liris?”
Jawaban: “Karena media menulis lain ga ada yang semegah prosa liris.”

Pertanyaan: “Apa kelebihan prosa liris dengan prosa lainnya?”
Jawaban: “Satu paragraf prosa liris bisa sama dengan 5 halaman prosa dalam makna.”

Pertanyaan: “Uncle, prosa liris itu, apa perlu dilestarikan?”
Jawaban: “Ga perlu, setiap generasi pasti ada yang menulis dengan gaya prolis.”

Pertanyaan: “Uncle uncle, jadi memang prolis dan prolik itu beda? Trus boleh pakai dialog dua-duanya?”
Jawaban: “Sama aja, boleh pakai dialog.”

Nah untuk memberikan contoh penggunaan dialog dalam prolis, Uncle Ik memberikan prolis berikut:

JENDELA
October 21, 2016
sumber: artebia.com

“Sudah kubilang jangan sekali-kali berani membuka jendela itu!”
“Kenapa?”
“Karena saat kamu melihat dunia di balik jendela kamu akan menginginkannya.”
“Itu apa?”
“Itu adalah tangisan.”
“Kenapa manusia menangis?”
“Karena hatinya sedang dihinggapi kesedihan?”
“Apa itu kesedihan?”
“Kenyataan yang terjadi di luar harapan.”
“Apa pula itu harapan?”
“Sesuatu yang kamu inginkan agar terjadi dalam hidupmu.”
“Aku paham sekarang. Berarti manusia akan menagis jika harapannya tidak terpenuhi.”
“Benar. Cepat tutup jendela itu!”
“Sebentar, apa itu yang di sebelah sana?”
“Itu tawa.”
“Kenapa manusia suka sekali dengan tawa?”
“Karena tawa adalah wujud bahagia.”
“Bahagia?”
“Iya, bahagia.”
“Apa itu bahagia?”
“Bahagia adalah saat harapanmu terpenuhi.”
“Berarti tawa adalah kebalikan dari tangis?”
“Tepat.”
“Kenapa tangis diciptakan? Bukankah akan lebih menyenangkan kalau hanya ada tawa di dunia?”
“Untuk menggenapi takdir.”
“Aku jadi bingung. Apa itu takdir?”
“Takdir adalah yang terjadi pada manusia saat mereka sibuk merencanakannya.” *)
“Bahasamu terlalu tinggi. Jelaskan padaku dengan bahasa uang mudah aku pahami.”
“Tidak ada penjelasan lain, sekarang lekas tutup jendelanya.”
“Sebentar, tolong jelaskan yang berpendar dari dada manusia itu apa?”
“Itu cinta.”
“Cinta?”
“Iya.”
“Akan aku tutup jendelanya setelah kamu jelaskan cinta padaku.”
“Tak pernah ada penjelasan tentang cinta.”
“Kenapa begitu?”
“Karena cinta bersifat personal. Tak pernah bisa didefiniskan.”
“Lalu kenapa cinta diciptakan.”
“Untuk menggenapkan.”
“Menggenapkan siapa?”
“Manusia.”
“Bukankah manusia sudah genap dan lengkap.”
“Belum. Lihatlah mereka. Mereka berbeda dengan kita. Mereka hanya memiliki sebelah sayap.”
“Karena itukah mereka tidak pernah bisa terbang ke sini?”
“Tepat.”
“Lalu…?”
“Lalu apa?”
“Bagaimana cinta bisa sebegitu menggenapkan?”
“Saat manusia dalam cinta mereka akan saling berepelukan, erat, sampai tubuh mereka lumat, jadi satu. Jadilah sayap mereka lengkap. Lalu mereka dapat terbang.”
“Kalau mereka dapat terbang, kenapa mereka tidak pernah sampai bisa ke sini?”
“Karena mereka betah tinggal di dunia dibalik jendela.”
“Apa menariknya dunia di sana?”
“Tidak ada.”
“kamu pasti berdusta.”
“Tidak.”
“Kalau dunia di sana tidak menyenangkan, kenapa manusia betah sekali tinggal di sana?"
“…………”
“Baiklah, kalau kamu tidak mau menceritakannya. Akan aku tutup jendelanya sekarang.”
Mungkin karena aku sudah tua dan alpa, rupa-rupanya cinta sempat singgah melalui jendela. Jadilah kami merana. Tertawa, 
menangis, tersenyum dan berkerut-kerut kening karena berusaha memahami hakikat cinta itu sendiri.

*) John Lennon, Beautiful Boy

Sesi selanjutnya yaitu bedah prolis para peserta.

Gedebog Tua
Karya: Winarto Sabdo

dia merasa bagaikan seorang ratu phrameswari
yang duduk di singgasana yang agung megah menawan hati
bersolekkan segala keindahan yang akan dikagumi duniawi
dimana semua orang akan datang menatap dan ingin memilikinya

sekarang hanya dia seorang berkuasa di wisma penjaja asmara
tiada ratu pesaing duduk di kanan kirinya hanys dia saja penghuninya
ratu bohay yang kecantikkannya bak primadona mati karena AIDS dan ratu semok yang masih keturunan tionghoa terkena sifilis dan sirna
mereka berguguran menuai buah dari kemaksiatan pekerjaan ini

ratu jablai tanpa senyuman menatap kosong ke arah kaca
dahulu banyak lelaki mengetuknya sekedar mencari perhatiannya
sekarang mereka hanya melewatinya dengan tatapan kosong dan hampa
tergesa menuju istana baru tempat pelacur muda dari generasi yang lebih belia

ya orang perlahan telah melupakkan kemolekkan tubuhnya
duapuluh tahun lamanya dia dipuja para pencari cinta
sebagai sosok primadona penguasa seantero komplek prostitusi
kini hanya seperti sebatang gedebog pisang tua tak berharga
andai suatu saat dia tumbang
takkan ada yang memperdulikannya....

Komentar Uncle Ik:
“Oke, tulisan gedebog tua menyalahi aturan pertama dalam prolis, curahan perasan. Prolis melulu berisi keberpihakan, entah itu suka, jijik, benci, melaknat, simpati dll. Di tulisan itu hanya menceritakan kisah Pelacur tua yang dibumbui diksi dan analogi sehingga kesan emosi yang mau diangkat terasa kurang.”

Bahasa Cinta di Tengah Lenyapnya Cinta
Karya: Wakhid Syamsudin

(Dulu sih kupikir ini sudah bener prosa liris)

 "Pergilah, Nak, tinggalkan Rohingnya. Biarkan kami menunggu Izrail, kemana pun pergi, toh, ia akan memanggil, meski di sini kami hanya bisa menggigil."

Kata-kataku di selaksa tangis yang tidak kaugubris di antara kecemasan dan ancaman tragis. Dua keranjang kauikat meski kami tak sepakat karena apalah arti nyawa kami yang sudah nyaris sekarat dalam dekap jazad yang kehilangan daya kuat.

"Aku akan membawa kalian serta, karena kalian bagiku permata, bahkan tidak akan pernah rela kalian keluar airmata, karena kalianlah cinta."

Ucapanmu tulus dari cekung wajahmu yang tirus ditopang tubuhmu yang kian kurus karena kami tak lagi sanggup mengurus. Kau angkat kami satu persatu, merebah di keranjang itu, meski harapan selamat pun belum tentu, meski kau tahu nyawa bisa melayang sewaktu-waktu, tak menyurut tekadmu yang membatu.

"Kau memanggul surga, Nak. Surga akan menyertaimu selalu, Nak."

Tidak kaupedulikan lelah agar kami tetap di atas, kaubawa langkah kaki telanjangmu pada tanah berlumpur yang kaulintas, hutan dan bukit serta sungai kauretas, agar sesegera mungkin melewati tapal batas, agar nyawa selamat tuntas, karena kampung halaman hanya menyisakan kisah nahas.

Nizam, kunamai engkau ketika terlahir, bahkan kami tak habis pikir, sedemikian tekadmu membawa kami menyingkir, dari jangkauan laknat para kafir. Nizam, kujumpai Uwais Al Qarni, sahabat Nabi yang pantas disegani, karena hidup berlimpah bakti, menggendong ibunya ke tanah suci, demi menunaikan haji. Dan Uwais terlahir di sini, dengan nama Nizam si anak kami, surgamu menanti, segala hidupmu kami ridhai.

Komentar Uncle Ik:
“Tulisan kedua mengingatkan saya sama prolis lama, keterikatan diksi kuat, saling membelit, jadi terasa kurang bebas. Tapi pemilihan diksi nya bagus. Dan akan lebih kuat kalau pake Pov 1 ketimbang pov 2.”

Me, A Jew
Karya : Fathin

They say if there is heaven in the meadow. But I only found the widows. Their husbands send to the war. Women can’t move, because there is too far.

            Head stays on the ground. If you don’t want to hear the deadly sound.  Bombs on the north, sulfur on the south. “One Palestinian’s life is a ticket to heaven,” government said. They dressed so beauty, speak about humanity. But slaughtering the children with no mercy. Should I believe the government?

            I walk along the night. Wondering, where is the knights? Head beheaded, heart betrayed. The country clap, when the soldiers take a nap. On the hill of dead bodies, where women and children buried with their worries.

            They say, if war is for justice. But I smell it is only for a prestige. Above thousands of people that killed. Yet, they say if God’s order still doesn’t fulfilled.

            I walk along the day. Meet a man called Faraday. “Another woman is raped in front of her baby!” he said. It’s not only a story. It’s a May day story, I’m afraid. They kill the Palestinians. Spread fear beyond the tanks’ shadow. I don’t get what Heaven’s will. If there’s only tears and sorrow?

            I still in Jerusalem, hope there is no other ruin. But the soldiers push me to join, torture  the Palestinians. They say if  it’s a patriotic. I say it’s a genocide.

            “You are a Jew. You should own Jerusalem!” a soldier speak.
            “I am a Jew. I should brother with the Moslem!” I won’t repeat.

            So I leave him, walking into the dome. Still stand like a stone, think about human and throne.  Two pity kids come, tell me if there is no tomorrow. No warm pillow, houses always on fire. Make me won’t to swallow, that government order. It’s tons of lie.

            What is the Heaven’s will, if there’s only tears and sorrow?

Komentar Uncle Ik:
Tema bagus, keberpihakan ada, diksi keren, tapi masih terpaku pada plot prosa

MELULU RINDU
Karya: Lia Anelia

Meringkuk di sudut ruang rindu. Seperti biasa. Hanya aku. Dalam penantian tanpa temu. Selalu berakhir dengan pilu. Namun tak jua buatku menyerah. Aku tetap setia menunggu. Hingga batas waktu.

Batas waktu? Batas yang mana? Jika sabarku tak kenal waktu. Berwindu ku sabarkan hati. Hingga kini, mungkin selamanya. Ya, selamanya.

Selama apa? Mungkin hingga tutup usia? Atau hingga nirwana? Entahlah. Akankah rinduku terus menyepi di sudut hati hingga negeri abadi? Mengapa sedalam itu? Aku pun tak tahu. Hanya rasa ini yang kian erat mengikatku tanpa tahu mengapa.

Mengapa harus aku sendiri yang menyimpan luka? Sedang kau asik dengan mimpimu. Berlayar kemanapun engkau mau. Meraih cita, katamu. Sebersit tanya kadang terlintas begitu saja. Namun aku tak kuasa meminta. Mematahkan asamu demi sebuah hati, yang mungkin tak berarti bagimu.

Bagimu hadirku hanyalah semu. Seumpama debu, yang terlihat hanya jika ada cahaya. Walau nyatanya udara yang kau hirup pun tak lepas dari partikel debu, bukan? Ya, akulah debu yang terhirup dalam setiap udara yang kau hela, walau kau tak pernah menyadarinya.

Komentar Uncle Ik:
Ini bagus, prosa liris pop romantic

Hujan di Hatiku
Oleh Betty Irwanti

Hujan kadang turun sewaktu-waktu, bahkan hanya di lokal tertentu. Andai saja kau tahu, hujan itu baru saja jatuh di hatiku.

Mungkin Tuhan sudah tahu, hatiku penuh sendu. Limbung menguasai kepalaku sama seperti tubuhku.

Hujan jatuh di hatiku, membasahi setiap relung sukma nun jauh. Apakah kau tahu sebenarnya itu yang menguasai hariku kali ini?

Tanpa komando tanpa permisi, basah membanjiri mataku. Apakah hanya aku yang masih saja suka begini? Ingin marah, ingin menawar tapi apalah kuasaku.

Basah mataku samar terlihat, kututup sunggingan senyum dan jawaban yang merangkak pasti. Basah mataku takkan terlihat, karena Tuhan mengirimkan hujan untuk menghapus sembab agar menjadi tak jelas nampak.

Bukan, bukan karena aku tak bisa menahan. Mungkin memang harus terjadi, sebab semua sudah tercatat. Nun jauh di sana. Di tempat yang dijaga ketat oleh-Nya.

Hujan jatuh di hatiku, hujan juga turun membasahi langkahku. Meski begitu tetap jua kukuatkan hatiku.

Aku bukan lagi anak baru yang masuk kerja kemarin sore. Aku sudah belasan tahun berkutat dengan tugas ini. Mestinya, semua sudah kupahami. Demi sebuah kesetiaan pada negara, keluarga dan diri hamba.

Mungkin hati sedang tidak bisa kukuasai.

Hujan di hatiku sudah biasa. Sebiasa aku mengurainya menjadi pelangi agar tak hanya basah menyertai, tapi ia akan mengering dengan hadirnya mentari pagi.

Bukankah pelangi biasa datang selepas hujan sebentar lalu pergi?

Hujan di hatiku bisa jadi hanya terjadi padaku. Sama seperti hujan yang kadang turun di lokal tertentu.

Buktinya, hari ini. Hujan yang sama saat kulewati medan kerja dengan sendunya hati. Separuh kulewati dengan berbasah diri, seperempat lagi hanya rintik belaka, bahkan seperempat sisanya masih kering seperti saat hujan belum tiba.

Ah, mungkin hujan hanya jatuh lokal di hatiku saja.

Mungkin kini bisa jadi kau sedang tertawa

Komentar Uncle Ik:
Tema nya umum, diksi lumayan, pop romantis juga

Baiklah sesi bedah tulisan peserta pun berakhir, Uncle Ik menyampaikan komentarnya secara umum. Menurut Uncle Ik sudah mulai bagus tulisannya, tapi nilai rasa dan pesan yang terkandung di dalamnya juga harus kuat. Tolok ukurnya, kalau pembaca belum menangis, merasa sesak, terharu atau jijk, berarti kita harus belajar lebih banyak lagi. Baca itu penting, tapi lebih penting lagi memilah apa yang kita baca. Maka biasakan membaca buku yang punya kualitas bagus. Perbandingan nya turun 30%. Maksudnya, jika kita membaca sebuah buku dari seorang penulis dan mempelajari nya dengan baik, maka ilmunya akan kita kuasai 70%. Coba kalau kita pilih buku dengan kualitas buruk, berapa persen penurunan kualitas yang kita dapat. Tolok ukur kualitas yang bagus itu waktu kita baca, kita diajak tamasya, melupakan separuh dunia dan jadi bikin kita percaya kalau kita seutuhnya memang manusia. Oh ya, Uncle Ik juga mengatakan bahwa Penukis prosa liris juga punya macam macam genre, Gibran yang romantis, Tagor yang humanis dan rendra yang sedikit sadis.
Demikian rangkuman saya dalam kelas prosa liris bersama Uncle Ik. Emmm, sebenarnya tidak bisa disebut rangkuman sih karena panjang banget hehe. Tapi itu saya lakukan karena menurut saya semua ilmu dan sesi yang dialakukan malam itu sangat bermanfaat sekali. Sampai jumpa di rangkuman kelas fiksi selanjutnya ya, bye



Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela