Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Belajar Pemaknaan Ulang Karya bersama Kak Farrahnanda

       



       Sebenarnya saya telah mengcopy perbincangan bersama Kak Farrahnanda dalam Kelas Fiksi di note ponsel setelah kelas usai. Tapi ya begitulah, karena malas merapikan jadi tidak diposting-posting, maaf ya hehe. Untuk resume kali saya buat percakapan seperti tulisan biasanya saja ya teman-teman.

Tanya: “Mungkin temen-temen juga pernah mengalami sendiri, pas lagi menikmati sebuah karya eh tiba-tiba dapet inspirasi untuk buat sesuatu berdasarkan karya itu. Nah, sejauh mana sih hal itu bisa kita lakukan?”
Jawab:
“Pertama-tama, mari sadari bahwa karya hanyalah seonggok teks/gambar/audio/gambar bergerak tanpa adanya pemaknaan dari pembaca/penonton/pendengar. Kata-kata yang aku tulis ini pun hanyalah teks tak bermakna kalau tak ada pembaca yang berusaha memaknai maksud di balik kata-kataku ini.
Orang-orang yang membuat karya tersebut mempunyai tanggung jawab sebatas pada karya tersebut, bukan pada pemaknaan orang lain terhadap karya mereka. Sementara kita tahu, ratusan atau ribuan penikmat karya tersebut pastilah terisi dari referensi yg berbeda. Misal... ketika membaca kata 'bunga', seorang anak ekonomika/bisnis bisa saja langsung membayangkan bunga (rate) dalam bentuk persentase, sedangkan anak agrikultur membayangkan sebenernya bunga. Jadi pemaknaan kata bunga td jelas tidak bisa seragam (dg asumsi kata tsb tidak diawali/diakhiri kata lain dan tdk dalam konteks tertentu). Karena keragaman pemaknaan inilah, sebuah karya akan lebih hidup lagi jika mendapat respons dari pembaca/pendengar/penonton, dalam bentuk apa pun. Bisa dalam bentuk kritik, resensi, atau pembuatan karya serupa.
Pemaknaan ulang ini bisa dalam bentuk apa sajakah? Macam-macam. Ketika menulis ulang cerita sangkuriang dg membuat cerita tersebut jadi relevan dengan konteks zaman, ini juga bisa disebut pemaknaan ulang. Apakah ini diperbolehkan? Apakah tidak melanggar hak cipta? Apa bedanya dg plagiat? Ada banyak pendapat tentang plagiarisme dalam berkarya. Menurutku plagiat hanya bisa distempel ke sebuah karya ketika tidak ada usaha untuk melakukan pemaknaan ulang atas karya tersebut. Misal, jelas-jelas copy-paste sama persis atau hanya mengubah susunan adegan tapi inti cerita tidak ada yg berubah.

Tanya: “Kalau misal ada adegan yang sama gimana itu Kak? Misal adegan Rose sama Jack yang terbang ala" di ujung kapal titanic itugimana? Kita masukin ke adegan di cerita kita. Apa itu dibilang plagiat?”
Jawab: “Tidak ada yg benar-benar baru di dunia ini. Secara sadar atau ngga sadar, kita pasti melakukan repetisi/pengulangan atas karya lain, apalagi yg cukup memukau bagi kita. Ini sebetulnya beda bahasan, tapi karena relevan, bisa kuambil kujadikan contoh. misal: (contoh dalam foto menyusul)

Tanya: “Soalnya kadang saat nonton film atau baca buku. Ngrasa, duh kayaknya ini bagus deh kalau adegan ini masuk di cerita gue.”
Jawab: “Kurasa kalo seperti ini ngga ada masalah.”

Tanya: “Setuju nggak Kak dengan ungkapan "karya yang baik, pasti menginspirasi orang lain untuk membuat karya juga"
Jawab: “Setuju ngga setuju sih. Beberapa karya baik mempunyai kecenderungan untuk memantik respons penonton/pembaca/pendengarnya. Tapi karya yg tidak menginspirasi pun belum tentu itu tidak baik, bisa aja saking baiknya karya ini satu-satunya cara meresponsnya adalah dengan membiarkan karya tersebut sebagai apa adanya. Rumit amat sih.

Tanya: “Bagaimana dangan karyanya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck? Jadi, si Pak Habiburrahman ini 'nyontek' ke novel luar. Hanya diganti tokoh dan alur cerita aja. Apakah itu termasuk plagiat?”
Jawab: “Life of Pi pun konon terinspirasi cerita dari penulis lain yg justru kalah pamor dari Life of Pi. Garis besar kedua cerita tersebut mirip, tidak disebutkan sebagai karya plagiat tapi kita tau kalau referensi Life of Pi adalah karya tersebut. Setahuku, kasus yg semacam ini masih dalam perdebatan. Menurutku ketika kita meminjam cerita seperti ini kemudian mengganti nama tokoh dan latar tanpa ada usaha pemaknaan ulang, ini tidak bisa dibenarkan. Untuk soal kasus Pak Hamka, Karena aku belum baca kedua buku tersebut jadi aku belum bisa melakukan komparasi dan menentukan apakah ada usaha pemaknaan ulang dari Pak Hamka atas karya tersebut atau tidak.”

Tanya: “Tapi Mbak Far, kasus kesamaan tema, konflik, tokoh itu apakah memang sudah banyak di indonesia ini?”
Jawab: “Belum coba buat telusur lebih jauh, Kak. Tapi yang jelas karena memang tema yang digarap manusia ya memang seputar manusia jadi ya kemungkinan kemiripan-kemiripan tema akan banyak ditemui.”

Tanya:  “Hunger Games dan Battle Royale bisa masuk ya ke pemaknaan ulang ini Kak..”
Jawab:  “Ngga tau ini apa, Kak, jadi nda isa jawab.”

Tanya: “Pernah juga dengar cerita seorang kreator. Cara dia ngerespon suatu karya yg buruk (secara norma) adalah dengan membuat karya yg baik, yg nilainya berkebalikan dengan karya buruk tersebut. Sehingga penikmat karya jadi lebih punya pilihan.”
Jawab: “Ini bisa, untuk membuka banyak pilihan.”

Tanya: “Kak Farrahnanda kan nulis juga ya. Ada gak karyanya yang terinspirasi dari buku/film? Kalau ada apa judul buku/filmnya...”
Jawab:Belum ada satu tulisan khusus yang kutulis untuk merespons karya lain sih. Biasanya hasil mix match sama beberapa referensi lain. Misal salah satu cerpen di kumcerku ada yg bentuknya kupinjam dari gaya-gaya film surealis, tapi kontennya terinspirasi cerita-cerita realisme magis. Iki panganan opo jenenge angel-angel.”

Tanya:  “Aku jg masih bingung, mana yg plagiat, mana yg bisa dijadikan sastra banding?”
Jawab: “Susah sih, karena kriteria plagiat buat suatu karya (seni/sastra) seperti tidak se-rigid kriteria plagiat karya ilmiah yah.”

Tanya: “Nah, kah, aku bingung ini . Apakah plagiat itu to hanya nulis tanpa ada ubahan? Hanya ubah nama dan latar aja. Kalau ada ubahan di konflik, itu kan berupa saduran. Nah, kalau ceritanya hampir sama alur dan konfliknya itu baru dinamakan karya sastra baru (red: bukan plagiat dan saduran) yang bisa menjadi sastra banding?”
Jawab: “Untuk mempermudah, begini sadjo, selama karya yang dibuat merupakan hasil pemaknaan ulang, karya tersebut jelas bukan plagiat. Ranah selain itu masih diperdebatkan.”

Tanya: “Oh iya, bagaimana tanggapan Mbak Farah mengenai orang yg plagiat?”
Jawab: “Kasihan itu orang bener-bener kehabisan ide apa gimana sampe plagiat.”



            Kalimat terakhir Kak Farrahnanda jleb banget ya hehe. Demikian resume kelas tanggal 23 Desember 2018 lalu. Semoga bisa diambil pelajaran dari  perbincangan di Kelas Fiksi ini. Terima kasih sudah membaca.

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela