Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Belajar Menggali Ide bersama Kak Umar Affiq




Tamu spesial kelas fiksi kali ini lahir di Rembang, 14 Desember 1992, nama lengkapnya yaitu Mohammad Umar Muwaffiq dengan nama pena Umar Affiq. Penulis satu ini punya banyak hobby juga loh, selain nonton naruto, baca komik naruto, dan membaca? Dulu sih sempat suka menggambar tapi sekarang jarang banget oret2 kertas. Duh intinya hobbynya apa sih hehe pusing saya.
Nah kalo ada niatan mentraktir Kak Umar bisa nih mengintip menu makanan favoritnya. Laki-laki dengan angka kesukaan 7 ini menyukai lontong tahu atau tahu lontong, mie ayam (agak pilih2), bakso (gak pilih2) tapi belakangan ini ingin jadi herbivora dan meninggalkan daging-daging, suka sama buah anggur dan tidak suka pada buah yang memiliki tekstur butir2 kecil kasar seperti kersen atau baleci.
Sebagai penulis pasti punya favorit dong, siapa hayo? Penulis favorit Kak Umar yaitu Eka Kurniawan, Eko Triono (dalam cerpen yang bukan eksperimental), Budi Darma, M. Aan Mansyur. Tapi katanya sih daftar nama ini hanyalah daftar sementara yang bisa berubah sewaktu-waktu tanpa memberitahu pemilik namanya.
            Tidak diragukan lagi Kak Umar sudah punya banyak karya yang cukup fenomenal. Sayangnya saya belum punya satu pun hiks. Karya tulis kak Umar di antaranya beberapa puisi, resensi dan cerita pendek sempat tersebar di media luring dan daring. Pernah dapat juara 2 lomba nulis resensi divapress dan ini menjadi pijakan pertama buat terus nulis. 2015 juara 1 lomba cipta cerpen yang diadakan Gerakan Tuban Menulis, 2015 masuk long list lomba cerpen
tamanfiksi.co. 2016 masuk nominasi lomba  cerpen santri nasional oleh Kemenag RI, 2017 memenangi kompetisi cerpen Kampus Fiksi Emas #4 dengan cerpen Hari Anjing-Anjing Menghilang. 2018 menerbitkan buku kumpulan cerpen pertama dengan judul Di Surga, Kita Dilarang Bersedih
            Sudah cukup ya kenalan sama Kak Umarnya, sekarang yuk kita intip obrolan Kak Umar dengan peserta tentang Menggali Ide. Oh ya diskusi kali ini dimoderatori oleh Mbak Hiday Nur ya teman-teman.
Tanya  : “Jadi, kak, dari mana biasanya dirimu menemukan ide?”
Jawab  : “Oke. Dalam beberapa cerpenku, aku menemukan ide dari mimpi. Jadi ketika aku tidur ran bermimpi sesuatu dan masih teringat sampai bangun, kalau mimpi itu menarik akan kutulis dalam draf. Selain dari mimpi kadang dari bacaan. Kalau pas baca karya siapa gitu, dan tertarik, aku tandai biasanya.”

Tanya  : “Dimana biasanya menulis draftnya Mas?”
Jawab  : “Kadang di status WA. kadang di grup, kadang di note pribadi. Kadang langsung tulis di laptop.”

Tanya  : “Pernah nggak lupa mimpi tapi kayaknya penting banget dan kamu tersiksa karena ingin menulisnya tapi tak tahu itu apa? Apa yg kamu lakukan biasanya?”
Jawab  : “Ikhlaskan saja sih. Wong udah lupa. Ide itu rejeki, kalo emang itu rejeki kamu ya gak bakal ilang gitu aja. Maaf mendadak relijies.”

Tanya  : “Kadang mimpi itu hanya kita ingat saat terbangun. Ketika sudah pagi atau lewat hari, suka lupa? Bagaimanakah itu? Apakah cerita yang bersumber dari mimpi lebih aman difiksikan?”
Jawab  : “Soal aman tidaknya tergantung gimana kita menceritakannya ya. Ada yang pernah nonton movie Kimi no Nawa? Itu pembukaannya menginspirasi buat dijadiin cerpen lho.
Yang aku maksud, kurang lebih begini: Kadang2 aku terbangun dari mimpi dan tiba2 menangis. Ini sesuatu banget menururku. Dari sini aku jadi bayangkan tentang seseorang yang belum pernah bermimpi dan tiba2 bermimpi. Kemudian dia begini-begini dan begini. Karena meresa terganggu oleh sesuatu yang baru.

Tanya  : “Kalau sudah dapat ide,dan ternyata kebanyakan. Ide mana dulu yang harus ditulis lebih dulu?”
Jawab  : “Mana yang disuka saja mba... masak ginian mau istikhoroh segala. Bhahaha... ops...

Tanya  : “Oke setelah menemukan ide, bagaimana biasanya kamu akan meramunya menjadi sebuah cerpen. Kan ada tuh ya, udah tau mau nulis apa tapi bingung, harus dari mana?”
Jawab  : “Aku tulis aja dulu biasanya. Baru nanti mikir ide ini bagusnya diginiin. Ini ngerjakannya pakai insting sih menurutku.”

Tanya  : “Btewe, di buku kumcer kak umar yg tuebeel itu kan macem2 ya isinya (yang penasaran buruan pesen keburu habis), kalo kataku sih itu itu jurnal dan catatan2 kejadian yang dicerpenkan. Berapa persen kak umar memberikan unsur dramatisasi kejadian nyata untuk dicerpenkan?”
Jawab  : “Kejadian nyatanya hanya sekelumit saja. Sisanya biar imajinasi yang mengatasi.”

Tanya  : “Kak Umar kulihat suka alur yg pelan ya. Maksudnya 1 aja premis sederhana bisa jadi satu cerita pendek yang cukup panjang. Kok suka model plot gitu kenapa?”
Jawab  : “Aku lihat beberapa cerpen koran sukanya main ubek2 di situ2 doang, jadi mau gak mau juga main ke situ. Main ubek2an. Tapi gini sih, kalo cerpen dengan plot cepat itu rawan lho... rawan kebaca bahwa penulisnya keburu2. Tapi tinggal penuangannya sih... Kalo plot yang sat-set biasanya kupakai buat verpen yang aksi, kayak dalam cerpen Memenggal Kepala Sang Raja.

Tanya  : “Bagaimana cara mencari inspirasi dari hal yang sederhana menjadi luar biasa, Apakah ada triknya? Semoga bisa dibagi beberapa kiatnya juga berdasarkan pengalaman Abang selama ini?”
Jawab  : “Aku merasa masih sederhana saja dan belum luar biasa. Meski demikian aku akan mencoba menjawabnya. Pertanyaannya adalah "bagaimana cara mencari". Siapkan peralatan pencarianmu setiap waktu. Bila ada sesuatu yang menarik, kantongi dia. Proses pencariaan tidak hanya yang bisa ditangkap indera penglihatan saja ya. Gunakan berbagai indera. Atau misalkan kamu fokus satu saja. Misal nih. Sekarang kamu bayangkan dirimu berdiri di bawah matahari pukul 11 siang di tepi jalan. Gunakan indera pendengar saja. Kamu bisa menjadikan cerpen dari sini.

Tanya  : “Ide dan semangat itu kan tidak ubahnya seperti iman. Kadang naik, kadang turun ....
Apa Kak Umar pernah merasakan ide atau semangatnya turun drastis alias down? Bagaimana menyikapi saat semangat itu turun, agar bisa kembali bangkit dan nggak berlarut-larut dalam keadaan tersebut?”
Jawab  : “Relijies banget pertanyaannya.. subhanallah... Tapi untuk urusan iman konsultasinya sama ustajah Hiday Nur aja ya. Untuk semangat nulis nih. Hal yang perlu ditanyakan ada gak sih yang bikin kamu semangat nulis? Oke oke... aku pernah kehilangan semangat nulis, bahkan, jangankan nulis, baca aja gak semangat. Kurasa semua penulis peenah kok ngalami fase ini. Dinikmati aja. Kepalamu bukanlah kepala M Aan Mansyur yang pernah bilang: "kepalaku kantor paling sibuk sedunia." Dinikmati aja. Baca yang ringan2 dulu, nonton film, main ke pantai atau gunung, lalu nulis lagi.

Tanya  : “Menurut kakak, untuk pemula lebih baik menulis kisah apa? Nyata, fantasi atau...? Bagaimana cara menemukan jati diri yang sesungguhnya, atau kalau nulis Passion atau yang cocok dengan aku "ini"?? Maaf banyak bertanya, karena masih pemula dan haus ilmu ????
Mohon pencerahannya??????
Jawab  : “Untuk pemula mungkin kamu bisa belajar dari nulis surat ya. Kamu bisa baca cerpen Trilogi Alina karya Seno Gumira Ajidarma untuk belajar. Itu cerpen surat yang bagus. Dan menulis cerpen model surat gini, meskipun udah agak basi tapi cukup bagus buat melatih imajinasi kamu.”

Tanya  : “Kak Umar biasanya dapat ide nulis dari mana yang paling dominan?”
Jawab  : “Aku merasa pindah-pindah dan musiman ya. Jadi belum ada yang menurutku dominan. Kalo ditanya dari mana ide datang, bisa dari mana saja. Dari tempat ziarah, dari film, dari nontom wayang, dari baca buku, dari macem2...”

Tanya  : “Kak Umar Bagaimana agar ide kita nggak alay?”
Jawab  : “Mungkin kamu bisa jelaskan mana yang kategori ide yang alay sama yang enggak alay?”

Tanya  : “Kalau kita dapet ide nih misal ya kak. Terus cara mengembangkan ide biar nggak ngalor ngidul ga puguh gmn caranya??”
Jawab  : “Dalam drafku beberapa kali aku membuat bagan adegan. Biasanya aku tulis satu atau dua kalimat yang bisa menandai ide adegan. Buat bagan ini dari awal sampai akhir. Dari tiap kalimat biasanya bisa aku kembangkan menjadi beberapa pargraf. Gitu aja aih biar fokus.”

Tanya  : “Bagaimana cara membuat judul yang mengharu biru?”
Jawab  : “Ini soal rasa sih... karena soal rasa, perlu olah rasa. dan bahan bacaan juga sangat berpengaruh. Perihal judul, kamu bisa mencoba hal-hal ini:
1. Memetik dari puisi, Semusim dan Semusim Lagi (Novel Andlina Dwi Fatma), Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi (Novel Sapardi Djoko Damono)
2. Membuat pertanyaan: Agama Apa yang pantas bagi pohon-pohon? (Eko Triono)
3. Menggunakan pernyataan pengumuman: Hanya Anjing yang Boleh Kencing Di Sini (cerpen Mashdar Zainal), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (Seno Gumira Ajidarma)
4. Menggunakan angka: 1984, 5 cm, Fahrenheit 451
5. Tentukan gayamu sendiri
Oya, dalam menulis puisi kalau gak salah ada sesuatu yang bernilai plus bila ada perulangan bunyi "ng" "ah" di akhir. Ini juga bisa dipakai dalam menulis judul maupun dalam badan cerpen. Biar terkesan liris. Contohnya: Padang Ilalang di Belakang Rumah karya NH DIN

Tanya  : “Judul buku DKDB (kenjangan mau ngetik judulnya) itu inspirasinya dr mana? Apa terinspirasi dr  Surga yang tak dirindukan 2 ?
Jawab  : “Judul ya? Judul itu terinspirasi judul Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi. Jadi aku ingin menulis ttg surga para hewan. Lalu berpikir, selain buah khuldi kira2 apa ya yang dilarang di surga?

Oh ya tambahan dari Kak Umar mengenai ide dari mimpi, Kak Umar mengatakan bahwa ide dari mimpi tidak melulu menuliskan (menumpahkan apa yang kita mimpikan ke naskah), kita bisa menuliskan kondisi kita pasca mimpi itu atau sebelum mimpi itu. Dan mimpi itu sebagai bahan konflik saja. Baiklah sekian resume diskusi kelas fiksi minggu lalu. Jadi sudah menemukan ide tulisan apa hari ini?


Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela