Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2018

Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Teruntuk Kelas Fiksi ODOP 6

Gambar
        Masuk kelas fiksi itu seperti hadiah tambahan setelah mendapatkan hadiah utama bisa belajar di program ODOP batch 6. Meskipun ada yang bilang keduanya satu kesatuan. Tapi saya masih merasa kelas ini adalah bonus yang berharga. Bersyukur, sebuah kata yang mewakili berjuta kesan selama tergabung dalam kelas fiksi. Dari yang awalnya hanya tau cerpen tentang cinta-cintaan, sekarang terbuka wawasannya bahwa genre cerpen itu banyak sekali. Dari yang hanya tau prosa dan puisi jadi tau bahwa ada prosa liris, seperti perkawinan antar keduanya. Dari yang cuma sekedar baca cerpen, baca novel, menonton film sekarang jadi berpengalaman untuk mereviewnya. Intinya dari yang tahu menjadi tahu, dari yang belum bisa setidaknya sudah mencoba. Macam-macam tantangan juga membuat saya semakin belajar dan menghargai karya orang. Sempat panik ketika disuruh menulis tulisan historial fiction , hingga detik-detik terakhir hampir tidak menemukan inspirasi. Setelah membaca ke sana ke mari dan mulai

Belajar Pemaknaan Ulang Karya bersama Kak Farrahnanda

Gambar
               Sebenarnya saya telah mengcopy perbincangan bersama Kak Farrahnanda dalam Kelas Fiksi di note ponsel setelah kelas usai. Tapi ya begitulah, karena malas merapikan jadi tidak diposting-posting, maaf ya hehe. Untuk resume kali saya buat percakapan seperti tulisan biasanya saja ya teman-teman. Tanya: “Mungkin temen - temen juga pernah mengalami sendiri, pas lagi menikmati sebuah karya eh tiba - tiba dapet inspirasi untuk buat sesuatu berdasarkan karya itu. Nah, sejauh mana sih hal itu bisa kita lakukan?” Jawab: “Pertama-tama, mari sadari bahwa karya hanyalah seonggok teks/gambar/audio/gambar bergerak tanpa adanya pemaknaan dari pembaca/penonton/pendengar. Kata-kata y ang aku tulis ini pun hanyalah teks tak bermakna kalau tak ada pembaca y ang berusaha memaknai maksud di balik kata-kataku ini. Orang -orang yang membuat karya tersebut mempunyai tanggung jawab sebatas pada karya tersebut, bukan pada pemaknaan orang lain terhadap karya mereka. Sementa

Belajar Menggali Ide bersama Kak Umar Affiq

Gambar
Tamu spesial kelas fiksi kali ini lahir di Rembang, 14 Desember 1992, nama lengkapnya yaitu Mohammad Umar Muwaffiq dengan nama pena Umar Affiq. Penulis satu ini punya banyak hobby juga loh, selain nonton naruto, baca komik naruto, dan membaca? Dulu sih sempat suka menggambar tapi sekarang jarang banget oret2 kertas. Duh intinya hobbynya apa sih hehe pusing saya. Nah kalo ada niatan mentraktir Kak Umar bisa nih mengintip menu makanan favoritnya. Laki-laki dengan angka kesukaan 7 ini menyukai lontong tahu atau tahu lontong, mie ayam (agak pilih2), bakso (gak pilih2) tapi belakangan ini ingin jadi herbivora dan meninggalkan daging-daging, suka sama buah anggur dan tidak suka pada buah yang memiliki tekstur butir2 kecil kasar seperti kersen atau baleci. Sebagai penulis pasti punya favorit dong, siapa hayo? Penulis favorit Kak Umar yaitu Eka Kurniawan, Eko Triono (dalam cerpen yang bukan eksperimental), Budi Darma, M. Aan Mansyur. Tapi katanya sih daftar nama ini hanyalah daftar

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Gambar
        Sabtu minggu lalu kelas fiksi kedatatangan guru spesial yaitu Kak Achmad Ikhtiar atau lebih popular disapa Uncle Ik. Nah beliau membawakan materi tentang prosa liris. Duh, sebenarnya telat sekali ya menulis resumenya. Tapi tak apa lah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan hehe. Kalau kata Mbak Wiwid, merangkum materi itu itu mengikat ilmu lewat tulisan. Kita bisa kembali membacanya bahkan di masa 10 tahun yang akan datang. Ketika kita ragu dengan apa yang dia sampaikan, kita punya bukti untuk mendebatnya, hingga kita tidak hanya bilang “katanya”. Oke langsung saja saya mulai ceritanya ya.      Dalam diskusi awal seorang peserta bertanya tentang mengapa di dunia ini harus ada prosa liris? Kenapa ya kira-kira? Semacam pertanyaan kenapa ada dia di antara kita berdua ya, eh… (maaf bercanda). Uncle Ik menuturkan bahwa karena prosa bikin jenuh dan puisi bikin pusing. Oh begitu toh, memang apa bedanya antara prosa liris, prosa, dan puisi? Belum sempat ada per

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela