Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Tentang Rindu

     Aroma kopi menguar memenuhi bilik bambu yang usang. Karso duduk seorang diri, menyeruput minumannya tak terasa tinggal seteguk saja. Ia melirik istrinya yang dari tadi memandanginya. Akhirnya ia memutuskan untuk mendekati pujaan hatinya itu, meninggalkan cangkir kosong di meja. 
“Lastri, anak kita sedang apa ya sekarang?”
Istrinya menjawabnya dengan senyuman. Mungkin ia sudah bosan mendengar pertanyaan itu. Hampir setiap malam ia menanyakannya. 
“Dia makan apa ya hari in?”
Pertanyaan bodoh, mana mungkin istrinya tahu. Pantas saja Lastri tak menjawab.
“Apa dia sudah punya kekasih di sana, wanita yang cantik seperti dirimu?” sejenak Karso berfikir sebelum melanjutkan kalimatnya “ah tidak, tidak ada satu pun wanita yang bisa mengalahkan kecantikanmu.”
Istrinya masih mengulang senyumnya. Lastri memang selalu malu-malu saat dibilang cantik. Apalagi jika yang mengatakan adalah suaminya. Karso tertegun, matanya mulai mengembun. Entah mengapa akhir-akhir ini ia seperti anak kecil yang hampir merengek setiap malam.
“Lastri, aku merindukan anak kita sama besarnya dengan rinduku padamu.” 
Bulir-bulir air matanya mulai berjatuhan. Kali ini ia tak mengusapnya, biar saja mereka habis sehingga esok ia tak perlu menangis lagi. Karso meninggalkan foto hitam putih istrinya yang terpasang di dinding seorang diri. Semakin lama ia memandanginya, maka semakin menyiksa rasa rindunya.
       Langkah kakinya terhenti di depan pintu bercat hijau. Lelaki tua itu memberanikan diri untuk memasukinya. Ruangan itu masih sama, seperti tahun-tahun sebelumnya tak berpenghuni. Ia mengambil pigura di ujung meja. Tampak wajah ceria anaknya memegang sebuah piagam penghargaan. Masih teringat betul ekspresi Doni kala itu, ide bisnis yang sudah ia rencanakan sejak lama akhirnya memenangkan lomba itu. Sejumlah suntikan dana pun ia terima untuk bisa merealisasikan idenya. Bapak mana lagi yang tidak bangga dengan prestasi besar anaknya?
    Namun, sepertinya benar perkataan bahwa untuk mencapai sesuatu kau harus merelakan sesuatu. Karso harus rela ditinggal anak semata wayangnya demi mewujudkan mimpinya. Pangsa pasarnya lebih besar di sana, bisnisnya bisa lebih pesat kemajuannya jika dirintis di kota. Entah apapun itu alasannya, asalkan putranya bahagia Karso rela. Meski sebenarnya hati ini meraung untuk menahan kepergiannya. 
       Sejak kepergian istrinya lima belas tahun yang lalu, Doni adalah satu-satunya cahaya hidup bagi Karso. Entah, bila anak itu tak lahir di dunia mungkin ia sudah gila. Orang-orang sekitar tak jarang merasa iba dengannya yang harus menjadi orang tua tunggal. Bahkan banyak yang menyarankan untuk menikah lagi. Tapi cintanya pada Lastri tak bisa untuk digantikan siapa pun di dunia ini. Akhirnya ia memutuskan untuk merawat Doni seorang diri. Memasak sarapannya, menyiapkan seragam sekolahnya dan mengajaknya bermain layang-layang di sore hari. Hari-hari indah itu kini tinggal kenangan, hidupnya yang dulu terang benderang lambat laun menjadi suram. Mentari itu tak menyinarinya lagi.
      Dirogohnya ponsel usang di saku celananya. Karso menghubungi anaknya. Harap-harap cemas ia menunggu jawaban, tapi sepertinya ia harus bersabar lebih lama lagi. Entah sudah berapa puluh kali ia menelpon anaknya itu beberapa hari ini, sayang sepertinya rindu itu belum waktunya untuk terobati. Karso menuju dipan milik Doni, malam ini ia memutuskan untuk tidur di sana. Berharap bisa mencium aroma tubuh anaknya dari sprei biru tua itu, hanya saja ia sudah ditinggal terlalu lama tak ada wangi yang tersisa. Dirangkulnya erat-erat foto putranya. Semoga wajah yang amat dirindukannya itu mampir di mimpinya. Tubuh Karso sungguh lelah, hingga ia tak bisa memastikan kapan akan terbangun.
***
pinterest.com

    Doni tersenyum lega, konsep acara yang telah ia susun selama sebulan yang lalu berjalan lancar. Seminggu terakhir omset penjualannya naik drastis. Terbayar sudah semua kelelahan yang ia lalui. Hampir tak ada waktu untuk diri sendiri, semua pikiran ia kerahkan untuk memajukan bisnis ini. 
      Don, bapakmu sakit apa kamu bisa pulang?
     Sebuah pesan mengejutkan datang dari pakde. Hati Doni hancur, tanpa pikir panjang ia meninggalkan agendanya hari ini. Segera ia membawa mobilnya pulang ke kampung halaman. Sepanjang perjalanan pikiran Doni tak karu-karuan, bapak jarang sakit itu yang ia tahu. Sebuah penyesalan datang, mengapa ia tak mengangkat telepon bapak akhir-akhir ini. Kesibukan sepertinya tak bisa dijadikan alasan lagi. Jangan-jangan bapak hendak menceritakan perihal sakitnya selama ini, ah betapa durhakanya aku ini.
     Sesampainya di rumah Doni langsung mencari Bapak. Kosong tak ada siapa-siapa. Doni tertegun ketika memasuki kamar Bapak, beberapa barangnya tergeletak di sana. Seragam sekolahnya, layang-layangnya, bola pertamanya. Mengapa mereka ada di sana, ah sepertinya Bapak benar-benar merindukannya. Seseorang mengetuk pintu, didapatinya pakde di sana. Segera mereka menuju rumah sakit tempat Bapak dirawat. Doni melihat bapaknya terbaring lemas, segera ia menghambur memeluknya. Keduanya menangis, melepas rindu yang telah lama melilit kalbu.
      Tak apa bila harus sakit, asalkan bisa bertemu anakku aku rela.

#Songlit
#Terinspirasi dari lagu Tentang Rindu-Virzha

Komentar

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela