Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Sudikah Engkau Pergi


seruni.id
      Sepertinya doa-doa Laras terkabul sempurna. Suami yang mencintainya, bertanggung jawab, rajin sembahyang dan tidak perokok telah ada dalam sosok Mas Burhan. Satu lagi permintaan yang terwujud, mertua yang penyayang dan pengertian. Mengapa penyayang? Tentunya karena Laras tak ingin menjadi menantu yang tersakiti seperti kebanyakan adegan yang ada di TV. Sebait doa itu langsung saja muncul ketika sebelum menikah dulu diambil kesepakatan bahwa Laras akan diboyong untuk tinggal di rumah mertua sementara waktu, sambil bersabar mengumpulkan uang tabungan agar segera bisa membangun istana kecil mereka sendiri. Perihal pengertian, itu karena Laras masih perlu banyak belajar untuk menjadi istri dan menantu yang ideal. 
Namun, sepertinya tak mungkin ada pernikahan tanpa ujian. Bukan masalah keuangan, penghasilan dari usaha bengkel yang lambat laun semakin maju membuat hidupnya terasa berkecukupan. Bukan pula tentang keturunan, karena bayi mungil buah cinta mereka telah terlahir di dunia ini sejak satu minggu yang lalu. Apalagi masalah orang ketiga, saat ini tidak ada dan semoga selamanya seperti itu sampai maut memisahkan mereka. Ujian itu ia rasa berasal dari Mbak Sari, istri dari kakak Mas Burhan. 
Awalnya Laras bahagia, wanita itu sering berkunjung ke rumah itu, jadi ada teman mengobrol. Sikap mertua yang sangat baik dan perhatian membuat Mbak Sari sering menginap, konon dulu sebelum Laras tinggal di sana pun demikian. Hubungan Laras dengan wanita berkulit putih itu terlihat baik, hanya saja rasa risik mulai muncul atas sikap Mbak Sari. Kejadian pertama yaitu ketika menjelang lebaran Laras mendapatkan kado dari Mas Burhan sebuah gamis yang sudah diincarnya sejak lama. Sialnya, Mbak Sari tak sengaja melihat gamis berwarna merah maroon yang tengah dilipatnya. Langsung hari itu juga, wanita bermata lebar itu meminta Laras untuk mengantarnya membeli baju yang serupa. Bukan hanya tentang baju, hal lain seperti tas, kerudung, sepatu bahkan merk make up yang dipakai pun ditiru. 
Ingin sekali rasanya Laras menjauh darinya, tapi apa daya ia tak punya hak untuk melarangnya mengunjungi dan menginap di rumah sesama mertuanya. Bukan hanya tabiat suka meniru gaya orang, perkataan yang diucapkan pun sering menyakiti hati. Sejak awal menikah hingga saat hamil semua yang dilakukan Laras dikomentari. Entah mitos ini lah, menu makanan yang kurang sehat lah. Bahkan kini saat bayi mungilnya lahir, komentar pedas itu semakin menjadi. Apalagi Laras harus melahirkan secara caesar mengikuti saran dari dokter karena kondisi kesehatannya. Sebuah kalimat menyayat hati terlontar dari wanita itu di hari pertama ia menggendong sang bayi.
“Kamu itu ya, anak pertama saja sudah caesar, jadi nggak merasakan perjuangan melahirkan seorang ibu tau nggak sih.”
Suatu kejadian saat acara kumpul keluarga pun menguras habis kesabaran Laras. Saat itu beberapa kerabatnya berkumpul, termasuk ibunya. Ia tengah menggendong bayinya duduk berdampingan dengan Mbak Sari. Awalnya wanita itu meminta izin untuk menimangnya, Laras pun mengizinkannya.
“Wah gelang dedek baru ya?” ucap Mbak Sari.
“Alhamdulillah, iya Budhe dikasih Eyang,” jawab Laras dengan nada anak-anak sambil melirik ibunya yang tak jauh darinya.
“Bagus sih gelangnya, tapi kok kecil banget ya jadi terlihat rapuh gitu.” Kalimat itu terlontar begitu saja tanpa rasa bersalah. Kedua mata Laras mengembun, dilihatnya sosok ibu yang sangat dicintainya semula tersenyum kini menunduk. Ingin rasanya ia merebut bayinya dan membawanya masuk, hanya saja ia mengurungkan niatnya, mencoba menghargai keluarga yang lain. 
“Mas, kita mulai hidup mandiri saja yuk, mengontrak pun tak apa,” pinta Laras dengan terisak saat acara usai.
Iba dengan kondisi istrinya, Burhan pun menenangkan. “Sabar sayang, satu bulan lagi kita mulai bangun rumah di tanah Bapak yang di dekat bukit itu.”
“Beneran Mas?” tanya Laras memastikan.
“Iya, kemarin lusa Bapak membicarakan perihal tanah itu, daripada kita membeli lebih baik pakai tanah itu saja.”
Laras pun girang, dipeluknya suami yang sungguh mengerti perasaannya itu. Ia tersenyum lega, di manapun itu asal bisa jauh dari Mbak Sari ia rela. 
   Kini hari-harinya terasa lebih ringan. Jika wanita itu bertingkah, Laras mencoba menghibur diri bahwa sebentar lagi ia akan jauh-jauh darinya. Kebahagiaan pun semakin membuncah saat Laras ikut menengok tukang yang mulai bekerja membangun pondasi istana kecil mereka. Tak sabar rasanya menunggunya berdiri kokoh. Namun, di suatu sore sebuah berita yang ia terima dari wanita itu memporak-porandakan mimpinya.
“Laras, aku dan Mas Toni sudah sepakat untuk membangun rumah di samping rumah kamu nanti.”
         Gusti, cobaan apa lagi ini.

 

Komentar

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela