Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Sahabat yang Pergi

          
pixabay.com/skitterphoto

             Gadis itu masih tergugu seorang diri di kamarnya. Mama yang sedari tadi mengetuk tidak dihiraukannya. Akhirnya wanita berkaca mata itu meletakkan nampan berisi nasi goreng dan segelas air di depan pintu kamar Joa. Ia tak suka menahan lapar lama-lama, nanti juga berhenti sendiri menangisnya.
            Joa pulang sendirian sore itu, sebenarnya setiap hari pun begitu. Sikapnya yang dingin dan raut mukanya yang datar membuat teman-teman sekolahnya tak ada yang dekat dengannya. Apalagi Joa pendiam, nggak asyik diajak ngobrol. Pernah suatu hari, Jenny, teman sebangkunya bercerita lebar tentang Jason, kakak kelas yang curi-curi pandang dengannya ketika istirahat di kantin. Namun, Joa hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, hanya  matanya yang berkedip-kedip sesekali.
            “Ngomong itu pakai mulut Jo, bukan pakai mata,” umpat Jenny kesal. Sebelum akhirnya memilih pindah tempat duduk yang membuat bangku sebelah Joa kosong hingga kini.
            Namun sebuah senyuman yang datang untuknya mengubah dunianya yang sepi sore itu. Namanya Jimmy, ia bahkan menemani perjalanan pulangnya sampai ke gerbang rumah. Tak hanya sore itu, hampir setiap hari Jimmy menemaninya bukan hanya saat pulang namun juga saat berangkat sekolah. Langkah kaki Jimmy yang pendek membuat Joa melambatkan jalannya. Itu menyenangkan, karena semakin lama perjalanan semakin lama ia menikmati indahnya kebersamaan.
            Sesekali Joa meminta Jimmy untuk datang ke rumahnya saat hari libur. Ia pun menurut, Joa menceritakan seluruh keluh kesahnya selama berada di sekolah. Jimmy mendengarkannya dengan seksama, hal yang paling disukai Joa darinya. Tak banyak berkomentar dan setia mendengarkan. Saat makan siang adalah hal yang menyenangkan selanjutnya, Joa dan Jimmy mempunyai selera makanan yang sama. Mereka kadang berlomba siapa yang cepat menghabiskan ikan favorit mereka duluan. Menuju sore mereka akan bermain di taman belakang. Joa suka ayunan sedangkan Jimmy suka perosotan.

            Kini semua itu hanya tinggal kenangan. Kemarin Bibi Jeje yang tinggal sepuluh  rumah dari tempat tinggal Joa mengusung semua perabotannya menggunakan truk. Joa panik, jika Bibi Jeje pindah itu artinya Jimmy... Dugaan itu benar, sahabatnya yang menemaninya selama tiga bulan ini pergi bersama tuannya. Diingatnya kembali pertemuan pertama dengan kucing manis itu, ia tampak senang saat Joa mengelus kepalanya. Dari kalung kecil yang dipakainya Joa mengetahui namanya. Ah, aku kesepian lagi. 

Komentar

  1. Kalau aku takut, sama kucing. Tp ceritanya bagus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas mau nulis kepikirannya cuma kucing mba hehe

      Hapus

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela