Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Review Cerpen Bertemu Batu

Judul               : Bertemu Batu
Penulis             : Gde Aryantha Soethama
Dipublikasikan : Kompas, 18 November 2018
Link                 : https://lakonhidup.com/2018/11/18/bertemu-batu/

Hazim Muhammad Zarkasyi Hakim/Kompas 

            Bagaimana perasaan Anda ketika sudah mencoba berbagai cara tapi sakit tak kujung pergi juga? Putus asa, hal ini yang dialami oleh tokoh dalam Cerpen Bertemu Batu. Namun perasaan tersebut tidak dibiarkannya berlarut-larut, ia mencoba cara baru lagi untuk menyembuhkan diri. Cerita bermula ketika tokoh utama, seorang laki-laki, yang sudah dua tahun berjemur di pantai, membuat galian dan membenamkan diri hingga yang terlihat hanya kepalanya saja. Usaha ini dilakukan berdasarkan saran dari teman-temannya, memang badannya jadi terasa enteng namun penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh, bahkan tak ada perubahan sama sekali.
            Namun meskipun tak mendapatkan kesembuhan, setidaknya ia banyak bertemu orang, bercakap-cakap kemudian menemukan ide baru untuk menyembuhkan diri. Singkat cerita lelaki itu pergi ke gunung, hingga akhirnya ia menemukan ‘batu ajaib’ yang berangsur-angsur membuat dirinya sembuh. Tapi begitulah watak manusia, tidak pernah ada puasnya, lelaki itu membawa batunya pulang bahkan karena berita kesembuhannya tersebar orang-orang berbondong-bondong ikut menyembuhkan diri di rumahnya. Hingga muncul suatu ide dari seseorang untuk mendirikan rumah sakit khusus dengan metode pengobatan batu tersebut, hal itu membuat sang lelaki harus kembali ke gunung untuk mendapatkan batu yang lebih banyak. Namun apa yang didapatinya, rupanya ada yang lebih serakah lagi dari dirinya.
            Cerpen dengan alur maju ini menyenangkan sekali untuk dibaca. Meskipun tanpa nama penggambaran setiap tokoh dengan memanfaatkan sudut pandang orang ketiga membuatnya cukup. Latar tempat yang diambil dalam cerita pun beragam sehingga pembaca seperti ikut berjalan-jalan. Amanat yang bisa diambil dari cerita ini adalah jangan berputus asa dalam berusaha, jangan serakah terhadap kekayaan alam, dan jangan terlambat untuk mengucapkan terima kasih.
            Kelebihan cerpen ini ada beberapa poin, pertama dalam cerpen ini penulis banyak memasukkan pengetahuan baru untuk membumbui isi cerita. Kedua pesan yang diberikan beragam dan bisa sampai pada pembaca, bahkan bisa dipahami lewat dialog-dialog secara tak langsung. Ketiga gaya bahasa mudah dipahami tetapi tidak membosankan, diksi yang dipakai tersusun dengan apik. Tidak banyak kekurangan dalam cerpen ini, mungkin agar lebih mudah diterima agar tidak terlalu fiktif bisa dijelaskan apa sebab dari batu tersebut bisa ajaib.

#Tantanganreviewcerpen
#ODOP6
#kelasfiksi

Komentar

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela