Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Pensil Ajaib

pexels.com/Marko Blazevic

            Hujan turun semakin deras, Tejo basah kuyup lalu berlindung di bawah pohon besar. Lelaki itu tak menyadari sudah lari sejauh ini. Tak ada satu rumah pun dilihatnya. Sesekali petir menyambar, tiba-tiba teringat pesan ibu dulu bahwa kalau hujan disertai petir jangan berada di bawah pohon. Tapi bagaimana lagi, tak ada pilihan lain. Setelah dipikir-pikir tidak mungkin ia bermalam di sini, daripada sudah terlanjur basah lebih baik ia melanjutkan perjalanan siapa tahu ada tempat berteduh yang lebih layak di sana.
            Sepertinya langit iba padanya, setelah beberapa langkah ia berjalan hujan berangsur-angsur jadi gerimis saja. Keberuntungan lain pun mengikuti, sebuah gubuk nampak di ujung sana. Bergegas ia menghampiri. Gubuk tua itu tertutup rapat. Tejo memutuskan untuk tiduran di kursi panjang yang kebetulan ada di depan gubuk. Ingatannya kembali pada kejadian sore tadi, anak buah lintah darat itu mendobrak pintu rumahnya. Tejo yang belum punya uang untuk membayar hutang dihajar habis-habisan. Beruntung ia berhasil kabur, dan lari sejauh-jauhnya hingga tersesat di dalam hutan ini.
            “Hei, anak muda kemarilah.”
            Tejo terkejut setengah mati, ia segera bangun dan mencari sumber suara. Ternyata berasal dari seorang nenek yang mengamatinya entah sejak kapan. Tejo pun menuruti.
            “Masuklah anak muda,” pinta nenek tersebut sambil membuka pintu lebih lebar.
            Gubuk tua itu tampak berdebu, beberapa sarang laba-laba terlihat di sana. Tak banyak perabotan di dalamnya. Sepertinya nenek itu tinggal sendirian.
            “Aku tak bisa menyalakan perapian ini, bisakah kamu membantuku?”
            Tejo mengangguk, pantas saja sulit untuk dinyalakan. Kayu-kayu itu basah, bahkan ia pun tak mampu membuat api itu menyala.
            “Nek kayunya basah, adakah kayu kering?”
            “Emmm, coba kau cari di bawah sana. Hari ini punggungku sakit sekali, aku takut tidak bisa naik ke atas lagi jika sudah turun,” ujar nenek itu menunjuk sebuah tangga di balik pintu yang terbuka.
            Rupanya itu ruang bawah tanah, Tejo memungut beberapa kayu lalu kembali ke perapian. Beberapa menit kemudian api menyala. Nenek itu tersenyum girang.
            “Terima kasih anak muda, mungkin aku bisa mati kedinginan jika api ini tak menyala juga.”
            Nenek itu kemudian memberikannya sepiring singkong goreng dan secangkir teh. Sungguh nikmat sekali, apalagi perutnya tak terisi sejak siang tadi. Melihat bajunya yang basah, Tejo diberinya beberapa helai baju lusuh. Mungkin milik suaminya. Tejo meminta izin untuk bermalam di gubuk itu, tentu saja dengan senang hati nenek tersebut mempersilakan. Esok paginya Tejo meminta diri untuk pulang.
            “Ambillah ini.” Nenek itu menyodorkan sebuah kotak kecil kepadanya.
            “Apa ini Nek?”
            “Tanda terima kasihku, bukalah ketika di rumah.”
            Tejo pun menerimanya, ia sudah tak sabar untuk sampai rumah. Kira-kira apa isi kotak itu? Tejo sedih sekali melihat rumahnya porak-poranda. Beberapa perabotnya pun tak ada, sepertinya diambil oleh para lelaki berotot besar itu. Tak apa, asalkan dirinya selamat itu sudah cukup. Akhirnya ia membuka kotak berwarna biru tua itu. Ternyata sebuah pensil. Tejo mendadak lesu mengingat pemberian itu tak begitu menarik baginya. Namun ada sebuah kertas terlipat rapi di sana yang membuatnya penasaran.
Akan jadi nyata kecuali hewan dan manusia
            Apa maksudnya? Tejo pun mengambil secarik kertas untuk menjawab pertanyaannya. Ia menggambar sebuah pisang, ajaib , gambar itu berubah menjadi nyata. Pisang itu benar-benar ada di depan matanya. Ia mencoba memakannya, dan rasanya seperti pisang pada umumnya. Tejo tertawa girang, ini hadiah yang menakjubkan. Ia pun tanpa pikir panjang menggambar uang, agar segera melunasi hutangnya.
            Tapi sepertinya keahlian Tejo dalam menggambar menjadi hambatannya. Tak ada satu pun uang yang berhasil digambarnya. Karena keseringan mengulang gambar pensil itu diraut terlalu sering dan semakin pendek. Tejo pun khawatir, ia tak bisa memanfaatkan benda ajaib itu sebaik mungkin karena alasan keahlian menggambarnya yang buruk. Akhirnya ia memutuskan untuk berguru kepada ahlinya. Tentu saja ia harus bekerja banting tulang terlebih dahulu untuk membayar biaya pelatihan yang cukup mahal. Tak apa, nanti akan tergantikan dengan pensil ajaib itu.
            Semakin hari keahlian menggambar Tejo semakin meningkat. Beberapa kali ia berhasil menggambar uang dengan menggunakan pensil ajaib itu. Tentu saja ini membuatnya bahagia. Kini ia tak terlilit hutang lagi. Bahkan ia berhasil membeli satu ekor sapi. Ke manapun Tejo pergi pensil ajaib itu selalu dibawanya. Termasuk saat memandikan sapinya di sungai sore ini. Sialnya pensil itu terjatuh dan terbawa arus sungai, Tejo berusaha untuk mengejarnya tapi tak berhasil meraihnya. Hilang sudah benda ajaib kesayangannya.
            Kesedihan pun datang menghampiri Tejo
"Bodohnya aku hingga tak berhasil menjaganya baik-baik," keluhnya.
 Tejo pun mencoba menghibur diri dengan menggambar meskipun bukan dengan pensil ajaib lagi. Tejo tak menyangka hasil belajarnya selama ini membuahkan hasil, gambar-gambar yang begitu indah. Semakin hari ia semakin rajin menggambar, beberapa hasil karyanya diikutkan dalam acara pameran. Pundi-pundi rupiah pun ia terima dari gambar-gambar itu. Ah, Tejo bahagia sekali mengapa ia tak  berlatih menggambar sejak dulu saja.

Pensil  ajaib itu mungkin hilang, tapi keahlian menggambar menjadi sumber kebahagiaannya sekarang. Terima kasih, Nek!


#Tantangan Fiksi Fantasi

Komentar

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela