Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Mereka Bersahabat Kembali

pexels.com/Trinity Kubassek

           “Sial perutku keroncongan,” gerutu Joa. Tak ada pilihan lain ia harus keluar untuk makan. Gadis dengan rambut acak-acakan itu membuka pintu kamar dengan malas, sebelum akhirnya tertawa lepas melihat ada makanan di sana. Dilahapnya sepiring nasi goreng pedas itu tanpa tersisa sedikitpun. Mama mengintip kelakuan putrinya dari celah pintu yang sedikit terbuka, sebuah senyum kecil terlukis di wajah teduhnya.
            Satu gelas air kurang, Joa berlari menuju dapur untuk mengambil minum. Setelah rasa pedasnya berkurang, gadis itu mencuci piringanya. Sedari kecil ia sudah dilatih untuk mencuci piringnya sendiri. Di manapun ia berada kebiasaan itu dilakukan, tentu saja ini tidak berlaku jika sedang makan di restaurant. Joa terkejut saat mengetahui mama menepuk pundaknya.
            “Tidak sedih lagi kan?”
            “Entahlah…”
            “Hmmm Mama kira sudah happy.”
            Joa meringis, terdiam beberapa saat kemudian kedua matanya berbinar seperti menemukan sebuah jawaban.
            “Ma, ingin lihat Joa happy lagi kan?”
            “Tentu saja.”
            “Kalau begitu Joa mau minta dibelikan kucing.”
            “Kucing?”
            “Ya… seperti si Jimmy yang pergi ninggalin Joa.”
            Mama tak memberikan jawaban. Hanya terlihat sedang berfikir saja.
            “Ayolah Ma, please…” ujar Joa memohon.
            “Boleh…”
            “Yes!”
            “Tapi ada syaratnya.”
            “Apa Ma?” tanya Joa berhenti tersenyum lebar.
            “Kamu harus berbaikan dengan Jenny.”
            “Ah, mama kan dia yang ninggalin Joa masa Joa yang harus minta maaf.”
            “Memang benar, tapi karena kamu tidak merespon curhatannya kan Jenny jadi pergi?”
            “Iya sih, tapi Ma…”
            “Kalau tidak mau, tidak ada kucing seperti Jimmy.”
            “Hmmmm, baiklah…” ujar Joa mengalah.
            Mama tersenyum lega, ia tahu ini pasti berat bagi putrinya. Tapi sudah waktunya ia mencari sahabat. Tak tega rasanya bila anak seusia Joa harus menikmati masa indahnya seorang diri.
            Keesokan paginya Joa duduk di kelas sendirian seperti biasa. Di ujung ruangan Jenny pun begitu, tak ada teman sebangku. Pelajaran matematika hari ini berlangsung melelahkan, angka-angka yang memenuhi papan tulis itu semakin membuat pikiran Joa memanas. Beruntung, bel istirahat berbunyi. Joa tersenyum riang, tapi di sisi lain dirinya mulai panik. Keringat dingin mulai membasahi tangannya. Jam istirahat tiba, itu artinya ia harus mulai berbicara dengan Jenny. Diambilnya dua kotak tempat makan kecil berwarna jingga dari tasnya. Joa hanya mematung saat berada tepat di samping Jenny. Gadis yang mengepang rambutnya menjadi dua itu pura-pura tak mengetahui kehadiran Joa. Ia mulai bangkit dari tempat duduknya , tiba-tiba saja ia berteriak histeris melihat sesuatu menempel di ujung sepatunya.
            “Kecoa…”
Jenny berteriak kencang membuat teman-teman yang lain menghentikan aktivitasnya. Sayangnya mereka hanya menonton, tak ada satu pun yang menolongnya. Jenny melompat-lompat berharap kecoa itu pergi, namun binatang kecil itu masih berputar-putar di bawahnya. Dengan sedikit panik Joa meletakkan kotak-kotak kecil itu dan mengambil sapu untuk mengusir si kecoa.
“Terima kasih Joa,” ucap Jenny sambil memeluknya.
Keduanya bersitatap kemudian tersenyum riang. Dengan terbata-bata Joa menyampaikan permintaan maafnya. Jenny mengangguk, tak ingin masalah yang dulu dibahas lagi. Akhirnya mereka menikmati sandwich buatan mama yang sengaja dibuat khusus untuk Jenny. Mulai hari itu mereka jadi teman sebangku lagi.  

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela