Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Asmara Sri Huning Mustika Tuban


Sri huning mustiko Tuban
Labuh tresno lan saboyo pati
(Sri Huning mustika Tuban, berkorban demi cinta dan hingga rela mati)
Marang Raden Wiratmoyo
Kang wis prasoji hanambut branti
(Pada Reden Wiratmoyo, yang telah bersumpah dan berikrar janji)

Sri huning daton ngrahito
Kang rinipto kadange pribadi
(Sri Huning tidak menyangka, yang dipuja saudara sendiri)
Wiratmoyo putra niro
Surolawe Adipati Tuban
(Wiratmoyo putranya Surolawe Adipati Tuban)

Sri huning putrane abdi
Wongso pati nalikane uni
(Sri Huning anaknya abdi Wongso pati (pahlawan perang yang gugur) dikala itu) 
Kapupuk ing madyo logo
Duk prang tandhing lawan minakjinggo
(Yang gugur dalam peperangan, saat perang tanding dengan Menakjinggo (Adipati Blambangan)) 

Katresnane wiratmoyo
Tinampi dene roro sri huning
(Cintanya Wiratmoyo, diterima oleh Sri Huning)
Senadyan wekasan niro
Prepateng lampus alabuh negoro
(Walaupun pada akhirnya, gugur membela negara)*



     Sri Huning masih sibuk membelai setangkai bunga di genggaman tangannya. Mawar merah pemberian Kanda Wiratmoyo itu kini semakin layu. Menjadi saksi kisah cinta terlarang keduanya yang harus rela pupus digerus waktu. Mereka mengerti tidak ada jalan cinta bagi dua saudara, mendengarnya saja sudah cukup miris, sungguh mimpi yang tak akan pernah jadi kenyataan. Gadis ayu itu terkejut saat mengetahui Kanda Wiratmoyo ada di belakangnya. Meskipun tanpa suara, namun bayangan lelaki yang amat dicintainya itu terpantul jelas dalam kolam ikan yang tengah dihadapnya.
"Apa gerangan tujuanmu kemari Kanda, adakah titah dari Ayahanda atau Ibunda?" tanya Sri Huning mengambil jarak dari lelaki itu.
"Tidak ada Dinda."
"Lalu mengapa kau masih menemuiku Kanda, bukankah kita sudah berjanji untuk tak bersua lagi kecuali alasan keluarga?"
"Dinda... apakah kau masih mencintaiku?"
"Tentu saja tidak," jawabnya sambil memalingkan muka.
"Lalu mengapa Dinda masih menyimpan mawar pemberianku?"
"Ii... itu... itu karena dia cantik, aku tak tega membuangnya."
Raden Wiratmoyo tersenyum geli mendengar alasan itu, bagaimana mungkin mawar yang sudah begitu layu masih dibilang cantik.
"Dinda, aku ingin menyampaikan sebuah berita," ujar Raden Wiratmoyo setelah terdiam beberapa saat ia melanjutkan, "ini ada kaitannya dengan cinta kita."
"Sudahlah Kanda, bukankah sudah tak ada jalan lagi bagi kisah ini? aku tak ingin membahasnya lagi," Sri Huning menjauh dari Raden Wiratmoyo dan duduk di sebuah bangku panjang.
"Dinda dengarkanlah terlebih dahulu, kemarin aku bertemu Ibunda dan sebuah rahasia besar baru saja diungkapnya, ini perihal Dinda."
"Benarkah?"
Raden Wiratmoyo mengangguk sambil mendekati Sri Huning.
            "Aku tak tahu apakah harus sedih atau bahagia untuk mengatakannya.” Raden Wiratmoyo memandangi wajah gadis yang sudah dikaguminya sejak lama, tak tega rasanya untuk menyampaikannya.
              "Katakan saja Kanda."
"Dinda... Ibunda mengatakan bahwa sebenarnya Dinda Sri Huning adalah anak angkat."
            "Maksudnya?" Sri Huning terbelalak mendengarkan kalimat itu.
            "Apakah Dinda siap mendengarkan kebenarannya?"
            "Bicaralah Kanda."
            Sri Huning masih menyendiri di kamarnya, setelah mendengarkan berita itu perasaannya campur aduk tak karuan. Ia baru saja mengetahui bahwa sebenarnya dirinya bukan anak dari Adipati Tuban, Suralawe. Ayah kandungnya adalah seorang Abdi Penongsong (Pembawa Payung) dari seseorang yang selama ini ia panggil Eyang. Saat perang, ketika Adipati Ranggalawe diserang ribuan panah, sang ayah menggunakan payung itu untuk melindungi tuannya. Tetapi tidak untuk Wongsopati, sehingga ia gugur tertusuk panah saat perang Majapahit. Setelah kejadian itu, ibu kandungnya yang saat ini entah di mana menyerahkan Sri Huning kecil kepada Ibunda Raden Wiratmoyo. Hal ini menjadikan dirinya menjadi adik bungsu dari kedua putra Adipati Tuban, Raden Wiratmoyo dan Raden Wiratmoko.
            Gadis ayu itu tak ingin terlalu larut dalam kesedihan, bukankah hal tersebut sudah terlanjur terjadi. Sri Huning mencoba mengambil celah bahagia atas kenyataan pahit itu. Raden Wiratmoyo mengatakan bahwa ia akan mempersuntingnya, artinya Sri Huning akan menjadi menantu Suralawe dan ibu dari Adipati Tuban nantinya. Sebenarnya ada hal lain yang lebih membahagiakan dari semua itu, tembok pemisah cinta Raden Wiratmoyo dan Sri Huning hancur sudah, tak ada yang menghalangi keduanya untuk bersama.
Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi keesokan harinya Raden Wiratmoyo dan Sri Huning bergegas menemui Ayahanda. Dengan takzim Raden Wiratmoyo mengutarakan keinginannya untuk merajut bahtera rumah tangga dengan Sri Huning. Ia pun menyampaikan bahwa keduanya sudah mengetahui kebenaran bahwa mereka bukan saudara kandung. Mendengar semuanya Ayahanda hanya terdiam. Raut mukanya tampak kebingungan. Waktu berjalan tanpa pembicaraan. Tak sabar menanti jawaban, akhirnya Raden Wiratmoyo angkat bicara.
            "Mengapa ayah diam saja, adakah niat ayahanda untuk tidak merestui hubungan kami?"
         "Maafkan aku anakku, bukan bagitu maksudku, tapi ayah sudah terlanjur melamar putri Adipati Bojonegoro untuk menjadi istrimu.
            Raden Wiratmoyo terkejut, ia bahkan mengutarakan kekesalan hatinya sebab Ayahanda tak menanyainya terlebih dahulu.
          "Sungguh ayah tak tahu bahwa kau telah mencintai adikmu, maksud ayah Sri Huning. Maafkan aku anakku."
            Sementara Sri Huning hanya terdiam, meratapi cintanya yang kembali layu padahal baru merekah beberapa jam yang lalu. Tak ada pemberontakan, keduanya tunduk terhadap titah Ayahanda. Meski dalam hati terasa sakit, Sri Huning melepaskan kekasihnya untuk menikah dengan wanita lain. Bahkan ia ikut mengantarkan Raden Wiratmoyo ke Kadipaten Bojonegoro sebagai calon pengantin. Ditatapnya wajah lelaki yang amat dicintainya itu, sendu, Sri Huning tahu hatinya pasti hancur berkeping-keping. Tak ingin membuatnya ragu, ia segera menundukkan pandangannya.
            Di tengah prosesi pernikahan, tiba-tiba datang pasukan dari Kadipaten Lamongan. Rupanya mereka tak rela atas penolakan dari Kadipaten Bojonegoro. Bahkan mereka hendak memboyong paksa Putri Kumala Retna, putri yang gagal dipinang oleh Adipati Lamongan. Tak ingin membiarkan kekacauan dalam pernikahan orang yang dicintainya, Sri Huning ikut berperang bersama para prajurit. Seluruh tenaga dan kemampuan ia kerahkan ketika berhadapan langsung dengan Adipati Jala Sudibyo, namun takdir berkata lain, Sri Huning menyusul jejak ayah kandungnya, gugur dalam peperangan membela keluarga Adipati Tuban.
            Mendengar berita kematian pujaan hatinya di tangan Adipati Lamongan, Raden Wiratmoyo geram. Dengan gelora kemarahan yang tidak terbendung lagi Raden Wiratmoyo maju berperang. Namun sayang, dendamnya tak terbalaskan, sang pengeran menghembuskan nafas terakhir di medan perang. Menemui sang kekasih yang sudah terlebih dahulu berpulang.
Orang tua mana lagi yang rela jika kedua anak yang sangat dicintainya direnggut dari pelukannya secara tragis oleh orang yang sama. Kesedihan yang teramat dalam menyelimuti Adipati Tuban dan istrinya. Tanpa keraguan Sang Adipati menyerang Adipati Lamongan. Pertarungan sengit antara keduanya tidak dapat terelakkan lagi. Dengan kegigihan yang dimilikinya Adipati Tuban akhirnya berhasil mengalahkan Adipati Jala Sudibyo.
Peperangan yang terjadi tidak menggagalkan niat Kadipaten Tuban dan Kadipaten Bojonegoro untuk berbesan. Pada akhirnya, Putri Kumala Retna dinikahkan dengan sang putra kedua, Raden Wiratmoko. Jasad Sri Huning dan Raden Wiratmoyo pun dimakamkan dengan layak. Perjuangan keduanya untuk berkorban demi orang yang dicintai tak pernah lekang dikenang. Sepertinya Dewa melihat ketulusan cinta itu, hingga setelah dipisahkan di dunia mereka kembali dipertemukan di kehidupan yang lebih abadi. Merajut cinta yang tak pernah mati.

*Lirik dan terjemah tembang Sri Huning diambil dari http://cahkenongo.blogspot.com/

#tantanganHistoricalFiction
#ODOPbatch6
#kelasfiksi

Komentar

  1. kakak...arti penggalan puisi di awal apa ya? Kasih catatan dong..penisirin ini hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah saya terjemahkan ya kak sekarang hehe

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Dulu, setiap latihan karawitan, tembang ini adalah salah satu favorit saya.

    Layak menjadi nominator pemenang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Cak Heru, terima kasih bedah tulisan dan saran perbaikannya juga 🙏

      Hapus
  4. Saya cari ini gara-gara karawitan daring. Iseng² cari artinya. Eh ternyata ada ceritanya juga. Ceritanya sungguh pilu heuheuheh

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela