Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Drama Buku

Gambar
pexels.com/Min An “Ihhh bete deh...” teriak Sasa membuat sahabatnya yang tiduran di kasurnya terbangun. “Kenapa Sa?” “Masa ya Ra lagi-lagi aku tertipu sama sampulnya,” umpatnya kesal sambil membanting buku berwana merah muda itu di atas meja belajar, lalu bergabung dengan Ara di tempat tidur. Ara hanya tersenyum kecut, bukan kali pertama drama ini terjadi. Sasa namanya, sahabat yang dikenalnya sejak awal masuk kuliah. Akhir-akhir ini gadis beralis tebal itu keranjingan membaca buku. Awalnya Ara ikut senang karena dengan begitu curhatan sahabatnya tentang lelaki pemberi harapan palsu itu berkurang. Tapi, sepertinya satu masalah berlalu satu masalah lain datang bertamu. Adegan drama salah beli buku bukan hal baru. “Nanti sore ke toko buku sebelah yuk.” “Mau ngapain?” “Ya beli buku lah Ra, masa beli siomay,” ujarnya kesal. “Lagi?” “Mumpung lagi banyak diskon Ra.” “Kamu mau cari diskonan apa cari buku sih?” “Cari buku diskonan,” jawab Sasa mantap. “ Yang mur

Gadis yang Kau Tipu

Gambar
pexels.com/Flash Bros Ucapan-ucapan indahmu ternyata kelabu. Janji manismu nyatanya palsu. Perhatianmu ternyata semu. Perasaanmu padaku berakhir pilu. Satu hal yang ingin kutahu, apa sebutan aku bagimu? Masih teringat betul. Sejak kapan kau mulai muncul. Mewarnai hidupku yang amburadul. Bagai ksatria di tengah pertikaian. Kau kuatkan asaku yang hampir berguguran. Hari-hari berlalu. Terlalu singkat kala itu. Tiada lagi sendu di wajahku. Meski malam tanpa bintang. Hadirmu cukup membuat jiwaku terang benderang. Hingga tiba waktu yang tak pernah kutunggu. Kau menghilang tanpa memberitahu. Ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja pujaanku? Cemasku tak kunjung terjawab olehmu. Lalu, sebuah foto mendarat di gawaiku saat pagi buta. Tentangmu dangannya yang tampak bahagia. Jadi inikah alasannya. Hatiku hancur seketika. Teriakanku tercekat tanpa suara. Air mataku tumpah mencari muara. Namun, aku lega, setidaknya kau baik-baik saja. Kini, saat kepingan hatiku tertatih-ta

Mariposa

Gambar
Caci para lebah adalah sarapanku Hina sibar-sibar jadi makan siangku Cerca para kelelawar teman makan malamku Ocehan kunang-kunang nyanyian tidurku Melata dari daun ke daun Berlindung dari paruh-paruh menyeramkan Kadang terlambat berteduh ketika hujan Membuatku gemetar kedinginan Duniaku memang menyakitkan Hingga hatiku kelelahan Ingin rasanya terlelap lama dalam buaian mimpi Saat rasa kantuk hebat tiba-tiba menghampiri Semalam, seminggu, sebulan Entah berapa lama aku tersekap Seluruh tenaga aku kerahkan Mengeluarkan diri dari ruang nan pengap Sesekali aku terjatuh Mengenali tubuhku yang benar-benar berbeda Aku berlatih tiada jenuh Kepakkan kedua sayap penuh warna Tiba-tiba para pencemooh memandangiku Berbisik-bisik siapakah dirinya Mata-mata itu tak berhenti mencurigaiku Sampai kukenalakan diri akulah si mariposa pixabay.com

Mereka Bersahabat Kembali

Gambar
pexels.com/Trinity Kubassek            “ Sial perutku keroncongan,” gerutu Joa. Tak ada pilihan lain ia harus keluar untuk makan. Gadis dengan rambut acak-acakan itu membuka pintu kamar dengan malas, sebelum akhirnya tertawa lepas melihat ada makanan di sana. Dilahapnya sepiring nasi goreng pedas itu tanpa tersisa sedikitpun. Mama mengintip kelakuan putrinya dari celah pintu yang sedikit terbuka, sebuah senyum kecil terlukis di wajah teduhnya.             Satu gelas air kurang, Joa berlari menuju dapur untuk mengambil minum. Setelah rasa pedasnya berkurang, gadis itu mencuci piringanya. Sedari kecil ia sudah dilatih untuk mencuci piringnya sendiri. Di manapun ia berada kebiasaan itu dilakukan, tentu saja ini tidak berlaku jika sedang makan di restaurant. Joa terkejut saat mengetahui mama menepuk pundaknya.             “Tidak sedih lagi kan?”             “Entahlah…”             “Hmmm Mama kira sudah happy .”             Joa meringis, terdiam beberapa saat kemudian kedua

Sahabat yang Pergi

Gambar
           pixabay.com/skitterphoto              Gadis itu masih tergugu seorang diri di kamarnya. Mama yang sedari tadi mengetuk tidak dihiraukannya. Akhirnya wanita berkaca mata itu meletakkan nampan berisi nasi goreng dan segelas air di depan pintu kamar Joa. Ia tak suka menahan lapar lama-lama, nanti juga berhenti sendiri menangisnya.             Joa pulang sendirian sore itu, sebenarnya setiap hari pun begitu. Sikapnya yang dingin dan raut mukanya yang datar membuat teman-teman sekolahnya tak ada yang dekat dengannya. Apalagi Joa pendiam, nggak asyik diajak ngobrol. Pernah suatu hari, Jenny, teman sebangkunya bercerita lebar tentang Jason, kakak kelas yang curi-curi pandang dengannya ketika istirahat di kantin. Namun, Joa hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, hanya  matanya yang berkedip-kedip sesekali.             “ Ngomong itu pakai mulut Jo, bukan pakai mata,” umpat Jenny kesal. Sebelum akhirnya memilih pindah tempat duduk yang membuat bangku sebelah Jo

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Gambar
Cinta memang anugerah. Tapi kita diberi akal sehat untuk memaknai setiap anugerah dengan sebaik-baiknya. Judul               : Antara Cinta dan Ridha Ummi Penulis             : Asma Nadia Penerbit           : Asma Nadia Publishing House Jumlah halaman : 235 halaman             Ketika selesai membaca beberapa bab novel Antara Cinta dan Ridha Ummi muncul pertanyaan dari saya pribadi, “Kok nama tokoh utama yang disebutkan di sinopsis tidak muncul ya?” Akhirnya saya baca ulang cover bagian belakang dan baru sadar kalau penulis sudah menyampaikan bahwa dalam buku ada dua kisah yang disajikan. Cerita pertama berada dalam bagian 17 Catatan Hati Ummi dan selanjutnya baru Antara Cinta dan Ridha Ummi. Kedua kisah ini tidak saling berhubungan, tetapi masih mengangkat satu bahasan utama, Ummi. koleksi pribadi             Dalam kisah pertama diceritakan bahwa Ummi Aminah ditinggalkan oleh suaminya karena wanita lain ketika kedua anaknya masih kecil, hal itu tentu saja me

Review Film My Brilliant Life

Gambar
imdb.com Apa mimpimu? Aku ingin menjadi anak yang bisa membuat orangtuaku tertawa. Tumbuh dengan sehat membawa sukacita kepada orangtua.  Tapi aku tak bisa melakukan semua itu.           Salah satu alasan saya menonton film  My Brilliant Life  yaitu karena pemeran wanitanya adalah si cantik Song Hye Kyo. Anggap saja film ini sebagai pemanasan awal sebelum menyaksikan drama terbarunya,  Boyfriend ,  yang akan tayang beberapa hari lagi. Film dengan judul lain  My Palpitating Life  ini merupakan salah satu film drama keluarga yang sangat menarik untuk ditonton. Terbukti saat rilis pada tahun 2014 film ini berhasil menduduki 5 besar  Box Office  pada minggu pertama tayang di Korea Selatan.           Film yang merupakan adaptasi dari novel berjudul “Doogeundoogeun Nae insaeng” karya Kim Ae-Ran ini dibintangi oleh Jo Sung Mok (berperan sebagai A Reum), Gang Dong Won (berperan sebagai Dae Soo/ayah A Reum) dan Song Hye Kyo (berperan sebagai Mi Ra/Ibu A Reum). Awalnya Dae Soo ber

Review Cerpen Bertemu Batu

Gambar
Judul               : Bertemu Batu Penulis             : Gde Aryantha Soethama Dipublikasikan : Kompas, 18 November 2018 Link                 : https://lakonhidup.com/2018/11/18/bertemu-batu/ Hazim Muhammad Zarkasyi Hakim/Kompas              Bagaimana perasaan Anda ketika sudah mencoba berbagai cara tapi sakit tak kujung pergi juga? Putus asa, hal ini yang dialami oleh tokoh dalam Cerpen Bertemu Batu. Namun perasaan tersebut tidak dibiarkannya berlarut-larut, ia mencoba cara baru lagi untuk menyembuhkan diri. Cerita bermula ketika tokoh utama, seorang laki-laki, yang sudah dua tahun berjemur di pantai, membuat galian dan membenamkan diri hingga yang terlihat hanya kepalanya saja. Usaha ini dilakukan berdasarkan saran dari teman-temannya, memang badannya jadi terasa enteng namun penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh, bahkan tak ada perubahan sama sekali.             Namun meskipun tak mendapatkan kesembuhan, setidaknya ia banyak bertemu orang, bercakap-cakap k

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Gambar
Sri huning mustiko Tuban Labuh tresno lan saboyo pati (Sri Huning mustika Tuban, berkorban demi cinta dan hingga rela mati) Marang Raden Wiratmoyo Kang wis prasoji hanambut branti (Pada Reden Wiratmoyo, yang telah bersumpah dan berikrar janji) Sri huning daton ngrahito Kang rinipto kadange pribadi (Sri Huning tidak menyangka, yang dipuja saudara sendiri) Wiratmoyo putra niro Surolawe Adipati Tuban (Wiratmoyo putranya Surolawe Adipati Tuban) Sri huning putrane abdi Wongso pati nalikane uni (Sri Huning anaknya abdi Wongso pati (pahlawan perang yang gugur) dikala itu)  Kapupuk ing madyo logo Duk prang tandhing lawan minakjinggo (Yang gugur dalam peperangan, saat perang tanding dengan Menakjinggo (Adipati Blambangan))  Katresnane wiratmoyo Tinampi dene roro sri huning (Cintanya Wiratmoyo, diterima oleh Sri Huning) Senadyan wekasan niro Prepateng lampus alabuh negoro (Walaupun pada akhirnya, gugur membela negara)*       Sri Hu

Pensil Ajaib

Gambar
pexels.com/Marko Blazevic             Hujan turun semakin deras, Tejo basah kuyup lalu berlindung di bawah pohon besar. Lelaki itu tak menyadari sudah lari sejauh ini. Tak ada satu rumah pun dilihatnya. Sesekali petir menyambar, tiba-tiba teringat pesan ibu dulu bahwa kalau hujan disertai petir jangan berada di bawah pohon. Tapi bagaimana lagi, tak ada pilihan lain. Setelah dipikir-pikir tidak mungkin ia bermalam di sini, daripada sudah terlanjur basah lebih baik ia melanjutkan perjalanan siapa tahu ada tempat berteduh yang lebih layak di sana.             Sepertinya langit iba padanya, setelah beberapa langkah ia berjalan hujan berangsur-angsur jadi gerimis saja. Keberuntungan lain pun mengikuti, sebuah gubuk nampak di ujung sana. Bergegas ia menghampiri. Gubuk tua itu tertutup rapat. Tejo memutuskan untuk tiduran di kursi panjang yang kebetulan ada di depan gubuk. Ingatannya kembali pada kejadian sore tadi, anak buah lintah darat itu mendobrak pintu rumahnya. Tejo yang belum

Tentang Rindu

Gambar
     Aroma kopi menguar memenuhi bilik bambu yang usang. Karso duduk seorang diri, menyeruput minumannya tak terasa tinggal seteguk saja. Ia melirik istrinya yang dari tadi memandanginya. Akhirnya ia memutuskan untuk mendekati pujaan hatinya itu, meninggalkan cangkir kosong di meja.  “Lastri, anak kita sedang apa ya sekarang?” Istrinya menjawabnya dengan senyuman. Mungkin ia sudah bosan mendengar pertanyaan itu. Hampir setiap malam ia menanyakannya.  “Dia makan apa ya hari in?” Pertanyaan bodoh, mana mungkin istrinya tahu. Pantas saja Lastri tak menjawab. “Apa dia sudah punya kekasih di sana, wanita yang cantik seperti dirimu?” sejenak Karso berfikir sebelum melanjutkan kalimatnya “ah tidak, tidak ada satu pun wanita yang bisa mengalahkan kecantikanmu.” Istrinya masih mengulang senyumnya. Lastri memang selalu malu-malu saat dibilang cantik. Apalagi jika yang mengatakan adalah suaminya. Karso tertegun, matanya mulai mengembun. Entah mengapa

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela