Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Skala Prioritas


Di era yang serba digital ini, banyak sekali kemudahan yang bisa dicapai dengan sekali klik. Salah satunya yaitu kemudahan dalam berbelanja. Toko online menjamur di berbagai situs. Kondisi ini tentunya memberikan keuntungan bagi pembeli, mereka tidak perlu jauh-jauh ke pasar ataupun ke mall untuk memenuhi kebutuhan mereka. Cukup lewat ponsel genggamnya apapun yang dibutuhkan bisa dibelinya langsung saat itu juga.
Namun ada hal yang perlu disadari, kemudahan berbelanja di era digital secara tidak langsung membuat kita berubah menjadi lebih konsumtif. Hal ini dipengaruhi oleh cara pedagang online untuk menarik konsumen sangat luar biasa, seperti memberikan diskon yang besar-besaran, memberikan gratis ongkir, cash back, bonus voucher, dll. Dengan keuntungan yang seabrek tersebut bisa mengubah minat seseorang yang awalnya tidak ingin membeli jadi membeli, bahkan ada yang seharusnya tidak butuh tapi karena promonya sangat menggiurkan jadi tergoda untuk membeli juga. 
     “Siapa tahu suatu saat butuh, mumpung lagi murah kan kapan lagi bisa begini.” Dalihnya.
Keinginan berbelanja yang tiada habisnya sedangkan isi dompet ada batasnya, kadang membuat kita galau, mana yang harus dibeli mana yang tidak perlu. Karena jika memaksakan untuk membeli semuanya maka tamat sudah riwayat kehidupan kita di hari selanjutnya. Untuk meminimalisir kegalauan ini ada banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya yaitu menyusun skala prioritas. 
Skala prioritas adalah ukuran kebutuhan yang tersusun dalam daftar berdasarkan tingkat kebutuhan seseorang yang dimulai dari kebutuhan paling penting sampai kebutuhan yang bersifat bisa ditunda. Dengan skala prioritas kita diharapkan mengetahui mana kebutuhan yang harus didahulukan dan mana kebutuhan yang harus ditunda, dengan begini pemenuhan kebutuhan yang tidak tepat dan cenderung konsumtif dapat dihindari. (ilmu-ekonomi-id.com)
Setidaknya dalam menyusun skala prioritas ada empat hal yang menjadi pertimbangan, di antaranya yaitu:
1. Tingkat urgensinya
 Menurut KBBI urgensi memiliki arti keharusan yg mendesak; hal sangat penting. Jika dikaitkan dengan skala prioritas, tingkat urgensi merupakan tingkat kepentingan pada suatu kebutuhan yang harus dipilih dan harus didahulukan. Sehingga dalam menentukan sebuah pilihan, maka kita harus memilah kebutuhan mana yang benar-benar urgen dan harus kita dahulukan dalam pemenuhannya.
2. Kesempatan yang dimiliki
    Dalam skala prioritas, perlu ditinjau kembali kesempatan untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Jika dirasa memang kesempatan itu sulit datang, maka tidak menutup kemungkinan untuk mendahulukan pada kebutuhan tersebut. Berlaku sebaliknya, jika dirasa kesempatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut sangat sering, maka tinjaulah pilihan lain yang kesempatannya sedikit.
3. Pertimbangan masa depan
 Dalam menentukan skala prioritas kebutuhan, pertimbangan ke masa depan sifatnya pada kebutuhan jangka panjang. Kita seringkali dihadapkan pada pilihan yang sulit dimana kita dituntut untuk mengurangi rasa menyesal di masa yang akan datang atas pilihan yang kita dahulukan. Sehingga, ketika menentukan skala prioritas, maka pertimbangan masa depan akan menjadi hal yang sangat penting dan perlu untuk dipikirkan.
4. Kemampuan diri
    Dalam hal penentuan prioritas, kemampuan diri merupakan sebuah tolak ukur seberapa besar kemampuan kita untuk mendapatkan pilihan yang telah ditentukan, baik dari segi keahlian, ekonomi, usaha yang akan dilakukan, maupun yang lainnya. 
Untuk memudahkan penyusunan skala prioritas, salah satu cara yang bisa dilakukan yaitu membuat tabel skala prioritas. Tabel ini diperkenalkan oleh Steven R. Covey dengan tujuan untuk memudahkan kita dalam menentukan sebuah prioritas dalam memenuhi kebutuhan. Di bawah ini tabel prioritas yang sangat bermanfaat untuk menentukan kebutuhan mana yang harus didahulukan:


ekspektasia.com

     Pada gambar tabel skala prioritas di atas, terlihat ada empat kuadran yaitu kuadran I, kuadran II, kuadran III dan kuadran IV.

  • Kuadran I: kebutuhan yang penting dan mendesak untuk segera dipenuhi.
  • Kuadran II: kebutuhan yang penting tetapi kurang mendesak untuk dipenuhi.
  • Kuadran III: kebutuhan yang kurang penting namun mendesak untuk dipenuhi.
  • Kuadran IV: kebutuhan yang kurang penting dan kurang mendesak untuk dipenuhi.
     Berikut ini langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menyusun skala prioritas:

  1. Tulislah semua kebutuhan yang ada, hilangkan yang benar-benar tidak begitu penting.
  2. Susunlah urutan kebutuhan berdasarkan tingkat kepentingannya.
  3. Buatlah catatan kebutuhan pendanaan yang ada.
  4. Dari catatan yang ada, pilihlah kebutuhan yang paling memberikan manfaat secara optimal.
  5. Penuhi semua kebutuhan sesuai dengan daftar yang telah ditentukan
(ekspektasia.com/pengertian-skala-prioritas/).

     Nah dengan adanya susunan skala prioritas yang telah kita buat harapannya kegalauan antara membeli atau tidak bisa terobati. Barang diskonan memang memikat hati tapi tak semuanya harus dimiliki bukan? Yuk mulai berpikir kritis sebelum membeli, agar perilaku konsumtif tidak merajai.

#Day33 #ODOPbatch6 #OneDayOnePost



Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela