Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Si Gadis Ayu

         Aku mengenalnya hampir tiga bulan. Gadis ayu berkaca mata yang selalu menunggu di samping gapura setiap pagi. Jika tidak salah tebak mungkin umurnya berkisar 20-an. Tubuhnya mungil bahkan aku tak merasakan berat apapun saat membawanya. Senyum manisnya merekah, bahagianya terlihat membuncah saat aku datang. Hal itu membuatku sangat berharga. Mencintai tugasku untuk mengantarnya.
            Hampir lima hari aku tak bertemu lagi dengannya, Bang Jali sakit hingga tak mengajakku keluar sama sekali. Rindu, aku benar-benar rindu. Pada gadis yang sering memakai kerudung ungu. Tak lupa ransel kecil bermotif bunga sakura dan sepatu dengan warna yang senada menjadi teman baiknya. Ah, beruntungnya mereka bisa membersamai si gadis ayu sepanjang hari. Tidak seperti diriku yang hanya bercengkerama dengannya beberapa menit saat pagi.
            Aku bersemangat hari ini, kabarnya Bang jali sudah bugar kembali. Tak sabar rasanya untuk bertemu dengan si gadis ayu lagi. Akhirnya aku keluar dari persembunyianku. Pukul 6 pagi Bang Jali membawaku ke SPBU terdekat untuk mengisi tenagaku. Dari sanalah perjalanan kami dimulai. Menuju arah pasar kami mengantar ibu-ibu yang sepertinya mau menjajakan kue-kuenya. Di sampingnya duduk seorang anak dengan seragam abu-abu putihnya hendak berangkat sekolah. Sedikit sepi, tapi tak apa kami masih bersemangat untuk memperjuangkan hari ini.
            Sudah waktunya, sebentar lagi aku akan bertemu gadis itu. Namun, hatiku hancur saat tak menemukannya di pinggir gapura. Ah, apakah aku kesiangan. Atau ia kini berangkat lebih pagi lagi. Khayalku bertemu dengannya musnah sudah. Tapi aku mencoba berpikir tenang, besok bukan hari Minggu kan? Jika hari ini gagal toh aku masih bisa bertemunya esok hari. Baiklah, aku mencoba menghibur diri agar bersabar.
Ngalam.co

            Biasanya dia duduk di dekat pintu penumpang. Entah apa alasannya hingga membuatnya memilih posisi tersebut. Pernah sekali ia duduk di samping Bang Jali, mereka pun mengobrol di sepanjang perjalanan. Hal itu tentu saja membuatku iri, jangankan bercakap-cakap menyebut namanya saja aku tak sanggup. Sebenarnya aku bisa berbicara, namun ia tak mungkin mendengarnya. Tak apa, melihat wajah ayunya saja aku sudah bahagia.
            Beberapa meter setelah meninggalkan gapura kami berhenti lagi, tidak ada orang yang sedang menunggu di sana. Ku lihat Bang Jali turun, sebelumnya ia meminta maaf pada para penumpang karena hendak mengantar barang sebentar. Tak apa, bapak berkumis itu selalu menepati janjinya jika ia sudah mengatakan sebentar pasti memang demikian. Sembari menunggu aku menikmati indahnya pemandangan. Tiba-tiba, sebuah motor melewatiku. Aku terkejut, bagaimana tidak, yang sedang membawanya adalah si gadis ayu. Aku bisa mengenalinya meski wajahnya tertutup helm. Jadi ia sekarang memilih untuk naik motor daripada duduk di bangkuku. Sedih, jadi seperti ini rasanya ditinggalkan. 


#Day53 #ODOPbatch6 #OneDayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela