Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Menjalankan Peran

Scroll scroll dapat insight, itu adalah kalimat yang tepat untuk saya malam ini. Saya mampir dalam sebuah akun mentor, ia sedikit sharing tentang pengalamannya menjadi relawan di Sulawesi Tengah. Hal yang saya garis bawahi dari captionnya yang panjang adalah “Apapun yang peran yang Allah hadirkan untukmu saat , nikmatilah. Hadir dengan sepenuh hati. Ambil inisiatif yang tinggi, bingung saat menjalani peran, bertanyalah,” kemudian ia melanjutkan “Nikmati saja peranmu. Saat ini, itulah yang Allah izinkan untuk dijalani. Ambil hikmah sebanyak-banyaknya. Agar kelak di peran selanjutnya kita semakin diyakinkan, dimampukan dan ditabahkan.”
 Indah bukan? Mungkin tulisan ini cocok untuk kita yang secara tak sadar sedang menggerutu. Ya, kadang kita sering menggerutu karena peran yang ‘cuma’ menurut presepsi kita sendiri.
“Wah, saya cuma bisa jadi teman curhat aja nggak bisa ngasih bantuan langsung.”
“Wah, saya cuma bisa doain aja.”
“Wah, saya cuma bisa donasi aja nggak bisa jadi relawan.”
“Wah andai saya lebih kaya lagi pasti akan donasi lebih banyak lagi.”
Dan masih banyak kalimat ‘cuma’ lainnya. It’s okay dear, tak apa bila memang mampunya demikian. Asalkan kita memaksimalkan kemampuan itu dengan sebaik-baiknya. Jika hanya mampu jadi teman curhat, ya cobalah untuk menjadi pendengar yang baik, anggap saja diri kita berada di posisi teman kita agar semakin bersimpati. Jika hanya bisa mendoakan ya pastikan berdoa yang baik dengan cara terbaik, bukan Cuma sekali tapi berkali-kali. Jika hanya bisa berdonasi ya pastikan itu donasi terbaik kita. Jika kita mampu menjalankan peran kita dengan baik saat ini, maka bisa jadi kita akan dimampukan untuk menjalani peran lainnya yang pastinya lebih baik. Begitu menurut saya penjabaran dari pesan tersebut.
pixabay.com/Larisa-K

Saya pun ingat seseorang yang saya hormati berbagi inspirasi dalam menjalankan peran di sebuah organisasi. Kurang lebih seperti ini, “Jika kamu berada dalam struktur organisasi, kerjakanlah posisimu sebaik mungkin. Tak perlu merasa tak dihargai karena tak ditampilkan. Organisasi itu ibarat pohon, jika posisimu sebagai batang, maka jadilah batang yang kokoh untuk menopang pohon. Jika posisimu sebagai cabang, maka jadilah cabang yang mampu menggandeng setiap ranting dan daun. Jika posisimu sebagai daun, maka jadilah daun yang rimbun supaya pohon bermanfaat untuk menaungi orang kepanasan. Jika posisimu sebagai buah, maka jadilah buah yang manis supaya nama baik pohonmu terjaga. Jika posisimu sebagai bunga, maka jadilah bunga yang merekah indah supaya pohonmu terhiasi dan dikenal orang.”
“Bahkan jika posisimu tak terlihat, maka jadilah akar yang kuat mencengkeram ke tanah demi tegakknya seluruh struktur pohon tersebut. Maka hendaknya semua anggota menanamkan rasa tanggung jawabnya, supaya tak saling iri terhadap satu tubuh. Sebagaimana akar, walaupun dirinya tak terlihat, tertimbun tanah, dan sering terinjak orang namun dirinya tak pernah iri untuk menjadi bunga merekalah yang ada di atas dan dikenal banyak orang. Karena ia tau, bunga pun beresiko dipetik orang tanpa tujuan.”
 Yuk kita bersyukur dengan apapun peran yang kita jalani saat ini.


#Day47 #ODOPbatch6 #OneDayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela