Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Kisah di Hari Pertama



               “Sayang, apakah masih terasa sakit?”
            Istriku hanya menggeliat, tanpa jawaban sepatah kata pun. Sepertinya ia masih ingin beristirahat sepenuhnya hari ini. Kupandangi lecet di tubuhnya, miris sekali. Beberapa bercak lumpur pun mengotori di sana-sini. Kondisiku tak jauh berbeda, hanya saja aku tidak terluka seperti dirinya.
            Ia bernama Riri dan aku bernama Nanan, sebuah nama yang kami peroleh dari pangeran kami. Sebenarnya jadi raja pun ia sudah pantas, berkatnya kami terbebas dari ruangan sempit nan pengap itu. Tapi karena ia masih muda, kami memutuskan untuk memanggilnya pangeran.
Aku lebih bersyukur lagi karena akhirnya bisa semakin dekat dengan gadis yang hanya bisa kupandangi sejak kami bertemu. Ia pendiam, dengan rupa yang sama persis denganku. Aku tak menyangka, setelah satu minggu berada di rumah baru kami, Riri menerima lamaranku. Sore itu juga, kami mengucap janji sehidup semati.
Tanggal 5 Oktober, aku masih mengingat betul akan hari pembebasan itu. Dari kalender yang berdiri tegak di meja kasir aku mengetahuinya. Berlembar-lembar uang lima ribuan pun tergeletak di sana. Sepertinya milik bocah bermata ceria yang tengah asyik menimang-nimang kami.
“Yakin nggak mau yang model terbaru aja Dik?” tanya wanita dengan gincu merah merona itu.
“Nggak Mbak yang ini aja,” jawabnya mantab.
Kamarnya bersih sekali, begitu kesanku saat berada di ruangannya pertama kali. Meskipun tidak begitu luas, semua barang miliknya tertata rapi. Senangnya, ini lebih indah dari ruangan berdebu itu. Setelah melatakkan kami di atas rak yang tak berpenghuni, bocah bertubuh tinggi itu memasukkan uang dari saku celananya ke dalam kaleng biskuit di ujung meja. Sepertinya itu kembalian atas pembayaran tadi, aku pun berkesimpulan bahwa untuk mengadopsi kami ia rela untuk menabung terlebih dahulu.
Ia beralih menuju laci, mencari sesuatu. Dengan girang ia mengenggam benda itu dan menghampiri kami.
“Ini untuk Riri Kiri,” ucapnya seorang diri sambil melepas tali putih yang dimiliki gadis di sampingku.
Sepertinya saat ini giliranku, seuntai tali kuning muda lainnya masih digenggamnya. Tapi ia terdiam memandangiku. Dari wajahnya aku mengerti bahwa ia sedang berpikir.
“Sepertinya Nanan Kanan lebih cocok jika talinya tidak diganti,” ucapnya lalu mendekatkan kami berdua, “nah ... kalian terlihat lebih unik.”
Setelah peristiwa itu kami ditinggalnya. Entah kapan kami hendak dipakainya. Aku pun mengisi waktu dengan mulai mengobrol dengan Riri. Ia tampak semakin cantik dengan tali barunya. Ternyata ia gadis yang menyenangkan, semakin hari aku semakin jatuh cinta padanya.
Tepat 14 hari kami dibiarkan di rak hijau itu akhirnya pangeran kami iba juga. Dengan kaus kaki abu-abu, kami dipakainya. Sore yang cerah sepertinya hujan sudah reda satu jam yang lalu, kami diajak berjalan-jalan keliling taman. Sepertinya pangeran sedang menunggu seseorang. Kami saling berbisik kira-kira siapa yang akan datang. Apa mungkin kekasihnya?
Hampir petang, akhirnya kami pun pulang. Pangeran kami bersiul di sepanjang perjalanan. Ah ... ia pasti sedang berbahagia. Kami pun turut bergembira. Namun tiba-tiba saja sebuah motor menyerempet. Pangeran kami terjatuh. Kudengar Riri menjerit kesakitan, ia terbentur sebuah batu. Aku khawatir tak karuan, hingga akhirnya pangeran mampu untuk berdiri kembali. Karena masih linglung ia terhuyung ke pinggir jalan yang becek, lumpur-lumpur itu menyerbu kami.
Kejadian dua hari yang lalu masih teringat jelas di ingatanku. Hari pertama yang awalnya menyenangkan namun berakhir memilukan. Aku terkejut saat pangeran kami menghampiri. Kubangunkan istriku yang masih terantuk. Sepertinya pangeran tidak terluka parah, aku pun lega. Kami dibawa ke depan rumah. Disana sudah menunggu sebuah bak berisi air, di sampingnya tergeletak kain dan sabun. Aku memperoleh giliran pertama untuk dimandikan. Kemudian kami dijemur di bawah terik matahari yang menghangatkan.
“Sayang, apakah tadi menyakitkan?” tanyaku khawatir, ia terluka pasti sakit bila terguyur air.
“Tentu saja tidak, pangeran membasuhku dengan lembut.”
Aku pun lega.

twitter.com/nandaniel


#TantanganODOP6 #OneDayOnePost #fiksi

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela