Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Jodohmu




pexels.com

Dinda masih menangis sejak dua jam lalu. Wajahnya menelungkup di atas bantal. Entah sudah berapa ratus lembar tissue yang ia habiskan malam ini. Sesekali ia melirik ponsel yang tergeletak di sampingnya. Semakin lama ia menatap gambar di layar itu, semakin keras tangisannya. Sementara itu, di ujung kasur yang berbeda Anita hanya menatap sahabatnya iba. Tak tahan dengan kondisi itu, akhirnya ia mendekati Dinda, mencoba menghiburnya.
“Sudahlah Dinda, ikhlasin aja ya,” ujarnya sambil mengelus rambut sahabatnya.
“Tapi Nit, kamu kan tahu aku sudah mencintai Kak Rian tiga tahun lamanya,” ia meraih selembar tissue lagi , “sakit hati aku tuh Nit.”
“Iya aku ngerti, tapi sampai kapan kamu mau nangis terus begini?”
“Selamanya ...” jerit Dinda.
“Hush, jangan begitu dong Dinda cantik.”
“Kamu tahu nggak Nit, aku sampai bela-belain ikut organisasi yang sebenarnya nggak aku sukai demi bisa ketemu Kak Rian setiap hari.”
Anita hanya mengangguk kini. Ia mencoba membiarkan sahabatnya mengeluarkan seluruh unek-uneknya. Berharap bisa membuatnya lebih lega.
“Terus nih ya, tiap hari, tiap jam aku pantengin terus postingan dia nggak ada satupun ada gambar wanita di dalamnya, jangankan wanita bicara tentang cinta saja tak pernah,” Dinda menyeka air matanya, “tapi kenapa tiba-tiba sekarang dia menikah coba?”
            “Iya Din, sabar ya.”
            Dinda bangun dari posisi tidurnya kemudian merangkul sahabatnya. Rasa kehilangan kini telah menusuk hatinya yang terdalam. Ia tak menyangka kisah cintanya akan bertepuk sebelah tangan. Matanya menerawang ke arah langit-langit, sialnya di sana pun ia temukan wajah Kak Rian tengah tersenyum bahagia dengan kekasih halalnya. Ia melepaskan diri dari Anita, kembali menutup wajahnya dengan bantal. Gelap, lebih baik begini tak ada wajah itu lagi.
            Anita kemudian keluar meninggalkan sahabatnya, ia mengambil sepiring nasi goreng yang sudah dingin karena terlalu lama menunggu untuk dimakan. Sementara tangan kirinya membawa satu gelas es jeruk yang baru saja ia keluarkan dari kulkas. Menu kesukaan Dinda.
            “Din, makan dulu gih,” bujuknya. Sementara itu sahabatnya hanya menggelang.
            “Ini nasi goreng spesial Mang Acep loh, ekstra ayam pula.”
Bujukannya berhasil, meski lambat akhirnya sahabatnya melahap habis nasi goreng itu. Sepertinya Dinda memang sudah lapar dari tadi, hanya saja ia malu jika harus mengambil makanan sendiri sambil menangis. Setelah kenyang, Dinda meringis di depan sahabatnya.
“Makasih ya.”
“Iya, udah ya jangan sedih terus bisa jadi ia tidak berjodoh denganmu karena kamu pantas mendapatkan jodoh yang lebih baik darinya.”
“Hmmm, gitu ya Nit semoga jodoh aku sama sholehnya dengan Kak Rian ya,” ujar Dinda penuh harap.
“Tapi, bisa jadi juga kamu tidak berjodoh dengannya karena ia pantas menemukan jodoh yang lebih baik dari kamu.”
“Anita ...” kini Dinda berteriak. Nasihat terakhir temannya itu sungguh menyayat hati. Memang begitulah Anita, selalu ceplas-ceplos dalam menasehati. Tapi jika dipikir lebih jauh lagi perkataan itu ada benarnya juga, jodohmu adalah cerminan dari dirimu.

#TantanganODOP4 #OneDayOnePost #ODOPbatch6 #fiksi




Komentar

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela