Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Jangan Tergesa-Gesa

           
pexels.com/Quintin Gellar
Hari ini saya berkesempatan untuk membaca salah satu artikel di sebuah majalah islami. Dalam edisi bulan Januari 2018 yang menjadi tema adalah tentang larangan tergesa-gesa. Tergesa-gesa adalah menginginkan sesuatu yang semestinya bukan waktunya. Keadaan ini terjadi dikarenakan seseorang memiliki hasrat yang besar terhadap sesuatu tersebut. Karenanya, Al-Qur’an menyebutnya sebagai sebuah keburukan.
            Lawan dari tergesa-gesa yaitu berhati-hati. Orang-orang yang bersikap hati-hati, mereka senantiasa bersikap bijak dan tenang. Tidaklah ia memutuskan sesuatu kecuali sudah mempelajarinya dengan benar. Tidaklah ia mengatakan tentang suatu hal kecuali benar-benar melihatnya dan mendengarnya sendiri. Orang-orang yang tenang, mereka lebih dekat dengan kebenaran. Mereka menyenangkan dan dapat dipercaya.
            Berbagai penyakit hati akan dengan mudah dijangkitkan oleh setan, di antaranya:
1.      Orang yang tergesa-gesa lemah dalam komitmen ketaatan
Tergesa-gesa dalam menginginkan sesuatu boleh jadi akan membuat kita abai dengan kewajiban-kewajiban agama yang muncul setiap waktu. Sepanjang hari, sepanjang waktu, di manapun ada ketentuan-ketentuan syariat yang itu bernilai wajib dan sunnah. Ketergesaan akan membuat kita abai dengan ketaatan-ketaatan tersebut.
2.      Orang tergesa-gesa mudah putus asa
Orang yang tergesa-gesa mengira ketergesaannya akan mempercepat dia sampai pada yang diinginkan. Padahal ketetapan Allah SWT berlaku sesuai kehendakNya bukan kehendak kita. Maka bisa dibayangkan ketika ketentuan Allah SWT tak sama dengan yang kita kehendaki. Orang-orang yang tergesa-gesa akan jatuh pada keputusasaan ketika apa yang diharapkan tidak sesuai kenyataan.
3.      Orang yang tergesa-gesa hilang kepekaan
Bagian lain akibat buruk ketergesaan adalah abai dengan hak orang-orang sekitar. Pikirannya dipenuhi dengan sesuatu yang mungkin ia khawatiri atau sangat ia inginkan. Sampai-sampai lupa dengan hak orang sekitarnya.
4.      Orang yang tergesa-gesa lupa mensyukuri nikmat
Iblis yakin bahwa jalan untuk menerekakan seseorang jalan utamanya adalah mencabut rasa syukurnya. Dan jalan mentidaksyukurkan seseorang yang paling mudah adalah membesar-besarkan angan manusia sehingga mereka jatuh pada ketergesa-gesaan.
5.      Orang yang tergesa-gesa tidak sabar
Kalau sudah menurun ketaatan, hilang kepekaan, sering putus asa, dan lupa mensyukuri nikmat maka paket kerusakan jiwa menjadi lengkap dengan hilangnya rasa sabar.
Sumber:
Majalah Nurul Hayat edisi 168 Januari 2018, halaman 8-10.


            #Day40 #ODOPbatch6 #OneDayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela