Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Jadilah Pacarku

           
pixabay/Bess-Hamiti

           Hujan belum juga reda, sepertinya ia ingin balas dendam setelah berbulan-bulan terlambat jatuh ke bumi. Sudah pukul lima sore, aku masih duduk seorang diri di halte bus dekat kampus. Ah, sudah kuduga kebiasaan si bocah gembul itu pasti ngaret. Tapi untuk saat ini aku memakluminya, dia bilang jas hujannya cuma satu tak tega bila melihatku basah kuyup begitu alasannya.
            Aku menengok ke kanan dan ke kiri, berharap ada mamang yang jualan tahu petis keliling untuk mengganjal perutku yang mulai keroncongan. Tidak ada, pasti hujan juga yang jadi alasannya. Tak sengaja aku menangkap sosok gadis yang berlari kecil menuju halte tempatku menunggu. Ia menutup kepalanya dengan map plastik merah. Wajahnya sedikit basah, tapi tak melunturkan parasnya yang ayu.
            Mendadak aku jadi salah tingkah, bagaimana tidak, ia adalah gadis yang sudah lama aku kagumi. Namanya Mayang Ayu Sasmitha, bila ada yang menanyakan di mana alamatnya, kapan dia lahir, apa warna favoritnya, apa makanan kesukaannya bahkan jam berapa ia biasa tiba di kampus aku bisa menjawab semuanya. Apakah mudah untuk mendapatkannya? Oh tentu saja tidak, aku harus rela menscroll seluruh akun media sosialnya. Aku harus rela malu-malu bertanya pada sahabatnya yang kebetulan dia alah sepupuku sendiri. Masih banyak lagi kerelaan yang harus kulakukan, namun semua itu membuatku bahagia karena berhasil menjadi secret admirer sejati.
            “Eh ada Kak Gilang, udah lama Kak?” sapanya membuatku gelagapan.
            “Oh ... enggak kok baru sejam.”
            “Wah sejam mah lama Kak hehe.”
            Kami memang sudah saling kenal, karena sudah hampir satu tahun berada dalam satu organisasi yang sama. Tapi sayangnya ia belum juga mengetahui bahwa aku mengaguminya sejak lama. Bukan salah dia juga sih, toh aku juga tak pernah punya keberanian untuk mengungkapkannya. Mendadak muncul sebuah ide yang membuatku semakin tegang. Bagaimana kalau aku mengungkapkan perasaanku saat ini? Sepertinya situasinya sangat mendukung. Kami hanya berdua, hujan gerimis menjadi bumbu romantisnya. Tapi, kalimat apa yang harus aku ungkapkan?
            “Mayang, sebenarnya aku sudah lam mengagumimu.”
            “Mayang, kamu masih sendiri kan? Bolehkah aku menjadi pengisi hatimu?”
            “Mayang, jadilah pacarku.”
            Ah, semuanya terdengar bodoh. Aku berpikir keras untuk mencari kalimat yang lebih indah. Kucoba memutar kembali berbagai film romantis yang pernah aku tonton, hilang, semuanya hilang, tak ada satu kalimat romantis lain yang muncul. Lidahku kelu, akhirnya hanya menatap wajahnya yang tengah duduk memperhatikan ponselnya.
Aku terus memperhatikan bibir mungilnya yang tampak berkomat-kamit. Aku tersadar sepertinya ia sedang membaca Al Qur’an. Meskipun lirih dan beradu dengan suara hujan kini aku mendengarnya. Mendadak keinginanku untuk menyatakan cinta hilang begitu saja. Cintaku yang begitu tulus untuknya sepertinya tak pantas bila kunodai dengan hubungan sebatas pacaran. Sederet harapan pun mulai bermunculan, semoga aku segera dimampukan agar bisa mengajaknya menjadi kekasih halal. Bukankah hujan adalah salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa?



#Day54 #ODOPbatch6 #OneDayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela