Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Ibu yang Rindu

           
pixabay.com/sabinevanerp

            Hari ini kau memasuki ruangan bercat ungu ini. Umurmu 50 tahun, aku pernah mendengarnya sayup-sayup saat suamimu memberikan kue ulang tahun dua bulan lalu. Jari-jarimu yang mulai keriput masih saja gesit mengelap barang-barang yang tersusun rapi di atas meja kayu pojok kamar ini. Tiba-tiba kamu terdiam saat menyentuh sebuah foto di ujung meja, sebuah senyum kecil tersungging dari wajahmu.
              Meski samar, dalam foto itu tampak putri kecilmu yang kini mulai tumbuh dewasa tersenyum girang di antara kedua saudaranya. Namanya Amira Putri Melati, barisan kata itu terpampang nyata dalam gantungan dinding yang terbuat dari kayu berukir. Ah ... sudah secantik apa dia sekarang, hampir setahun ia tak pernah terlelap di kamar ini. Padahal dulu, ia gadis yang tak pernah bisa jauh dari meja belajarnya. Jika pulang sekolah, maka cukup sudah tumpukan buku-buku tebal menjadi teman sejatinya.
                Kini kau beralih pada foto yang lain, di sana kulihat Amira bergaya bak model seorang diri. Anakmu memang cantik, bahkan teramat cantik. Bulu matanya lentik, matanya berbinar, senyumnya ceria membuat orang lain yang melihatnya ikut larut dalam kebahagiaan. Pernah ia membawa teman-teman sekolahnya bermain di sini, menurutku tak ada satu gadis pun yang menandingi. Beruntungnya lagi, selain cantik ia pun baik hati. Seekor kucing pernah ia pungut dari pasar dan dirawatnya dengan sabar hingga tumbuh besar. Ia sering bercerita tentang kelembutan belaian anak gadismu padaku bila berhasil menyelinap masuk di ruangan ini.
                Kulihat kau mengambil ponsel kecil yang sedari tadi bersembunyi di balik saku bajumu. Kau memencet tombol nomor lalu mengangkatnya di telinga kirimu, entah siapa yang kau hubungi. Namun sepertinya panggilanmu tak terjawab meski kau telah mengulangnya tiga kali. Tiba-tiba tetes demi tetes air mata jatuh di pipimu. Aku tak mengerti, apa yang membuatmu bersedih hati. Hingga kau berbisik pada foto yang baru saja kau letakkan.
                “Amira, Ibu rindu.”
                Adzan dzuhur yang mulai bekumandang membuatmu bergegas mengusap air matamu. Segera kau membereskan peralatan dan meninggalkan ruangan ini. Sebelum menutup pintu, sempat kulihat kau memandangiku sejenak. Lalu sebuah senyum kecil tersungging untukku, boneka kelinci kesayangan gadismu sejak berumur lima tahun dulu.


#Day41 #ODOPbatch6 #OneDayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela