Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Cokelat


 
pexels.com


      Matahari siang ini sungguh teramat panas, sama panasnya dengan hati Lila yang harus berpisah dengan ponselnya sementara waktu.
     “Ini gara-gara Dona,” gerutunya dari ruang guru sampai mushola kini.
     Seharusnya ia tidak menerima hukuman juga, ini tak adil baginya. Semalam Lila sudah bersusah payah belajar untuk ulangan sejarah hari ini. Tentu saja pagi tadi ia berangkat ke sekolah dengan santai. Awal kejadian yang menjengkelkan bermula saat Dona meminjam ponselnya mendekati jam pelajaran terakhir. Lila yang lugu hanya pasrah saja. Beberapa menit kemudian Pak Hasnan,  guru sejarah datang membawa kertas soal ulangan.
     Di tengah ujian guru dengan kumis tebal itu memergoki Dona tengah menggunakan ponsel untuk mencari jawaban. Tentu saja ponsel itu dirampas . Lila pias saat mengetahui bahwa ponsel yang tengah digenggam Pak Hasnan adalah miliknya. Ia tahu betul tabiat guru tersebut, jika ponsel sudah direbut maka barang kecil berharga itu harus bermalam di ruang guru minimal semalaman.
     Setelah bel pelajaran usai, Lila berlari mengejar Pak Hasnan. Menjelaskan bahwa ponsel itu miliknya. Namun apa daya, bahkan meskipun gadis berwajah ayu itu merengek sampai ruang guru tak ada rasa iba dari guru sejarah itu.
     “Yang dirampas adalah ponsel yang digunakan secara curang dalam ujian,” alasan itu terlontar kesekian kali, akhirnya Lila pasrah dan berjalan gontai menuju mushola.
     Lila memang sudah sholat dzuhur tadi, bahkan saat ini sudah pukul dua. Hanya saja ia memang sengaja tak menuju parkiran langsung, firasatnya mengatakan bahwa Dona akan mengiba memohon maaf di sana. Lila mencuci muka, berharap mampu mendinginkan hatinya yang kian membara. Setelah sedikit tenang, akhirnya ia memutuskan untuk pulang.
     Parkiran sudah sepi, wajar saja harusnya Lila pulang 30 menit yang lalu. Saat hendak menyalakan motor tiba-tiba seseorang memanggilnya. Lila menoleh, Disma, ketua kelasnya sudah berada di belakangnya.
     “Ini cokelat buat kamu Lil,” ujarnya menyodorkan sebatang cokelat sambil tersenyum.
     Lila hanya melongo, belum sempat ia mengucapkan terima kasih lelaki    bertubuh atletis itu sudah meminta diri untuk pergi. Sejenak hati Lila, berbunga-bunga, mimpi apa dia semalam hingga seseorang yang sangat diidolakannya memberinya sebatang coklat. Disma memang lelaki idaman di sekolah ini, selain bijak dalam memimpin, keramahan serta ketampanan yang dimilikinya tidak bisa dipungkiri. Belum lagi segudang prestasi ia kantongi. Lila senyum-senyum sendiri di sepanjang perjalanan, mendadak ponselnya yang tertahan di ruang guru tak menjadi musibah lagi baginya.

     Semalaman Lila menimang cokelat itu, tak tega ia untuk memakannya. Bahkan bila bisa ia hendak memuseumkan pemberian yang sangat berharga itu. Apa maksud Disma? Apa jangan-jangan ia diam-diam menyukainya? Lila berguling-guling malu terhadap pikirannya sendiri.
     “Ma, dulu ketika masih muda Mama pernah dapat cokelat dari cowok nggak?” tanya Lila saat makan malam.
     Mama yang sedang melahap ayam terdiam sejenak lalu tersenyum kepada gadisnya.
     “Sering , itu adalah senjata Papa kamu untuk membujuk mama saat ngambek dulu.”
     Merasa dibicarakan Papa tiba-tiba saja berdehem.
     “Memangnya Lila habis dapet cokelat dari cowok?” tanya Mama.
     “Ra-ha-sia,” bisik Lila sambil tertawa.
     Jawaban Mama membuat Lila semakin yakin dengan dugaannya. Ia  melirik sekali lagi cokelat yang kini tergeletak di meja belajarnya. Ia tersenyum, kemudian larut dalam mimpi indahnya.
     Pagi ini Lila berdandan lebih cantik dari biasanya, padahal Lila termasuk gadis yang cuek dengan penampilan. Tapi hatinya tengah berbunga, wajar saja ia ingin merayakannya. Lila tak ingin terlihat jelek di depan Disma. Sesampainya di sekolah Lila meletakkan tasnya dengan anggun. Membuat teman sebangkunya merasa ada yang aneh dari Lila. Tak lupa ia melempar senyum kepada Dona, padahal raut muka tegang tergambar jelas darinya. Lila salah tingkah saat Disma menghampirinya , kejutan apa lagi yang akan diterimanya.
     “Lil, ini ponsel kamu tadi aku ketemu Pak Hasnan di ruang guru.”
     “Oh iya, terima kasih ya ...” senyuman paling manis pun Lila lemparkan kepada pangerannya itu.
     Lila segera mengaktifkan ponselnya, ada  ratusan chat yang masuk di obrolannya. Setelah membalas pesan yang dirasa penting Lila membuka obrolan grup kelasnya. Betapa terkejutnya ia, saat mengetahui bahwa Disma memberikan cokelat untuk semua siswa si kelas ini. Hancur sudah semua bayangan indahnya.
     “Donaaaa,” teriak Lila geram. Ini semua karena ulah gadis itu.

#Day34 #ODOPbatch6 #OneDayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela