Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Bukan Jaminan


   
pixabay.com

     Sudah hampir satu setengah jam aku berada di kafe bernuansa biru ini. Satu gelas besar mango smoothie kosong tak bersisa. Terlalu manis memang, tapi saat stres seperti sekarang tentu saja terasa nikmat. Aku coba kembali melempar pandangan ke luar, berharap menemukan batang hidungmu di sana. Nihil, kamu tak kunjung datang. Puluhan kali aku menghubungimu, tapi tak ada jawaban sekali pun. Cemas, aku mulai berpikir tidak-tidak tentangmu. Tidak biasanya kamu ingkar janji seperti ini. Apakah kamu baik-baik saja?
Kamu mulai dingin, pesanku hanya sesekali terbalas. Itu pun harus menunggu seharian lamanya. Tidak seperti dulu, yang hanya dalam hitungan detik saja namamu sudah memenuhi layar ponselku. Kegagalan pertemuan kita minggu lalu adalah awal dari permainanmu ini. Sudah jelas-jelas kamu sebagai alasannya mengiyakan pertemuan itu pagi harinya, tapi dengan mudahnya kamu mengatakan kata ‘lupa’. 
Apa gerangan masalah yang menimpamu? Adakah salahku yang melukaimu? Pertanyaan itu bergantian mampir di kepalaku setiap harinya. Tidak apa-apa, itu jawabanmu. Aku mulai gusar, sudah sebulan masalah tak berujung ini menghantui hubungan kita. 
“Sudahkah kamu bosan denganku?” tanyaku sore itu setelah hampir dua bulan kita tak bertemu.
Kamu hanya diam, tak sepatah kata pun keluar dari mulutmu. Aku geram, komunikasi itu berlangsung tidak benar. Bagaimana tidak, sudah hampir lima pertanyaan kulemparkan padamu, tapi kamu bagai patung yang tak bersuara. Hingga akhirnya aku memberanikan diri menanyakan hal yang paling menakutkan bagiku.
“Apa kamu sudah mencintai gadis lain?”
Untuk sesaat kamu mengangkat kepala yang sedari tadi menunduk. Kedua matamu menatapku hampa, sebuah kebimbangan terpancar di sana. Sebenarnya sudah kutemukan jawabannya, tapi aku hanya ingin memastikan itu benar adanya.
“Katakan saja, aku tak apa.” Aku mencoba tenang, sebuah senyum kecil kupaksa hadir. Beberapa menit kemudian kamu mengangguk. 
“Maafkan aku.” Akhirnya kamu bersuara.
Aku menghela napas panjang. Sakit, tentu saja hatiku terasa sakit sekali. Tiga tahun kita bersama dalam hubungan yang baik-baik saja. Namun kini kau mencoba merusaknya dengan mendatangkan orang ketiga. 
“Baiklah, kalau memang demikian berarti kita harus pisah.” Begitulah perjanjiannya, jika satu di antara kita memilih berpaling dengan yang lain maka hubungan ini harus diakhiri.
“Maafkan aku,” katamu sekali lagi sambil menunduk kembali.
“Tak apa, semoga kamu bahagia ya,” ucapku sebelum meninggalkanmu seorang diri.
Tidak ada adegan kamu mengejarku seperti yang kulihat di sinetron. Tidak ada kalimat ‘aku akan menjelaskannya’ yang keluar dari mulutmu. Ya ... hubungan kita berakhir semudah ini. Benar adanya, selama apapun kita pacaran tak menjadi jaminan kita akan bersama selamanya.

#Day29 #ODOPbatch6 #OneDayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela