Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Ah Bohong


        Memiliki seorang kakak dengan anak pertama yang masih balita, membuat saya sering mendengarkan celotehan si ibu baru tentang parenting. Kemarin pun begitu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba saja kakak bercerita tentang seorang anak yang dikenalnya mulai memperlihatkan dampak dari kesalahan pola asuh yang tak disadari. Sebut saja si anak bernama Bunga. Gadis yang saat ini duduk di bangku SD sejak kecil tinggal hanya bersama ayahnya, karena ibunya bekerja di luar negeri. Hal itu tentu saja membuat Bunga sangat dekat dan bergantung dengan ayahnya, sehingga ke manapun ayahnya pergi Bunga selalu merengek untuk ikut.
            Dalam kondisi tertentu, tentu saja sang ayah tak bisa menuruti keinginan Bunga. Akhirnya sang ayah berbohong agar Bunga bisa mengerti. Kebohongan ini dilakukan berulang-ulang, tak terasa hal itu terkam oleh pola pikir Bunga. Akibatnya, ketika Bunga dinasehati ia akan membantah dengan ucapan “Ah bohong”. Hal ini tentu saja membuat saya miris, akhirnya saya mencoba mencari tahu lebih jauh tentang dampak berbohong kepada anak.

pixabay.com

            Sebuah artikel dalam situs dokteranak.org menyebutkan setidaknya ada 6 dampak negatif berbohong kepada anak. Berikut penjelasannya:
1.    Tidak Percaya
Jika orang tua sering berbohong, maka anak tentu akan susah untuk percaya kembali. Sehingga jika orang tua berkata serius hanya akan dianggap main-main oleh anak. Bisa jadi ini merupakan penyebab anak melawan orang tua. Karena itu usahakan untuk memahami pentingnya menanamkan kejujuran pada anak dan terbuka pada anak supaya di kemudian hari tidak timbul sifat tidak percaya dari anak pada orang tua.
2. Trauma
Orang tua yang berbohong juga dapat menimbulkan penyebab stres pada anak. Seringkali anak berpikir bahwa orang tuanya akan ingkar janji. Oleh karena itu anak menjadi berpikiran negatif dan malah menjadi celah anak untuk ikut tidak jujur. Karena itu usahakan selalu jujur pada anak dan jangan menjanjikan sesuatu yang tidak dapat ditepati.
3. Mengikuti
Dampak berbohong kepada anak yang fatal yaitu membuat hal tersebut akan ditiru oleh anak. Figur atau contoh terdekat anak pastinya yaitu orang tua. Karena itu parameter anak melakukan sesuatu adalah perlakuan orang tuanya. Jika orang tua sering bohong bisa jadi anak akan ikut sering berbohong. Tentunya ini akan membawa efek seperti efek buruk memarahi anak di muka umum dimana hasilnya bisa jadi tidak baik di masa yang akan datang.
4. Menyepelekan
Jika selalu dibohongi pada akhirnya anak akan menyepelekan orang tua. Karena beranggapan bahwa orang tua tidak pernah menepati janji. Sehingga jika pada suatu saat yang dinyatakan adalah hal penting, maka hal tersebut akan tidak dihiraukan anak. Karena itu sebaiknya jangan sampai berbohong dan katakan saja apa adanya pada anak. Salah-salah hal itu memicu penyebab anak melawan orang tua.
5. Merusak Karakter
Yang paling utama, jika anak melihat orang tua yang berbohong maka karakter anak akan mengikuti orang tuanya. Sehingga jika sejak kecil terbiasa mengetahui kebohongan, di saat dewasa bisa menjadi penyebab anak sering berbohong. Tentu ini bukan karakter yang diinginkan. Sementara merubah karakter di masa depan akan jauh lebih sulit. Oleh karena hal ini sebaiknya selalu tekankan kejujuran pada anak. Usahakan untuk tidak membohongi anak sekecil apapun.
6. Penakut
Anak yang sering dibohongi bisa jadi penakut sehingga butuh cara mengatasi rasa takut pada anak. Karena seringkali kebohongan orang tua ditujukan untuk hal negatif. Misalnya untuk mengancam saat anak nakal. Otomatis pola pikir anak akan berubah sesuai arah kebohongan orang tua. Sehingga anak akan menjadi penakut akibat ucapan kita sendiri.

Duh ternyata banyak menyeramkan sekali ya dampak dari sikap berbohong kepada anak. Padahal kadang kita melakukannya karena terpaksa agar si anak bisa dibujuk. Nah hal ini tentu saja menjadi tantangan baru bagi kita untuk berkata jujur kepada si anak. Mungkin lebih sulit, tapi mengingat dampak kebohongan yang begitu pahit masihkah kita berkelit?

#Day31 #ODOP6 #OneDayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela