Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Terlalu Berharap

pixabay.com/darksouls1
Sudah pukul 07.00, gadis itu belum juga beranjak dari duduknya. Salma masih asyik memainkan tali sepatu. Padahal sebenarnya sudah ia kencangkan berkali-kali. Hingga akhirnya ia mendapati ibu kos yang tengah menyapu menatapnya curiga. Tidak ingin dicecar dengan pertanyaan, gadis ayu itu pun mulai melangkahkan kakinya. Di luar gerbang Salma menghentikan langkah kakinya, kedua matanya melirik jam kecil yang melingkar di tangan kirinya.
“5 menit lagi,” gumamnya.
“Okay, berarti kecepatan langkah kakiku harus dikurangi,” jawabnya atas pertanyaan yang dibuatnya sendiri. Hatinya harap-harap cemas, semoga keinginannya pagi ini terwujud. Tanpa sadar ia senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan, membuat orang-orang yang melihatnya heran. Tiga meter lagi, Salma mulai celingukan mengintai sebuah gang yang masih lengang. Tidak ada tanda-tanda, kembali ia melirik jam tangannya. Hatinya mulai gusar, mungkin belum beruntung, pikirnya.
Gadis itu akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya meskipun kecewa. Jalan raya semakin ramai. Sopir angkot mulai berlomba mencari penumpang, beberapa kali Salma mendapat tawaran untuk menaikinya. Lagi-lagi ia menggeleng. Tiba-tiba Salma menghentikan langkah kakinya, telinganya mendengar sesuatu, segera ia menengok. Ia mendapati seseorang bertubuh tinggi itu berjalan santai di belakangnya. Sebuah senyum manis terukir di wajah lelaki dengan hidung mancung itu.
“Hai, Sal, bareng lagi nih kita,” ujar lelaki itu menghampiri Salma yang mematung.
“Eh i.. iya Kak,” Salma salah tingkah, merasa tertangkap basah karena hampir setiap hari sengaja mengatur jam keberangkatannya agar bisa bertemu dengan lelaki idamannya itu.
“Oh ya, mau ngingetin nanti sepulang kuliah kita kumpul di basecamp ya, kita lanjutin musyawarah agenda bakti sosial minggu depan,”
“Emmm iya Kak,”

“Jangan lupa siapin file proposal pengajuan dana ya Ibu sekretaris, kalo ada kesulitan bilang aja”
Salma tersipu, meskipun itu sebuah perintah tapi panggilan khusus untuknya membuatnya berbunga. Selain bijak dalam membuat keputusan Ketua Himpunan Peduli Pendidikan itu terkenal sangat menghargai anak buahnya. Ia tak membeda-bedakan sikap baiknya pada siapapun, entah itu terhadap teman satu angkatan atau juniornya seperti Salma. Hal itu tentu saja membuat gadis berlesung pipit itu semakin mengaguminya.
***
Salma tersenyum mangingat kelakuan konyol yang hampir dilakukannya setiap pagi kala kuliah dulu. Ia masih ingat betul perasaan bahagianya ketika menemukaan pujaan hatinya keluar dari gang menuju kampus di waktu yang tepat menurut perhitungannya. Lelaki itu bernama Afkari, sang pujaan hati. Namun kini sepertinya kebahagiaan yang tengah ia alami mampu mengalahkan semua itu. Bagaimana tidak, lelaki yang amat dikaguminya itu kemarin malam tiba-tiba saja menghubunginya secara pribadi, mengajaknya bertemu hari ini. Kebetulan ia sedang berada di kota di mana Salma tinggal, begitu alasannya. Gadis kecil itupun menyetujui, lagipula sekarang hari Minggu jadi tidak ada salahnya untuk keluar dari rutinitas kantornya. Salma mulai memikirkan tujuan dari pertemuan yang akan segera ia hadapi. Jujur saja ia sudah jatuh cinta padanya sejak lama, jika dihitung-hitung sudah lima tahun lamanya. Namun ia tak berani menungkapkannya, Salma memilih untuk mencintainya dalam diam, ia hanya berani mencurahkan perasaannya lewat do’a panjang kepada Sang Khaliq.
Lamunan Salma tiba-tiba buyar ketika sopir dari mobil yang tengah ia naiki berkata bahwa mereka sudah sampai. Ia menghela napas panjang, merasa siap dengan semua ini. Gadis berkerudung ungu itu mulai mencari-cari lelaki di sebuah restoran yang cukup luas. Akhirnya ia menemukan orang yang ingin ia temui di ujung ruangan. Tidak cukup sulit baginya untuk mengenali, lelaki itu hampir tak berubah sama sekali. Masih sama seperti seorang pangeran yang ia tunggu setiap pagi. Ia mendengar suara halusnya mempersilakannya untuk duduk. Obrolan antar mereka berlangsung menyenangkan, kebanyakan tentang peristiwa lucu yang mereka alami semasa satu organisasi dulu.Tak terasa piring yang semula penuh makanan kini kosong, bahkan minuman dalam gelas mereka hampir menyusul untuk pergi.
“Oh ya Sal, sebenernya aku menemuimu karena suatu hal,”
“Emmm hal apa itu Kak?”

Sorot mata gadis mungil itu menangkap tangan lelaki berkacamata itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Ini buat Salma, khusus diberikan langsung untuk Ibu Sekretaris,”
Salma kebingungan, sebuah gulungan kertas warna cokelat bercorak dengan hiasan pita emas itu kini berpindah ke tangannya. 
“Acaranya minggu depan Sal, dateng ya Kakak,” lelaki itu tampak bangga mengucapkannya “oh ya, anggap saja acara makan hari ini sebagai ganti untuk pemenuhan janji Kakak dulu untuk nraktir kamu karena udah bantuin pas sidang skripsi ya,”
Salma mematung.
“Kamu kenapa Sal? Marah ya karena baru Kakak traktir hari ini. Maaf ya, oh ya awalnya calon istri Kakak mau ikut tapi berhubung ada keperluan mendadak jadinya sendirian deh hehe”
DEG. Salma melemas, seakan bumi seluruh penghuni bumi menertawakannya. Kisah cintanya berakhir tragis, hatinya teriris, ingin rasanya ia menangis. Namun ia berusaha kuat menahannya. Ia menegakkan wajahnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk tersenyum tertahan.
“Nggak papa kok Kak, selamat ya...,”
“Ini berkat doa kamu juga kok Sal, cepetan nyusul ya hehe”
Salma tak tahan lagi, segera ia meminta diri untuk pergi. Meski lelaki itu tampak kebingungan, Salma tak peduli.
Gadis berkerudung merah jambu itu menangis sejadi-jadinya. Ternyata selama ini lelaki itu hanya menganggapnya sebagai sekretaris, tak lebih dari itu. Kisah cinta dalam diamnya berbuah pahit, bahkan sangat pahit. Sekali ia merasa marah dengan Sang Maha Kuasa, ia merasa selama ini tiada bosan menyebut nama Afkari dalam doa panjangnya. Sejenak kemudian ia tertegun, ia beristighfar dengan apa yang tengah ia lakukan. Sebuah ingatan akan bait doanya melintas.
“Berikanlah hamba jodoh yang terbaik Ya Allah,”
Mungkin ini adalah jawabannya, Allah menjawab doanya. Afkari bukanlah jodoh terbaik dari Allah untuknya, ia akan bertemu dengan jodoh  terbaik dari-Nya jika mau bersabar sebentar lagi. Setitik pemikiran tu seakan merangkul hatinya yang pilu, ia terhibur, meski akhirnya menangis lagi.


#Day27 #ODOPbatch6 #OneDayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela