Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Tak Harus Sempurna




Ibarat angin segar yang hadir saat mimpiku mulai terasa hambar, begitu aku menyebutnya. Sebuah iklan mampir di ponselku, membawa berita bahwa aku bisa menjadi penulis dalam sekejap mata. Namaku akan tercantum dalam sampul depan buku bersama penulis lainnya. Nantinya aku akan mendapatkan satu buku cetak.  Syaratnya aku harus menulis sebuah karya sesuai tema dan membayar sejumlah uang. Tanpa pikir panjang aku pun memenuhinya. Malam demi malam aku lalui untuk mencari ide tulisan yang berkesan. Ini calon buku pertama aku loh meskipun buku antologi toh namaku akan tercantum di sana, begitu pikirku kala itu. Mendekati deadline, sebuah tulisan yang sudah kubaca berulang aku kirim lewat email. Rasanya sedikit lega, yes I did it!
Hari yang aku tunggu pun tiba, buku perdana aku mampir di depan mata. Senang awalnya sih iya. Sejenak aku timang-timang buku itu, sekejap jas komentator tak sengaja aku pakai.
“Kok warna desai sampulnya blur ya.”
“Loh kok tidak ada ISBN nya ya.”
Aku mencoba menenangkan diri, “It’s okay.”
Segera aku buka halaman yang berisi karyaku. Kubaca tulisanku yang cukup sederhana itu. Tiba-tiba aku merasa kesal, karena ada typo di sana dan tidak diperbaiki. Kekesalanku bertambah saat mengetahui bahwa ada kalimat yang terpotong dalam satu paragraf dan hal itu membuat isi cerita menjadi rancu. Aku membuka kembali file yang aku kirimkan, dan di sana jelas sekali bahwa kalimat itu masih lengkap. Segera aku hubungi pihak admin perihal keluhanku. Dia menyampaikan permintaan maaf dan menyebutkan bahwa itu adalah kelalaian editor.
Sedikit kebahagiaanku mulai memudar karena buku yang diterbitkan di luar ekspektasiku. Setelah sedikit tenang, aku pun bertanya dalam hati. Tentang niat awal yang seharusnya lebih dulu aku penuhi. Untuk apa kamu menulis? Untuk apa kamu menerbitkan buku? Karya pertama tidak harus sempurna bukan? Aku pun tersadar saat seorang mentor dalam kelas menulis mengatakan bahwa kamu boleh saja memiliki tujuan menjadi terkenal setelah menulis buku, tapi kamu pun harus bersiap menahan  sakit yang luar biasa jika itu tidak terwujud. Akan lain halnya bila tujuan menulis kamu adalah untuk menebar manfaat. So, baiklah aku akan baik-baik saja karena aku sudah menulisnya dengan sepenuh hati, dengan harapan bahwa akan ada kebaikan yang dapat dipetik setelah membacanya nanti.  

#Day12 #ODOPbatch6 #OnedayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela