Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Serupa Hadiah


Sepertinya aku sedang tidak beruntung hari ini, aku tidak menjumpai satu teman pun untuk nebeng sampai rumah. Biasanya aku pulang-pergi ke kampus menggunakan angkot. Tetapi saat ini kondisi keuanganku sedang sangat menipis. Tabunganku ludes untuk membayar hutang, hutang yang kala itu terjadi saat kebutuhan mendesak muncul tanpa perencanaan sebelumnya. Uang di dompet juga tinggal dua belas ribu. Padahal saat ini adalah awal bulan, artinya kehidupan yang harus aku biayai masih tiga puluh hari lagi sebelum uang tunjangan berikutnya turun. Timbul pikiran untuk meminta uang kepada kakak. Tetapi niat itu cepat-cepat aku urungkan, karena mengingat kondisi kakak saat ini sedang pas-pasan.
Kegalauan itu semakin menjadi, tiba-tiba aku mengingat pesan dari salah satu sahabatku. Pasti ada sesuatu yang masih bisa disyukuri sepahit apapun kondisi yang sedang kita alami. Akhirnya aku mencoba untuk bersyukur, meskipun tidak punya uang tapi setidaknya aku tidak punya hutang lagi. Jadi kalo suatu saat nyawanya diambil, tidak ada hutang yang masih aku tanggung. Pikiran itu sedikit menenangkan hatiku.
          Hari-hariku berlangsung seperti biasa, aku mencoba mananamkan pikiran positif bahwa Allah akan mencukupi kehidupanku. Sampai pada suatu masa aku iseng merogoh saku jaket yang menggantung di kamar. Betapa terkejutnya aku menemukan lembaran uang ratusan ribu di sana. Aku sedikit heran uang siapakah ini? Setelah berpikir cukup lama akhirnya aku mengingat bahwa itu adalah uangku sendiri yang saat itu sengaja aku masukkan ke saku jaket karena tidak ingin ribet membawa dompet saat belanja. Aku mendadak heran, aku sudah memakai jaket ini hampir seminggu tapi ia tidak menyadarinya. Bahkan hari Minggu kemarin aku mencucinya, beruntungnya uang-uang itu masih utuh.
          Rasa syukur akhirnya terluncur dari hatiku yang paling dalam. Memang uang itu adalah uangku sendiri. Tapi ia hadir di saat yang sangat tepat. Mungkin jika aku sudah mengetahui adanya uang di jaket sejak dari awal bulan lalu, aku tidak akan merasakan bagaimana cara hidup dalam dalam kepasrahan bahwa Allah pasti akan mencukupi. Mungkin uang itu akan menjadi biasa saja jika aku temukan sejak lalu, berbeda seperti saat yang terasa serupa hadiah yang hadir di waktu yang tepat. Ahh.. Allah betapa rencana-Mu sungguh indah.

NB: Sebuah cerita di masa lalu yang kupoles sedemikian rupa, semoga menginspirasi ^-^

#Day25 #ODOPbatch6 #OneDayOnePost


Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela