Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Caramu Mencintaiku




15 menit sudah aku berada di dalam bus dengan kursi yang mulai usang itu. Aku menengok ke belakang, hampir seluruh kursi terisi. Beberapa detik setelah seorang gadis dengan ransel hitam duduk di sampingku, bus kami akhirnya perlahan meninggalkan hiruk pikuk terminal Purabaya. Aku mulai menyandarkan kepala, suara alunan musik menemani keasyikanku memandangi jalanan di luar jendela. Aku tersenyum, dulu ketika pertama kali datang ke kota ini gedung-gedung itu tampak sangat mengagumkan. Setelah beberapa tahun bertemu, aku semakin akrab dengan bentuk, warna, dan posisi mereka berdiri, rasa kekagumanku pun belum pudar sama sekali. Kini mereka seolah melambaikan tangan padaku, mengucapkan kalimat sampai jumpa tiga hari lagi. Lamunanku buyar saat gadis di sampingku menepuk pundakku. Aku menoleh, kulihat pak kondektur sudah bersiap meminta ongkos perjalananku.
“Tuban Pak,” aku menyodorkan uang pas yang sudah kusiapkan di saku jaket. Bapak dengan kumis tebal itu menukarnya dengan karcis dan segera beralih ke penumpang lain.
“Mbak dari Tuban mana?” gadis berkerudung merah jambu itu memulai percakapan.
“Widang Mbak, Mbak sendiri dari mana?” tanyaku sambil melepas headset yang sudah kupasang sejak memasuki bus tadi, sebisa mungkin aku mencoba menghargai orang lain yang berbicara denganku.
“Saya dari Tambakboyo Mbak, lagi kuliah ya Mbak?” tuturnya dengan logat Jawa yang masih kental.
“Owalah dari daerah Tambakboyo ya, iya Mbak saya masih kuliah.”
 Obrolan kami berlangsung cukup panjang. Setelah berkenalan akhirnya aku mengetahui bahwa gadis bernama Risti itu baru berkuliah satu semester. Kami saling bercerita tentang pengalaman kami selama tinggal jauh dari keluarga.
“Wah saya biasanya pulang tiap satu minggu sekali Mbak,” ujarnya sambil memperbaiki posisi duduknya.

Aku tersenyum kecut, selama tiga setengah tahun kuliah jumlah kepulanganku ke kampung halaman hampir bisa dihitung dengan jari. Padahal lama perjalanan yang harus kutempuh kurang lebih hanya tiga jam saja. Saat liburan semester datang aku pun girang, bukan karena akan pulang tapi itu adalah waktu yang tepat untuk mencari pekerjaan sampingan lebih banyak lagi. Memang benar aku beruntung mendapatkan beasiswa selama kuliah, tapi aku masih harus bersusah payah mencari rupiah untuk bisa bertahan hidup jauh dari rumah. Sejak kelas 1 SMP, atau lebih tepatnya setelah Bapak meninggal hampir seluruh biaya pendidikanku dicukupi oleh Mbak Mayang, rasanya sudah tidak pantas lagi bila aku terus menerus menjadi beban bagi kakak perempuanku yang sudah berkeluarga itu.
“Orang tua Mbak over protective begitu juga tidak sama Mbak?” tanya Risti mengagetkanku.
“Maksudnya?”
“Yaaa ... seperti Ibu saya tiap hari telepon minimal tiga kali sudah seperti minum obat saja,” keluhnya.
“Oh ... namanya juga jauh dari anak,” jawabku pendek.
Dalam hati aku mendadak iri dengan gadis berbulu mata lentik ini. Boro-boro tiga kali sehari, ibuku hampir tidak pernah menghubungiku selama aku di perantauan. Memang beliau tidak memiliki telepon genggam. Tapi setidaknya toh kan bisa minta tolong Mbak Mayang yang tinggal tepat di samping rumah. Sesekali jika kakak dengan watak lembut itu menelepon, ingin rasanya mendengar kalimat ‘Ibu tanya kabarmu dek atau Ibu kangen’ namun sepertinya itu harapan yang sia-sia. Ketika aku berada di rumah ibuku pun tidak banyak bicara. Beliau tidak pernah menanyakan perkembangan kuliahku.
Namun kondisi itu sebenarnya sudah tak asing lagi bagiku. Pernah ketika masih kecil aku menangis berjam-jam setelah penerimaan rapor, bukan karena aku tak naik kelas atau karena dimarahi Ibu karena nilai jelek. Tapi karena kala itu aku mendapatkan peringkat pertama, sebab tahu Ibu tidak akan bertanya akhirnya aku memberitahunya dengan harapan akan terlontar pujian darinya seperti yang diucapkan oleh Ibu dari teman-temanku. Tapi pada kenyataannya Ibu sama sekali tidak tertarik, beliau bahkan meninggalkanku sendirian tanpa menyentuh raporku sama sekali. Sikap Ibu yang tak acuh denganku membuatku tidak pernah betah berada di rumah. Jika saja Mbak Mayang tidak memintaku untuk pulang mungkin detik ini aku masih berada di dalam kamar kos kesayanganku.
Aku melirik Risti yang mulai memejamkan matanya, mungkin ia kelelahan setelah berceloteh hampir satu setengah jam lamanya. Aku mulai memutar kembali lagu yang sempat terhenti tadi, jari-jariku sibuk memainkan ponsel, sampai akhirnya tidak terasa bus kami sudah memasuki Kota Bumi W ali. Risti mulai menggeliat dan membuka matanya. Setelah hampir sampai aku meminta izin untuk turun terlebih dulu. Kulihat suami Mbak Mayang telah menunggu di samping gang dengan motornya.
Sesampainya di rumah aku melihat ibuku tengah memberi makan ayam-ayamnya. Setelah memberi salam dan mencium tangannya aku masuk rumah tanpa ada obrolan apapun. Aku merebahkan diriku di kasur bermotif bunga tulip itu, ku pandangi kamar bercat ungu itu. Tidak ada sarang laba-laba sama sekali, sepertinya Ibu rajin membersihkannya. Tak terasa aku tertidur pulas.
Sekitar dua jam kemudian aku terbangun, rasa haus memaksaku menuju ruang makan untuk mencari air. Semerbak aroma lezat makanan tiba-tiba mampir di hidungku. Aku mencoba mengintip makanan yang tertutup tudung saji di atas meja, ternyata Ibu masak rendang hari ini. Perutku yang keroncongan pun berteriak untuk diisi. Tapi aku tidak menurutinya, aku lebih memilih untuk mandi terlebih dahulu. Meskipun bayangan makanan favoritku itu menggodaku puluhan kali.
Setelah menghabiskan dua piring nasi, rasanya aku masih tidak ingin berhenti. Aku sedikit kaget ketika Ibu tiba-tiba saja berada di sampingku. Ah sepertinya aku keasyikan makan , hingga saat Ibu masuk ruangan itu pun aku tak tahu. Ternyata Ibu hendak menyuruhku beli obat nyamuk di toko Bu Haji, aku bergegas mencuci piring dan menuruti perintah Ibu.
“Wah kapan kamu pulang Nduk?” tanya Bu Haji begitu aku memasuki tokonya.
“Tadi siang Bu  Haji,” jawabku sambil tersenyum.
“Walah ... rendangnya pasti sudah dimakan ya?”
Mendadak aku salah tingkah, aku membalikkan badan mecoba mengecek bau mulutku. Ternyata tersisa bau rendang di sana, pantas saja Bu Haji tahu. Aku hanya meringis malu.
“Kemarin Ibu kamu jual ayam ke saya, katanya uangnya mau dibuat beli daging buat masak rendang kanggo anak rujune sing ayu dewe[1],” lanjut Bu Haji berkelakar.
Aku sedikit lega atas alasan yang barusan kuterima, artinya bau mulutku baik-baik saja. Tapi aku sedikit terkejut dengan pernyataan bahwa Ibu menjual ayamnya demi memasakkan aku rendang. Padahal butuh waktu lama untuk menunggu ayam-ayam itu tumbuh besar.
 “Eh kamu mau beli apa?” pertanyaan Ibu berkerudung lebar itu mengagetkanku.
“Beli obat nyamuk Bu.”
“Walah, obat nyamuknya tadi kelupaan tidak di bawa ke toko, biar diambil ke rumah sebentar ya,” Bu Haji menjelaskan.
“Baik Bu,”
“Sri ambilkan obat nyamuk di rumah Sri, saya taruh di ruang tengah atau tanya saja sama Pak Haji,” perintah Bu Haji pada pelayan toko yang dari tadi sibuk membersihkan debu-debu yang menempel di rak. Kemudian permpuan bertubuh kurus itu segera pergi menuju rumah Bu Haji yang hanya berjarak 200 meter dari toko. Sembari menunggu, Bu Haji melanjutkan obrolannya. Beliau menanyakan tentang perkembangan kuliahku, bahkan beliau pun tahu bahwa aku menerima beasiswa di kampus.
“Alhamdulillah, doa Ibu kamu terjawab ya Nduk,”
“Maksudnya Bu?”
“Ya kata Ibumu kamu ingin sekali bisa kuliah sejak masuk SMA, tapi ya namanya bapak kamu sudah tidak ada beliau khawatir tidak bisa mewujudkannya,” Bu Haji memperbaiki posisi duduknya, “tapi Ibumu itu wanita kuat Nduk, beliau mengumpulkan sedikit-demi sedikit uang upah buruh tani di sawah Pak Haji katanya buat kuliah kamu.” lanjut Bu Haji.
“Saya yakin setiap hari Ibumu mendoakan kamu Nduk, lha wong ketika saya mau berangkat haji dulu, Ibu kamu titip doanya buat kamu kok bukan buat dirinya sendiri.”
Aku terdiam mendengar cerita Bu Haji, memang benar waktu pertama kali berangat kuliah dulu Ibu memberiku sejumlah uang yang cukup besar. Kini aku baru mengerti jika uang itu adalah hasil tabungan Ibu sejak lama. Yang membuatku semakin bersalah adalah aku merasa pongah bahwa beasiswa yang kudapatkan adalah hasil dari jerih payahku sendiri, tanpa menyadari ada doa Ibu yang menjadi sebab itu semua terjadi.
Setelah kuterima obat nyamuk yang aku pesan, aku segera pulang. Di perjalanan adzan maghrib berkumandang, kupercepat langkah kakiku. Aku bergegas memasuki rumah hendak memberikan pesanan Ibu. Saat aku melewati ruang tengah tak sengaja aku melihat pintu kamar Ibu sedikit terbuka, aku mencoba mengintipnya. Di sana tampak Ibu sedang duduk bersimpuh berbalut mukenah putih, sepertinya beliau baru saja selesai sholat. Tangannya menengadah, melantunkan doa panjang kepada Sang Pencipta. Aku mematung, tak terasa air mata penyesalan jatuh di pipiku. Ibu, maafkan aku telah kecewa karena kau tak pernah menanyakan kabarku. Ibu, maafkan aku yang lupa berterima kasih atas ketulusanmu yang tiada bosan menyebut namaku dalam doamu.

[1] Untuk anak bungsunya yang paling cantik

#Day15 #ODOPbatch6 #OneDayOnePost




  

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela