Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Kasmaran



"Hei kenapa kamu terus menatapku seperti itu?"
Aku masih membisu, tak ingin menanggapinya lagi. Kupalingkan mukaku darinya, menatap jendela kamarku yang sedikit berdebu.
"Sudahlah, tak perlu gengsi untuk menerimaku lagi."
Aku terusik, rengekannya semakin membuataku jengkel saja.
"Haha... jujur saja kau penasaran denganku kan?"
Aku menyerah, tak ingin diganggu olehnya lebih jauh lagi. Kulemparkan ia ke dalam laci meja. Amplop cokelat bergambar hati yang berantakan, bahkan menurutku bentuknya sudah tak menyerupai bentuk hati lagi. Ia sungguh payah dalam menggambar.
“Ini semua gara-gara ulat bulu itu,” aku menggerutu kesal.
Yaa ... ulat bulu yang tanpa permisi jatuh di tanganku saat pelajaran olahraga. Tak tahan dengan rasa gatal yang kuterima aku menggaruknya hingga bentolan-bentolan itu merambah ke mana-mana. Melihat apa yang terjadi padaku, guruku menyuruhku untuk pergi menuju UKS. Sialnya saat itu semua temanku sedang asyik bertanding bola voli mau tak mau aku harus menuju ruangan di pojok sekolah itu sendirian. 
Sepi, ruangan itu tak berpenghuni. Aku melepas sepatuku dan masuk ke dalamnya. Aku mulai sibuk mencari minyak kayu putih, berharap bisa meringankan deritaku ini. Namun tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari balik tirai yang sedikit tertutup.
“Cari apa kamu?” ia menatapku serius.
Aku tak mengenalinya, tapi sepertinya wajahnya tak asing. Jika kuingat-ingat ia mirip dengan salah satu siswa yang berdiri di barisan terpisah saat upacara hari Senin kemarin. Ia berdiri paling depan, memasang muka merasa tak menyalahi aturan. Berbeda dengan siswa lainnya yang tertunduk malu, atau mungkin karena takut akan hukuman yang akan diterima.
“Woy, kok malah bengong, cari apa kamu?”
Aku gelagapan, hampir lupa dengan apa yang ku cari karena sibuk mengingat tentangnya.
“Cari itu,” kulihat tangannya memegang obat yang sedang aku cari.
“Oh cari ini ...” ia tersenyum mencurigakan.
Aku mencoba meraihnya, tapi ia malah memindahkan tangannya ke belakang.
“Kalo kamu mau ini ada syaratnya, sebutkan nama dan kelas kamu,”
Aku mulai kesal, merasa dipermainkan. Apalagi dengan permintaan konyolnya. Aku mengambil alternatif untuk mencari obat yang lain. Tapi apa daya mereka yang kubutuhkan tidak ada.
“Udahlah, mau kamu ubek-ubek seluruh UKS ini nggak bakalan ada, pake ini aja deh,” ia semakin menjengkelkan.
          Rasa gatalku tak bisa diajak kompromi, aku mencoba merebut obatnya lagi.
“Sebutkan nama dan kelas,” ia tetap bersikukuh dengan permintaannya.
Karena semakin menderita, akhirnya aku menyerah.
“Riana kelas XI A.”
Ia tersenyum riang, merasa menang dalam permainan ini. Kemudian ia meninggalkanku sendirian.
Sejak pertemuan itu, hampir setiap pagi datang amplop aneh di laci mejaku. Amplop itu berisi puisi-puisi cinta yang yang membuatku muak untuk membacanya.
Teman-temanku yang mengetahuinya langsung berebut untuk membacanya. Ia menyebut dirinya ‘Pria UKS’, sontak banyak yang mengira itu berasal dari anggota pengurus UKS di sekolah ini.
          “Cie Riana, cowok kamu so sweet banget sih ...” seorang temanku meledekku.
          So sweet apanya coba, yang ada malah kelihatan jadul. Hari gini, saat gawai hampir sudah dimiliki semua orang ia malah memilih mengirim surat.
Semakin hari ia semakin rajin mengirimnya. Entah bagaimana caranya, bahkan aku pernah berangkat pagi-pagi atau pulang hampir petang, berharap bertemu dengannya lalu memintanya untuk berhenti melakukan hal bodoh ini. Tapi sayangnya aku tak pernah bertemu.
Ini adalah amplop ke tiga puluh tiga yang aku terima. Artinya sudah sebulan lebih ia menyuratiku. Biasanya aku langsung membuka amplop-amplop yang aku terima. Tapi entah kenapa kali ini aku malas untuk membacanya. Sudah seminggu amplop itu menunggu. Anehnya selama itupun tak ada amplop baru yang bertamu, sepertinya ia tahu bahwa suratnya belum aku baca. Akhirnya pertahananku goyah, segera aku raih amplop itu dan membukanya.
Maaf telah mengganggumu selama ini
Hanya kalimat itu yang tertulis di dalamnya. Terdengar seperti kalimat permintaan maaf dan perpisahan sekaligus. Aku pikir aku akan girang saat membacanya, namun ternyata rasa kehilangan datang menghampiriku.

#TantanganODOP1 #onedayonepost #odopbatch6


                                                                                     

Komentar

  1. bagus sedih tapi
    Kita menyadari bahwa hati kita menyayangi seseorang saat dia meninggalkan kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya mba, setelah ditinggalkan baru merindukan 😥

      Hapus

Posting Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela